Runtuhnya Dominasi Kolak Sebagai Kudapan Favorit Berbuka Puasa

oleh
Semangkuk olak yang dijual di salah satu sudut Kabupaten Kudus, Sabtu (9-6-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Bulan ramadan, begitu identik dengan munculnya berbagai jajan dan kudapan khas berbuka puasa. Tak heran, di ramadan banyak bermunculan pedagang makanan dan takjil yang memenuhi beberapa sudut kota.

Dari sekian banyak makanan khas ramadan, yang paling populer adalah kolak. Rasa kolak yang manis dan gurih serta kandungan nutrisinya yang lengkap, membuat makanan satu ini menjadi pilihan masyarakat, untuk menghilangkan haus dan dahaga saat berbuka puasa.

Hal inilah, yang kemudian mendorong kolak menjadi makanan favorit masyarakat di bulan puasa. Saking terkenalnya, kolak kerap digunakan sebagai hidangan berbuka. Bahkan juga digunakan dalam acara bagi takjil di jalan-jalan.

Berkembangnya waktu, kudapan khas Indonesia yang terdiri dari gula, singkong, pisang dan santan itu, popularitasnya saat ini mulai memudar, seiring munculnya kudapan-kudapan kekinian yang populer di era milenial.

TRENDING :  Puluhan Pedagang Ikan Gruduk Kantor Pasar Bareng

Memudarnya dominasi kolak sebagai kudapan favorit masyarakat saat berbuka puasa, terlihat dari anak-anak zaman now yang mulai menganggap kolak sebagai kudapan yang kurang mengasyikan dan menyegarkan.

Penurunan minat masyarakat, utamanya generasi muda terhadap kolak, terlihat dari sejumlah titik keramaian di Kudus, yang mulai jarang ditemui penjual kolak. Misalnya saja di Balai Jagong dan Alun-alun Kudus.

Dari pantauan isknews.com, hanya ada beberapa penjual kolak yang bertahan di kedua tempat tersebut. Selebihnya, di dominasi oleh penjual makanan dan kudapan kekinian seperti Es Kepal Milo, Es Buah, Milkshake, Jus dan King Manggo.

Di lokasi tersebut, juga terlihat antusias masyarakat akan kolak cukup rendah. Dari puluhan penjual makanan dan minuman yang paling diserbu adalah penjual Es Buah dan Jus. Bahkan antrean panjang pembeli sudah terlihat sejak pukul 16.00 WIB.

TRENDING :  Sumur Mengering, Warga Jetak Kedungdowo Kudus di Dropping Air Bersih

“Kalau saya disuruh memilih antara kolak dan es buah. Saya pastinya akan memilih es buah, karena lebih menyegarkan untuk menghilangkan dahaga setelah seharian berpuasa,” kata Ahlun Nafi, saat ditemui isknews.com di Alun-alun Kudus, Sabtu (9-6-2018).

Tak hanya Ahlun, ungkapan serupa juga dikemukakan oleh Ahmad Rifai. Mahasiswa Universitas Muria Kudus ini, mengaku jika selama ramadan ini lebih suka mengkonsumsi es saat berbuka dibandingkan kolak.

“Kalau kolak seringnya disajikan dalam keadaan hangat, sehingga kurang menyegarkan. Jadinya saya lebih suka berbuka dengan es. Seperti es kepal milo dan es buah. Kebetulan itu yang lagi tren saat ini,” ujar Rifai.

Turunnya minat masyarakat terhadap kolak dirasakan betul oleh penjual kolak musiman seperti Asih. Wanita 40 tahun ini mengatakan usaha kolaknya tahun ini terbilang sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

TRENDING :  Taman Bojana Akan Dibangun Megah Empat Lantai

“Kalau tahun lalu saya bisa menjual 50 kolak setiap harinya. Untuk tahun ini, saya hanya menjual sekitar 20 kolak saja setiap harinya,” ucapnya.

Dirasakan Asih, munculnya sejumlah kudapan kekinian, secara tidak langsung berpengaruh dengan jualannya. Menurutnya, kini pecinta kolak rata-rata adalah orang tua. Untuk anak muda, jarang sekali yang membeli kolak sebagai hidangan berbuka puasa.

Meskipun begitu, Asih tetap optimis dengan usaha musimannya tersebut. Bahkan, ia tidak patah semangat dan akan terus berjualan kolak setiap bulan ramadan.

“Untuk tahun ini memang popularitas kolak bisa dibilang runtuh. Namun, kita tidak pernah tahu dengan ramadan tahun depan. Karena masyarakat sukanya dengan hal-hal yang kekinian. Bisa saja, ditahun depan kolak bisa kembali menemukan kejayaannya,” pungkasnya. (NNC/WH).

KOMENTAR SEDULUR ISK :