Sejumlah Siswa Ini Lestarikan Permainan Tradisional Saat Kunjungi Ruang Baca Pengilon

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM – Keriangan dan keseruan yang dirasakan saat bermain pemainan tradisional terlihat jelas diwajah siswa SMP Kanisius saat berkunjung ke Ruang Baca Pengilon. Permainan seperti karet, bentengan, petak umpet, congklak atau galasin di masa modern seperti saat ini bagi sebagian orang mungkin hanya bisa menjadi kenangan.

Hal tersebut disampaikan Asri Candra Puspita, pengelola Ruang Baca Pengilon, Dukuh Ngrangit, Desa Terban, Jekulo Kudus saat menyambut rombongan Dewan Galang SMP Kanisius Kudus, Sabtu (2/2/2019).

Selain berkunjung, kata Asri mereka juga berbagi buku bacaan dengan di ruang baca. “Selain berkunjung dan berbagi buku bacaan Dewan Galang SMP Kanisius Kudus juga diajak bermian mainan tradisional, seperti anglung, congklak, gangsingan dan beberapa mainan lainnya yang ada di Ruang Baca Pengilon,” tambahnya.

TRENDING :  Judi Dadu 1 pelaku ditangkap

Terlihat salah satu anak dari SMP Kanisius serius bermain permainan tradisional. “Pada dasarnya permainan yang sedang dimainkan dapat melatih kepercayaan diri dan ketahanan mental,” jalas Asri

Asri memberikan contoh ketika bermain congklak, anak-anak akan dilatih jujur, sabar, berhitung serta mengatur strategi. Kegiatan mengambil biji congklak dan memasukkannya ke tiap lubang melatih anak untuk mengasah kemampuan motorik halusnya. Selain itu, lanjut Asri kegiatan tersebut dapat membuat tangan anak menjadi lebih luwes sehingga anak akan lebih siap untuk belajar menulis.

“Bermain congklak juga mampu mengasah kecerdasan otak kiri. Dalam permainan, pemain harus mengumpulkan biji congklak  yang lebih banyak dari lawannya agar dapat menang. Hal tersebut membuat anak akan mengatur strategi dan melakukan perhitungan dalam proses bermainnya,” jalas Asri.

TRENDING :  MA Qudsiyyah dan SMP 1 Kudus Raih Terbaik 1 Festival Teater Pelajar Kudus 2018

Konsep bermain sambil belajar dan perkenalan mainan tradional memang menjadi dasar yang ada di Ruang Baa Pengilon. Karena bisa disebut sebagai anak-anak yang lahir dari generasi Milenial, generasi ini begitu akrab dengan teknologi, bahkan sudah terpapar teknologi sejak mereka dilahirkan.

Asri juga menjelaskan bahwa Ruang Baca Pengilon dibentuk untuk mengajak anak-anak bermain permainan tradisional bersama sehingga permainan ini bisa terus dikenal dan terjaga kelestariannya. “Dasarnya yang lebih khusus ada mengurangi anak bermain hp, karena di rasa anak jaman sekarang lebih akrab dengan hal tersebut,” jelasnya.

Selain anak-anak, kata Asri, ruang baca juga berkeinginan mengajak ayah dan ibu untuk bisa bermain permainan tradisional, sehingga mereka bisa main bersama anak-anak mereka. Sama seperti tagline yang akan digaungkan Ruang Baca Pengilon di awal Bulan Maret nanti, ‘karena main butuh temen’.

TRENDING :  Joget Bersama, Kejenuhan Napi Rutan Kelas IIB Kudus Terobati Kala Dihibur Musik Dangdut

“Seperti yang kita tahu, sekarang kebiasaan bermain bersama, terutama bermain permainan tradisional sudah tidak lagi menjadi pilihan utama bagi anak-anak. Padahal sebenarnya banyak sekali nilai-nilai yang bisa digali dari permainan tradisional untuk anak-anak Indonesia,” kata Asri.

Untuk itu, lanjut Evin, bekerjasama dengan sekolah dalam mengadakan kegiatan seperti bersama SMP Kanisius ini sangat penting selain sebagai sarana perkenalan mainan tradisional.

Dengan adanya Ruang Baca Pengilon, Asri berharap dapat bermain bersama dengan seluruh anak-anak Indonesia, khususnya di Kudus, sehingga kelestarian permainan terjaga, beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :