Ratusan Kembang Api Siap Warnai Langit Kudus di Malam Takbir

oleh
Ratusan Kembang Api Siap Warnai Langit Kudus di Malam Takbir
Foto: Ratusan kembang api yang dijual Tono di Jalan GOR Kudus, Selasa (12-06-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Tidak dipungkiri, tradisi permainan kembang api tidak dapat dipisahkan dari perayaan hari lebaran, utamanya saat malam takbiran. Ratusan kembang api tumpah menghiasi dan menyemarakan setiap perayaan hari lebaran.

Tidak hanya di pusat kota, tradisi seperti ini juga tumbuh subur di desa-desa. Tak pelak, situasi seperti ini dimanfaatkan oleh para penjual kembang api musiman untuk mengais pundi-pundi rupiah.

Menjelang lebaran, para penjual kembang api musiman ini mulai memenuhi berbagai sudut daerah di Kabupaten Kudus. Salah satunya Jalan GOR Kudus. Letaknya yang strategis membuat penjual kembang api di tempat ini laris manis diserbu pembeli.

Mereka umumnya hanya berjualan menjelang hari-hari besar seperti lebaran dan tahun baru. Saat masyarakat mencari kembang api untuk memeriahkan suasana di hari-hari besar tersebut.

TRENDING :  Bupati Buka Puasa Bareng PKL, KST Dan UMKM

Sedangkan pada hari biasa, para pedagang musiman ini kembali mencari nafkah sesuai pekerjaan semula. Seperti halnya Tono (35), pria asal Desa Loram Wetan ini sehari-hari berjualan mainan anak di rumahnya. Namun, jelang lebaran dan tahun baru, ia selalu berganti profesi sebagai penjual kembang api.

“Penghasilan yang didapat dari berjualan kembang api ini lumayan, sehingga sangat sayang untuk dilewatkan,” ujar pria yang telah 10 tahun berjualan kembang api di Jalan GOR Kudus ini, Selasa (12-06-2018).

Penjual berbagai jenis kembang api ini, mengaku bahwa dirinya selalu berjualan kembang api dari awal bulan Ramadan. Kepada isknews.com, Tono, mengungkapkan pada awal puasa, ia dapat mengumpulkan uang sebanyak Rp. 100 – 200 ribu setiap harinya.

Menjelang lebaran seperti ini pendapatannya pun mulai melonjak tajam. Setiap harinya, ia dapat mengais 300 – 500 ribu dari usaha jual kembang apinya ini. Menurutnya, pendapatannya akan terus naik sampai nanti H+7 lebaran.

TRENDING :  Ternyata Begini Cara Pemilik Pabrik Miras Kelabuhi Warga Agar Tak Curiga

“Pendapatan tertingginya biasanya malam takbiran hingga tiga hari setelah lebaran. Setelah itu, biasanya pendapatan mulai menurun kembali,” kata Tono.

Untuk jenis kembang api yang dijual Tono sangat bervariatif. Harganya berkisar antara Rp. 2 ribu hingga 45 ribu. Adapun jenis kembang api yang paling banyak dicari adalah kembang api banting dan pretekan, yang dijualnya dengan harga Rp. 2.500 – 3.000.

“Barang jualan saya ini, semuanya berjenis kembang api bukan petasan. Meskipun begitu, saya tetap menghimbau kepada pembeli untuk memainkannya dengan hati-hati dan atas sepengetahuan orang tuanya,” tuturnya.

TRENDING :  17 Kios Pasar Ds.Alassowo Mangkrak Dan Belum Dapat Difungsikan

Meski hanya berjualan kembang api, Tono mengaku masih ada beberapa pembeli yang mencari petasan, utamanya para generasi dewasa muda. Jika dihadapakan pembeli seperti itu, ia hanya menjelaskan bahwa petasan berbaha dan kini peredarannya sudah dilarang pemerintah.

Terkait kendala yang dihadapi selama berjualan kembang api, ia mengaku tidak ada kendala serius dan berarti. Dituturkannya, kendala utamanya selama ini adalah melepaskan waktu lebarannya bersama keluarga.

“Dari malam takbiran hingga H+7 lebaran saya tetap berjualan. Kadang saya merasa sedih karena kurang memiliki waktu lebaran bersama keluarga. Tetapi saya bersyukur, keluarga saya mampu mengerti hal tersebut,” pungkasnya. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :