Sewa Lahan Pribadi Panitia Kupatan Bulusan Tidak Terima Kontribusi Wahana Permainan Anak

Sewa Lahan Pribadi Panitia Kupatan Bulusan Tidak Terima Kontribusi Wahana Permainan Anak

Kudus, isknews.com – Sudah menjadi kebiasaan, di mana pun ada acara keramaian Syawalan, selalu dijadikan ajang berjualan oleh pedagang kaki lima (PKL). Demikian pula yang terjadi pada acara Kupatan di Dukuh Sumber Bulusan, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Ratusan PKL mendasarkan dagangannya di lapak yang disediakan oleh panitia. Namun ada yang dipersoalkan oleh panitia, manyangkut wahana permainan anak-anak yang menempati lahan milik perseorangan, sehingga tidak ada kontribusi apa pun yang diberikan kepada pihak panitia, selain tarikan seharga tiket masuk.


Ketua Panitia Kupatan Bulusan 2017, Khamluddin, yang dihubungi isknews.com, Jumat (01/07), di tempat kediamannya, Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, mengatakan hal itu. Menurut dia, sejak lapak di sepanjang jalan di Dukuh Sumber dibuka pada dua hari yang lalu, hingga sekarang ini, terdapat sebanyak 120 PKL yang mendaftar resmi di secretariat panitia. “Terhadap PKL yang resmi terdaftar itu, dikenakan beaya sewa lapak. Penarikannya hanya sekali, yakni pada hari H pelaksanaan kupatan, Ahad, 2 Juli 2017.”

Dengan PKL sejumlah itu, ungkapnya lanjut, ada yang menjadi pertanyaan warga masyarakat setempat, yakni keberadaan wahana permainan anak-anak. Pasalnya, pengusaha wahana ini menggunakan atau menyewa lahan milik perseorangan, sehingga hasil sewa masuk kantong pribadi pemilik lahan. Akibatnnya, pihak panitia tidak memperoleh keuntungan apa pun dari pengusaha wahana permainan anak-anak, termasuk PKL yang ikut dalam rombongan wahana tersebut. “Jumlah PKL pada setiap rombongan 5 – 10 PKL. Mereka ini cukup menyita lapak PKL yang disediakan panitia.”


Meskipun PKL yang jumlahnya puluhan itu ikut membuka daganganya, namun pihak panitia tidak bisa menarik ongkos sewa lapak, karena keberadaannya menjadi bagian dari wahana permainan anak-anak. Hal inilah yang perlu dijelaskan dan dipahami oleh warga setempat, khususnya di Dukuh Sumber yang bisa jadi menganggap panitia mendapat keuntungan besar, dari PKL yang jumlahnya puluhan itu. “Padahal, karena tidak resmi terdaftar, panitia hanya bisa menarik seharga tiket masuk sebesar Rp 5000, banyaknya tiket disesuaikan dengan luas lahan yang digunakan.”


Selain itu, panitia tidak mendapatkan pemasukan apa pun, dari keuntungan hasil sewa wahana permainan anak-anak oleh warga pemilik lahan. Sudah seharusnya mereka menyadari merasa diuntungkan dengan adanya acara Kupatan Bulusan itu, caranya dengan membantu meringankan beaya yang dikeluarkan panitia, untuk penyelenggaraan tradisi Syawalan itu. Namun tampaknya kepedulian itu belum terpikirkan. “Kalau mau, panitia bisa menutup wahana itu, karena tidak terdaftar resmi di kepanitiaan. Tapi tidak kami lakukan, karena sebagai sesame warga yang mengais rejeki dalam acara kupatan di desanya,” jelas Khamluddin.(DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
TRENDING :  Bintang Jatuh dengan Tahajjud

Share This Post