Ramai Peziarah Jelang Ramadhan, Berkah Penjual Bunga dan Parkir Dadakan

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM – Menjelang Ramadhan, sejumlah tempat pemakaman umum (TPU) di Kabupaten Kudus, ramai oleh masyarakat yang berziarah. Hal itu membawa berkah bagi penjual bunga yang mangkal di pintu masuk pemakaman.

Peziarah itu ingin mendoakan sanak keluarganya yang telah meninggal dunia. Seperti di TPU Ploso, Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus, Selasa (15-5-2018).

Di sepanjang jalan depan pemakaman tersebut, dipenuhi para penjual bunga mawar, melati, dan kantil yang berjejer rapi.

Penjual bunga dadakan ini sudah menjadi tradisi dan muncul beberapa hari menjelang puasa yang selalu dicari warga untuk nyekar atau ziarah ke makam keluarga.

Pantauan isknews.com, Banyak penjual yang memanfaatkan momentum itu. Tidak sedikit juga banyak penjual dadakan yang sengaja hanya mencari keuntungan dan berjualan di depan TPU.

TRENDING :  Minimalisir Dampak Bencana, BPBD Kudus Gelar Edukasi ke Masyarakat

Para penjual bunga itu menjajakan bunga dalam bentuk kantong kresek, keranjang maupun dalam bentuk sudah dibungkus daun pisang untuk nyekar.

Mereka memang rutin membuka lapak dan berjualan bunga setiap menjelang puasa dan lebaran. Tentunya selain hari biasa di Kamis sore atau hari Jumat.

Sebut saja Nining (38) dan Warni (75), sama-sama warga Jetak Kembang ini telah menekuni jualan bunga masing-masing sudah 6 tahun-an dan 30 tahun-an. Rata-rata mereka menekuni ini dari usaha turun temurun yang sudah dijalani orang tuanya. “Menekuni ini dari usaha ibu saya yang sudah puluhan tahun disini, saya sebagai anak hanya meneruskannya mas,” kata Nining saat ditanya isknews.com

TRENDING :  Siaga 24 Jam, 300 Relawan Siap Bantu BPBD Tangani Bencana Alam

Lebih lanjut, Penjualannya pun dipatok dengan harga bervariasi, harga bunga dibungkus daun pisang ukuran kecil yang biasanya seribu, dijualnya 2 ribu, untuk ukuran sedang dibandrol 10 ribu, dan ukuran besar bisa 20 ribu bahkan lebih, karena sesuai permintaan pembeli.

Dikatakan Nining, Kembang yang laris dibeli yaitu dari campuran bunga kenanga, mawar, melati. Biasanya tak jarang juga dicampur dengan rajangan daun pandan.

Meski dengan keuntungan tak seberapa, namun momentum tahunan itu selalu mereka manfaatkan untuk mengais rezeki dengan berjualan kembang tabur.

Sementara salah satu pembeli, Yanto (26) warga Desa Pasuruan Lor, mengaku selalu datang ke TPU Ploso ini, setiap menjelang puasa maupun lebaran. Ia mengaku terbantu dengan adanya penjual kembang tersebut, karena dirasa tidak perlu jauh-jauh untuk mencari penjual bunga. Cukup membawa uang secukupnya maka dapat membeli kembang dan nyekar di makam tersebut.

TRENDING :  Dua Atlet Downhill ini Harumkan Kota Kretek, Pemkab Kudus Diminta Peduli

“Kalau tidak ada penjual bunga didepan TPU saya sulit mencari bunga ditempat lain. Kalau begini kan jadi sejalan dan tidak perlu muter-muter lagi nyari penjual bunga,” tandasnya.

Sementara itu, sejumlah pemuda desa Ploso memanfaatkan momen ini dengan jasa parkir. Mereka sengaja tidak mematok harga alias seikhlasnya, “Kami sengaja tidak pasang tarif, biarkan para peziarah ingin ngasih berapa,” kata salah satu dari mereka, Noval, pemuda 23 tahun asli Desa Ploso itu. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :