Sapa Pagi ISK – “Berteman Sepi”

oleh
Sepi (Foto : Digital Imaging Yuliadi Mohammad)

Sedulur ISK, dalam sebuah masa tak hanya ada suasana  “keramaian”, namun kita semua juga pernah merasakan kesepian? sebuah rasa yang tidak menggembirakan, bahkan orang yang paling suka menyendiripun rasanya tak senang bila merasakan suasana sepi.

Kata para pakar sosiologi, manusia terlahir sebagai makhluk sosial atau Homo Socius, bukan penyendiri. Jadi secara kodrati, manusia tidak suka dengan sepi apalagi kesepian, meski ada sebagian orang yang memilih jadi soliter. Seneng berteman dengan sepi.

Namun kata memilih itu haruslah digarisbawahi, sepertinya Soliter itu sebuah pilihan bagi mereka, mereka sengaja menciptakan sepi.

Sepi merupakan perasaan paling kuno dari kamus dunia di zaman baheula sebab saat ini kehidupan masyarakat yang pada merapat lebih kompleks dengan segala gejolak didalamnya.

Perasaan sepi tak hanya diderita oleh para jomblowan dan jomblowati karena suasana sepi mereka kondisional, ada sepi yang sangat terstruktur dan menjadi  seperti kurva parabola pada siklus kehidupan manusia.

Awalnya sewaktu di rahim ibu kita sendirian, yah cuma ditemani ibu. Kemudian kita lahir ke Dunia, ditemani keluarga dekat yang jumlahnya pasti bisa dihitung dengan jari. Berhari-hari dalam hitungan tahun, lingkungan kita ya cuma mereka.

TRENDING :  Terus Berkarya di Usia Senja

Tibalah saatnya kita menginjak bangku sekolahan—apapun levelnya. Dunia kita semakin ramai. Kita mulai berada dalam kerumuman orang yang tidak ada hubungan darah.

Puncak dari keramaian di kehidupan kita ya jaman kita SMA dan kuliah. Banyak yang bilang, masa yang paling indah ya ketika itu; SMA dan Kuliah.

Kalau ramai dilihat dari ukuran banyak orang dengan heterogenitas tinggi yang kita temui dalam hidup kita, mungkin saat kita dalam fase dunia kerja adalah puncaknya. Cuma, keramaian dalam kehidupan kita yang kita maksud, satuannya bukan jumlah orang .

Mungkin bisa kita analagoikan dengan ketika kita lagi di pasar, mal, ataupun  suasana pabrik-pabrik yang ada di sekitar kita. Begitu jam pulang, ratusan bahkan ribuan orang ada di sekitar kita. Cuma mereka tidak ada urusannya dengan dan buat kita, begitu juga sebaliknya. Bukan seperti itu keramaian yang kita maksud.

Maksud kita keramaian yang ukurannya lebih kepada kualitas. Gambaran gampangnya beberapa banyak orang yang terlibat dengan kehidupan kita. Kalau menggunakan bahasa sastra, berapa banyak orang yang telah mewarnai kehidupan pribadi kita.

TRENDING :  Sapa Pagi ISK - “Tahanlah Lelah”

Sebagian besar kita lalu berkeluarga. Keputusan itu menjadikan kehidupan pribadi seseorang menjadi berubah. Dari yang semula lebih individual menjadi keluarga. Manusia mendapatkan keramaian baru di keluarga.

Yang jadi masalah, umur keramaian dalam keluarga jaman sekarang tidak sepanjang dibandingkan orang tua kita dulu. Orang dulu biasanya punya banyak anak, rata-rata biasanya lebih dari tiga. Keluarga masa kini begitu nyebut anaknya tiga, pasti akan bilang, “anakmu banyak banget!”

Terus coba hitung-hitung sampai berapa lama keramaian keluarga bisa kita nikmati? Berbeda-beda pastinya, ketika mereka nantinya dewasa dan menikah dan tidak lagi tinggal bersama kita, sepi akan kembali menyapa kita.

Kita kadang merasa sepi belum pada waktunya. Tapi itulah yang harus dihadapi. Mungkin sedulur  juga punya perasaan yang sama.

Bahkan ketika mereka anak-anak kita nanti mulai mebentuk keluarga intinya sendiri, bukan hanya punya rumah sendiri, tetapi mereka juga punya kehidupan sendiri. Tidak cuma House, mereka punya Home sendiri.

Harapannya, anak-anak kita adalah tetap anak-anak kita yang dulu. Cuma, tidak bijak kalau terus kita tetap pake struktur organisasi lama; kita orang tua, mereka anak kita.

TRENDING :  Sapa Pagi ISK – “Lampahing Manungso”

Hampir bisa kita pastkan, tingkat ‘kepatuhan’ mereka terhadap kita akan berkurang. Sebenernya sih bukan letterlijk  mereka tidak patuh lagi sama kita, tapi mereka sudah punya kehidupan sendiri. Sama seperti kita.

Sekarang atau suatu masa mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus siap menyambut sepi. Kondisi sepi di suatu masa tidak harus menyebabkan kita menjadi manusia kesepian.

Apalagi kita pernah mendenger bahwa sebagian orang hebat itu justru berteman dengan sepi. Mereka kerap menyepi untuk bisa berpikir jernih, berkontemplasi istilah kerennya, menilai diri sendiri, merancang rencana ke depan dan lain-lain yang positif.

Nah, masa tua dengan sepinya adalah nikmat yang diberikan Tuhan. Kita harus bisa manfaatin itu sehingga tidak merasa jadi manusia kesepian yang kesannya jadi negatif. Yang lebih penting, kita tidak harus mengulangin kesalahan masa lalu, ketika terlena dengan keramaian.

Baiklah Sedulur ISK, mari menjemput sepi. (Yuliadi Mohammad)

KOMENTAR SEDULUR ISK :