Ribuan Petani Ketela Pati Lakukan Aksi Doa dan Sholawat Agar Kebijakan KPH Pati di Batalkan

Ribuan Petani Ketela Pati Lakukan Aksi Doa dan Sholawat Agar Kebijakan KPH Pati di Batalkan

Pati, isknews.com (Lintas Pati) – Ribuan Petani Ketela menggelar aksi Gema Sholawat di Desa Wedusan Kecamatan Dukuhsekti Kabupaten Pati, Minggu (08/01).

Cara unik ini dilakukan petani ketela untuk menolak kebijakan KPH Pati yang dinilai tidak pro petani. Cara ini dinilai lebih elegan dari pada harus demo turun ke jalan di depan Kantor LPH Pati seperti apa yang dilakukan peda 1 Desember 2016.

Menurut koordnator aksi Abdul Rochman, aksi gema sholawat dengan mendatangkan Habib Helmy Al Aidrus dari Kudus tersebut sebagai lanjutan aksi demo penolakan di Pati. Aksi ini dinilai lebih elegan daripada aksi turun ke jalan lagi.

TRENDING :  Petani Ketela Enggan Jual Produknya di Pasar Lokal

“Sebenarnya petani mengajak turun ke jalan lagi, namun karena proses hukum atas kasus dugaan pungli oleh Perhutani sedang berjalan maka kali ini kita lakukan dengan aksi damai doa bersama dan sholawat,” terang Rochman.

Petani berharap, dengan aksi damai doa bersama yang dilakukan pejabat di jajaran KPH Perhutani Pati bisa terbuka hatinya dan meninjau ulang kebijakan.

Terkait dengan harga ketela yang merosot jauh hingga menyentuh harga Rp 700, petani meminta kepada pemangku kebijakan yang ada di KPH terutama Wilayah BKPH Ngarengan untuk menarik kebijakanya atas penarikan iuran yang dibebankan para petani ketela yang memanfaatkan lahan hutan di wilayah BKBH Ngarengan.

TRENDING :  Selama Ramadhan Ini Pesanan Sayur Bayam Dan Kangkung Naik 100% Lebih

“Kami melihat antusias para petani dalam menggelar acara doa bersama ini. Dengan harapan kebijakan bagi sharing, penarikan pajak atau embel-embel yag lain ditiadakan,” pintanya.

Dalam acara yang dipusatkan di lapangan sepakbola Desa Wedusan, juga dihadiri ribuan warga petani ketela dari desa sekitarnya. Seperti dari Desa Gesengan, Grogolan, Dukuhseti, Puncel dan sejumlah desa lain di sekitar hutan yang juga menolak kebijakan Perhutani Pati.

TRENDING :  KPU Pati Mulai Distribusikan Logistik Pilkada Ke Kecamatan

Doa dan bersholawat dinilai lebih baik dari pada demo di jalan, mengingat peristiwa demo 1 Desember kemarin banyak warga yang mendapatkan intimidasi bahkan kepada aksi yang ikut turun ke jalan hak pengelolaan tanah ditarik, hal tersebut terjadi pada petani asal Desa Grogolan, Gesengan dan Dukuhsekti. Sesal Abdurahman.

“Ini kan ya tidak adil. Menyampaikan aspirasi kok malah lahan di rampas. Dengan cara pakai preman pula. Bahkan kasus di Gesengan ada tanaman ketela yang dirusak. Tapi kami sudah melaporkan kejadian ini kepada polisi,” tegasnya. (Wr)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post