Sinau Gondelan Klambine Kanjeng Nabi Bareng Emha Ainun Nadjib

oleh
Pengunjung tumpah ruah di lapangan jepang mejobo yang dihadiri cak nun bersama kiai kanjeng malam itu, jum'at (28/4/2017). Foto:Abdul Jalil

Kudus, isknews.com – Bertempat di Lapangan Pancasila Desa Jepang Kecamatan Mejobo Kudus, telah berlangsung sinau bareng Emha Ainun Nadjib dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, lantunan lagu-lagu dan musik iringan KiaiKanjeng membuka perjumpaan malam itu, Jum’at, (28/4/2017).

Pengunjung tumpah ruah di lapangan jepang mejobo yang dihadiri cak nun bersama kiai kanjeng malam itu, jum’at (28/4/2017). Foto:Abdul Jalil

“Lagu-lagu KiaiKanjeng ada hubungannya dengan tema malam ini (Gondelan Klambine Kanjeng Nabi). KiaiKanjeng tidak percaya pada konsep hiburan sebagaimana selama ini umum dipahami,” tegas cak nun (panggilan akrab dari Emha Ainun Nadjib)

Di panggung, Cak Nun duduk ditemani Pak Hilmi dari Sukun, Kiai Abdul Jalil, Habib Anis Sholeh Ba’asyin, dan narasumber lainnya. Beliau-beliau naik bersama Cak Nun dan ikut merasakan atmosfer spiritual yang dibangun Cak Nun sejak awak serta menyaksikan kekhusyukan para jamaah.

TRENDING :  Putusan MK Soal Kolom Agama Penghayat di KTP Disambut Positif Warga Samin Kudus

Sebelum omong-omong atau apapun, kita harus ridho terlebih dahulu. Sebab, Allah sendiri juga mengajarkan demikian. Kita ridho dulu kepada Allah, baru kemudian Allah meridhoi. Ridho juga berarti hati yang sumeleh, tak ada dendam, alias wis sukun: tenang. Demikianlah Cak Nun membangun landasan spiritual perjumpaan malam ini. Semuanya lalu diajak bersama-sama melantunkan Ya Allah Ridho dipandu oleh Mbak Yuli KK.

Pilihan lantunan Ya Allah Ridlo ini terasa sangat pas momentumnya. Yaitu tak lama setelah jamaah dan hadirin diajak tahlilan oleh Kiai setempat. Dengan masuk pada Ya Allah Ridho serasa arasy spiritual itu diajak meninggi lagi oleh Cak Nun.

TRENDING :  Delapan Kios dan Belasan Lapak di Pasar Jepara 2 Terbakar

Baik Cak Nun maupun Mbak Yuli keduanya membangunkan suasana khusyuk yang sangat kuat. Pelan-pelan kemudian Cak Nun menuntun pembacaan diri jamaah atas hidup dan hubungan diri dengan Allah. Kalau bicara ridho Allah, apa yang dimintakan ridho dari Allah. Satu per satu jamaah dibimbing menemukan. Ilmu yang diterima, istri atau keluarga, pekerjaan, kehendak atau niat, adalah beberapa yang dimintakan ridho Allah.

Pertanyaan selanjutnya, kepada siapa kita menitipkan harapan dan erasaan hati kita kepada Allah? Sejenak pertanyaan ini dilontarkan. Tidak dengan cepat tercapai jawabannya, karena memang logika Cak Nun ini melingkar. Walaupun akhirnya semua memahami arahnya, yaitu Kanjeng Nabi Muhammad. “Rasulullah itu bukan hanya utusan Allah kepada kita, melainkan juga ‘utusan’ kita kepada Allah…,” terang Cak Nun yang sekaligus sudah menyentuh tema Sinau Bareng ini: Gondelan Klambine Kanjeng Nabi.

TRENDING :  ​Forum UMKM Didukung Bank BNI 46 

Selanjutnya, dengan vibrasi spiritualnya Cak Nun mengajak seluruh jamaah melantunkan beberapa nomor shalawat Nabi. Sebuah iftitah majelis yang sangat tepat. Menetapkan sikap batin terlebih dahulu kepada Allah dan Rasulullah. Demikianlah Cak Nun dan KiaiKanjeng malam ini, sesudah malam-malam sebelumnya di bernagai tempat, menemani masyarakat untuk mengambil jarak dari segala yang membelit hidup agar bisa menyikapi hidup dengan pandangan yang lebih benar dan presisi. (AJ)

Dikutip sebagian dari Caknun.com

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*