Ribuan Warga Saksikan Tradisi Jembul Tulakan

oleh
Ribuan Warga Saksikan Tradisi Jembul Tulakan
Foto: Istimewa

Jepara, ISKNEWS.COM – Puluhan pria mengarak usungan (ancak) berisi aneka hasil bumi dan olahan makanan tradisonal berhias dari iratan bambu tipis, oleh masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo menyebutnya “Jembul”. Terdapat dua jenis jembul yang mereka arak, yaitu “Jembul Wadon” (perempuan) dan “Jembul Lanang” (laki-laki). Jembul Wadon berukuran lebih kecil dan tidak menjulang, sedangkan Jembul Lanang sebaliknya lebih besar dan menjulang (menggunung).

Di antara para pria yang mengarak jembul, juga ada yang mengarak makanan dengan ditempatkan pada anyaman bambu dengan cara dipikul. Terdapat pula barisan ibu-ibu dan penampilan kesenian tradisonal, serta puluhan warga di bagian paling belakang. Arak-arakan jembul diarak dari empat asal dusun, Krajan, Ngemplak, Winong, dan Drojo, menuju halaman rumah petinggi dan disambut kesenian tayub.

TRENDING :  Belum Selesai Patung Bandeng Raksasa Mulai Tuai Kritikan

Tampak sejak pagi, ribuan orang telah memadati sepanjang jalan permukiman untuk menyaksikan upacara tradisi Jembul Desa Tulakan. Tradisi ini diadakan berdasarkan pada kepercayaan masyarakat setempat pada masa itu, oleh adanya sumpah dari Nyai Ratu Kalinyamat “Ora pisan-pisan ingsun jengkar soko topo ingsun, yen ingsun durung biso nganggo keset jambule Aryo Penangsang”.

Sumpah tersebut diterima dan dipahami oleh masyarakat Desa Tulakan bahwa, kesetiaan, kecintaan dan pengbdian Sang Ratu terhadap suaminya Sultan Hadlirin yang telah dibunuh oleh Aryo Penangsang, untuk mewujudkan cita-citanya menegakkan kebenaran, keadilan, keamanan dan ketertiban pada waktu itu.Nyai Ratu Kalinyamat dengan kesadaran dan keikhlasannya yang tinggi, bersedia meninggalkan gemerlapnya kehidupan istana untuk mendapatkan keadilan dari Tuhan atas pembunuhan terhadap suaminya tersebut, dengan bertapa di Bukit Donorojo atau kini disebut Sonder.

TRENDING :  Resmi dibuka Turnamen bola voli Kapolres Cup Jepara 2017

Sebab itulah masyarakat Desa Tulakan terpanggil dan bergerak hatinya untuk ikut memberikan bantuan secara moril. Yaitu dengan jalan mengadakan upacara perayaan Jembul Tulakan yang rutin digelar setiap Senin Pahing dibulan Apit (penaggalan jawa).

“Dalam perkembangan selanjutnya upacara atau perayaan Jembul Tukaan dijadikan sarana sedekah bumi, yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, terhadap masyarakat Desa Tulakan,” kata Petinggi Tulakan, Sutrisno, Senin (16-7-2018).

TRENDING :  62 Peserta Ikuti Agro Expo UMK

Upacara Jembul Tulakan itu sendiri, dimulai dengan mencuci kaki petinggi dengan kembang setaman. Setelah pencucian kaki petinggi, dilakukan selamatan, dilanjutkan dengan acara mengitari Jembul sebanyak tiga kali, yang merupakan inti dari proses Jembul Tulakan. Prosesi mengitari jembul ini, dilakukan oleh petinggi diikuti oleh ledek atau penari tayub dan para perangkat desa. Tiga hari sebelum tradisi Jembul Tulakan tersebut dimulai, warga memggelar tradisi manganan. Yaitu, selamatan dilanjutkan dengan makan bersama di kantor balai desa. (ZA/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :