Robot, Tank Dan Kapal Meriahkan Tradisi Baratan di Kudus

oleh
Tradisi Baratan
Mobil-mobilan dan Lampion pada Tradisi Baratan di Desa Sidorekso Kaliwungu Kudus (Foto YM)

Kudus, isknews.com – Semalam suasana Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus nampak ramai dan meriah, ditengah suasana malam, desa itu menjadi desa yang diterangi ribuan cahaya terutama di lapangan SD Sidorekso 1, dan sekitarnya.

Ya, malam itu Karang Taruna Bahurekso dan Pemerintah Desa Sidorekso, sedang menggelar Tradisi Baratan dalam rangka memeriahkan malam Nisfu Sya’ban yang kini menjadi agenda rutin desa yang terletak di paling barat kabupaten Kudus ini, Senin (30-04-2018).

Lapangan SD itu menjadi berkilau ribuan cahaya karena ratusan warga sedang antusias mengikuti lomba montor-montoran dan lampion yang dihiasi cahaya lampu warna-warni. Sebelumnya mereka berkumpul di SD 2 Sidorekso sebagai start dan berkirab dengan menarik montor-montoran dan lampion menuju ke lapangan SD 1 Sidorekso.

TRENDING :  Seputar Tumbak

Dengan kreatifitas bentuk montor-montoran dan lampion yang beragam sehingga sangat menarik perhatian pengunjung acara lomba. Ada yang berbentuk mobil, pesawat, robot, rumah, tank, lampu-lampu dan hewan-hewan dan sebagainya.

Mereka datang kelapangan untuk mengikuti acara yang di beri nama “ Parade Motor-motoran / Lampion” sebuah lomba keratifitas membuat montor-montoran dan lampion dari bahan-bahan yang ada di sekitar mereka.

Siswanto ketua Karangtaruna Bahurekso Desa Siderekso yang malam itu menjadi motor penggerak kegiatan yang digelar di lapangan SD 1 Sidorekso, kepada media ini mengatakan, Acara ini merupakan rangkaian acara budaya Baratan yang mereka gagas.

TRENDING :  Simak Hasil Jepretan Sedulur ISK "Kirab Khitan" di Desa Ploso

“ Dulunya, kegiatan dilakukan dengan keliling desa pakai oncor. Tapi kini pakai lampion dan motor- motoran. Baratan itu adalah sebuah even anak-anak kecil yang bergembira dengan datangnya Malam Nisfu Sya’ban mereka membuat montor-montoran (mobil-mobilan-red) atau lampion, yang ditarik mengelilingi kampung sekitar mereka.” terangnya.

Tetapi secara filosofis, acarai ini dilakukan dan menjadi tradisi di malam Nisfu Sya’ban setelah shalat maghrib dan menggelar do’a bersama, Yasinan dan doa-doa yang lainnya di Masjid Jami’ Darussalam dan Mushola desa, setelah itu baru anak-anak bergembira dan menarik motor-motoran mereka yang warna-warni.

“Kita menggelar acara ini awalnya dari mewujudkan visi dan misi bapak Kepala Desayang ingin nguri-uri adat budaya spesifik yang ada di Desa Sidorekso, yaitu budaya Baratan yang di meriahkan dengan montor-montoran ini,” terang Siswanto.

TRENDING :  Warga Mijen Kenalkan Seni Barongan ke Generasi Muda Melalui Kirab Budaya

Di tambahkan oleh Siswanto, Peserta malam ini adalah sebanyak 500 an peserta lomba parade montor montoran, yang dinilai dari kekreatifitasan, keindahan dan keunikannya dengan pesertanya datang dari desa-desa tetangga juga, diantaranya dari Desa Gamong, Blimbing Kidul dan Papringan.

“ Tak hanya lomba, acara juga dimeriahkan dengan pembagian door prize bagi peserta dan pemilihan tiga orang pemenang montor-montoraan dan lampion terbaik, serta rebana dan jam’iyah Hubbul Wathon yang merupakan kolaborasi jamiyah dari tiga dukuh di Sidorekso ini,” pungkasnya.(YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :