Sekilas Sejarah Berdirinya Masjid Agung Kudus

Sekilas Sejarah Berdirinya Masjid Agung Kudus

Masjid Agung kudus

Masjid Agung sudah mengalami banyak perubahan nama. Awalnya bernama Masjid Jami’, kemudian berganti menjadi Masjid Besar, dan yang terakhir adalah keputusan kementrian yang menyatakan bahwa disetiap kota harus ada simbol masjid, maka dinamakan Masjid Agung Kudus.

Berdirinya Masjid Agung Kudus, merupakan salah satu dari beberapa syarat yang harus ada dalam keberadaan pemerintahan. Pada zaman kolonial syarat adanya pusat pemerintahan harus mencakup tiga komponen (Tiga Adat Jawa) yaitu 1) Pendapa Kabupaten (dulu kadipaten) ; 2) Adanya alun-alun 1 ; 3) Adanya pohon besar yang terletak bersebelahan dengan kadipaten.

Ada pula yang mengatakanbahwa Tiga yang dimaksud Adat Jawa itu meliputi 1) Masjid; 2) Pendopo; dan 3) Pembinaan Umat. Atas dasar tersebut, oleh prakarsa dari Muhammad Idris atau Raden Tumenggung Aryo Condro Negoro ke-IV (Bupati Kudus ke-4) pada tahun 1853M/ 1274H pembangunan Masjid mulai berlangsung.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah yang mengharuskan dalam suatu kota terdapat satu tempat beribadah yaitu Masjid yang disebut Masjid Kadipaten (Masjid Kabupaten) maka yang dipilih adalah Masjid Agung Kudus yang sekarang ini. Sehingga timbul banyak pertanyaan, mengapa bukan Masjid Menara yang dijadikan masjid kadipaten, padahal secara usia bangunan Masjid Menara lebih tua dari Masjid Agung Kudus.

TRENDING :  Efisiensi Anggaran, Rapat dan Diklat Gunakan Aset Pemkab

Hal ini dikarenakan 1 Pada zaman kolonial, dalam alun-alun harus ada atau ditumbuhi pohon beringin besar. 2. Berdasarkan atas peraturan pemerintah pula bahwa dalam satu kota, apabila terdapat masjid yang merupakan peninggalan seorang wali, maka masjid itu hanya disebut masjid wali. Sehingga harus dibuat satu masjid lagi yang dapat dijadikan maskot kota tersebut, yang sekarang yaitu Masjid Agung Kudus.

Pada awalnya masjid ini tidak seperti sekarang. Masjid ini dulunya bernama Masjid Kriyan yang letaknya ada di belakang “Toko Sidodadi”5 . Berdasarkan cerita, keberadaan Masjid Kriyan sebenarnya masih ada, akan tetapi jalur akses untuk menuju ke lokasi sudah tidak bisa. Hal tersebut pastinya bukan tanpa alasan yakni dikarenakan bangunan-bangunan di sekitar Masjid Kriyan yang corak bangunannya tinggi ke atas menjadi penghalang. Sehingga menyebabkan jalur menuju akses bangunan Masjid Kriyan tertutup.

TRENDING :  Takbir Akbar Masjid Agung Malam Ini, PCNU Dan PDM Peroleh Bantuan Dana Dari Bupati

Sebelum ada bangunan- bangunan disekitar kompleks Masjid Kriyan, ada beberapa perbedaan pendapat dari berbagai kalangan dalam hal perencanaan pemugaran Masjid Kriyan ke Pusat Kota (sebelah barat alun-alun) yang diprakarsai oleh Bupati Kudus ke-IV. Ada yang pro dan ada pula yang kontra. Kelompok yang pro pemindahan, menginginkan kapasitas daya tampung masjid lebih besar dan ada pula yang berpendapat seperti halnya Tiga Adat Jawa dalam Kadipaten. Kelompok yang kontra terhadap pemindahan masjid, beranggapan bahwa masjid tersebut karena merupakan aset di wilayah tersebut dan perlu dijaga dan dirawat dengan sebaik- baiknya.

Namun akhirnya munculah keputusan dari pihak Kadipaten yang bersumber dari pemerintah yang mengatakan bahwa dalam setiap kabupaten harus ada tiga bangunan Kadipaten, Masjid, serta Pembinaan Umat. Sehingga perselisihan antara kelompok pro dan kontra tersebut dimenangkan oleh kelompok kontra dengan adanya aturan dari pemerintahan tersebut. Akhirnya, pemugaran Masjid Kriyan yang dulu di sebelah Selatan alun- alun kini dipindah ketempat yang sekarang (sebelah Barat Alun- alun) dapat terlaksana.

TRENDING :  " Takut Kritikan Tak Bisa Berkembang ! "

Proses pemindahan Masjid Agung Kudus yang berlokasi di Jl. Simpang Tujuh 15A Kudus ini terlaksana walau tidak serta merta dipugar keseluruhan, akan tetapi secara bertahap. Alasan yang paling tepat atas pemindahan Masjid karena dianggap kurang banyak menampung jama’ah, padahal posisi masjid sebagai Masjid Kadipaten. Maka pada tahun 1991 Masjid Kriyan ini dipindahkan ke lokasi Masjid Agung Kudus yang sekarang ini.

Sumber: Arsip mengenai sejarah singkat masjid di kudus oleh Departemen Agama Kudus, Wawancara Bp Masrukhan selaku Kepala Kantor Masjid Agung KUDUS dan Makalah Pembaharuan dan Pengembangan Masjid Agung Kudus

‪#‎neng‬

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post