Saatnya Situs Patiayam Naik Kelas Jadi Cagar Budaya Nasional

oleh
Gardu pandang di kawasan situs Patiayam di dukuh Kancilan Terban Jekulo Kudus (Foto: isknews.com)

Kudus, isknews.com – Situs Patiayam sebagai salah satu situs terlengkap di Indonesia,  dengan berbagai jenis temuan tebtang manusia purba (Homo erectus), fauna vertebrata dan fauna invertabrata termasuk juga alat-alat batu manusia dari hasil budaya manusia purba yang ditemukan dalam satu area pelapisan tanah yang tidak terputus sejak minimal satu juta tahun yang lalu.

Sudah selayaknya naik kelas menjadi cagar budaya nasional apalagi sudah sejak Sejak 22 September 2005, situs Patiayam ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Sebelumnya situs ini sudah lama dikenal sebagai salah satu situs manusia purba (hominid) di Indonesia. Sejumlah fosil binatang purba ditemukan penduduk setempat seperti kerbau, gajah, dan tulang lain.

TRENDING :  Gandeng Teater Jogja, Garuda Siap Pentas Kethoprak Kolosal

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Patiwisata, Rachmah Harianti melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Sutiyono, saat dikonfirmasi media ini, Selasa (09/04/2019).

Sutiyono menjelaskan bahwa saat ini pihaknya telah mengajukan berkas permohonan ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Jakarta.

“Saat ini proses pengajuannya masih berlangsung. Alurnya, awalnya kami mengajukan ke Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Jawa Tengah. Setelah dilakukan pengkajian, kini berkas diajukan ke pusat,” kata Sutiyono.

Dalam proses pengajuan ini, pihaknya melakukan beberapa pengkajian terkait penetapan zona kawasan cagar budaya dan pengukuran luas wilayah. Sebagaimana ketetapan yang ada, kawasan situs Patiayam dibagi dalam tiga zona. Yakni zona inti, penyangga dan pengembangan.

TRENDING :  Diusulkan Dapat Tali Asih Penemu Fosil Di Situs Patiayam

“Setelah kami pelajari lebih dalam ternyata ada beberapa pengetahuan baru yang kami dapat. Seperti ketetapan bahwa zona inti tidak boleh digunakan untuk mendirikan bangunan. Karena dikhawatirkan dapat merusak nilai orisinalitas situs. Dengan begitu, wacana pembangunan di wilyah gardu pandang dibatalkan,” jelasnya.

Selain itu, diungkapkannya jika pihaknya melakukan perluasan zona pengembang ke beberapa desa. Yakni Desa Tanjungrejo, Kelaling, Terban dan Gondoharum. Ditegaskannya, penetapan situs Patiayam sebagai cagar budaya bertujuan untuk menunjang keberlangsungan konservasi benda kepurbakalaan yang banyak ditemukan di sana. Seperti temuan fragmen gajah purba jenis stegodon, molusca dan hewan purba lainnya yang mencapai 7.000 fragmen.

TRENDING :  Hari ini 7 November Hari Wayang Sedunia

Sementara untuk keberlangsungan konservasi, Sutiyono mengatakan sejauh ini situs Patiayam masih di bawah tanggung jawab Balai Pelestari Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran.

Terkit pengembangan museum patiayam, dia mengatakan jika hal tersebut rencananya akan dilakukan pada tahun 2020. Tak hanya untuk pembelian tanah, rencanaya pihaknya juga akan mengajukan anggaran untuk pengembangan museum.

“Lahan untuk display koleksi di museum Patiayam selama ini masih kurang luas dan terbatas. Sehingga koleksi yang ada tidak bisa diperlihatkan kepada pengunjung. Ini nantinya akan kami ajukan ditahun 2020. Semoga bisa disetujui dan terealisasi,” pungkas dia. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :