Sisi Lain Dari Tradisi Dandangan, Antara Religiusitas Dan Bisnis

oleh
Foto: Bukan hanya penjual makanan dan pakaian, juga penjual gerabah pun ikut meramaikan tradisi Dandangan di Kudus. (Darmanto Nugroho/isknews.com)

Kudus, ISKNEWS.COM – Perayaan tradisi Dandangan di Kudus, pada 2018 ini, menurut rencana akan dilaksanakan pada 20 Sya’ban 1439 H – 6 Mei 2018, sampai satu sebelum datangnya Ramadhan. Selama 10 hari berlangsungnya Dandangan itu, ratusan pedagang kaki lima (PKL), dengan bermacam jenis dagangan, serta sejumlah wahana hiburan, akan “memanjakan’ pengunjung tradisi yang berlangsung puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun itu.

Ditinjau dari asal-usulnya, tradisi Dandangan di Kabupaten Kudus, tidak bisa dipisahkan dari sosok Sunan Kudus, tokoh penyebar Agama Islam, salah satu dari Walisongo yang juga diyakini sebagai pendiri Kota Kudus.

Dalam salah satunya dakwahnya yang bertujuan memberikan pengumuman kepada masyarakat, terkait dengan datangnya awal Ramadhan, Sunan Kudus mempunyai cara unik, yakni dengan membunyikan bedug yang ada di Masjid Menara Kudus.

Bunyi bedug yang menderandang (bertalu-talu) itu terbukti mampu mengundang kerumunan masyarakat yang ingin mengetahui dan melihat apa yang terjadi di Masjid Menara. Pada saat itulah, Sunan Kudus memberikan pengumuman tentang awal Ramadhan kepada masyarakat umat Islam yang tidak hanya berdatangan dari Kudus, melainkan juga dari Jepara, Pati, Demak dan Grobogan.

TRENDING :  Tradisi Dandangan Di Kabupaten Kudus 1439H di Mulai 6 Mei

Berkumpulnya masyarakat yang selain untuk mendengarkan pengumuman datangnya bulan puasa dan menjalankan shalat tarawih itu, dimanfaatkan oleh warga sekitar Masjid Menara yang menjajakan dagangan berupa makanan, nasi dan lauk pauk kebutuhan untuk sahur di hari pertama menjalani ibadah bulan puasa.

Pada akhirnya, seiring berjalannya waktu, bukan hanya penjual makanan saja, penjual pakaian, gerabah, mainan anak-anak pun ikut meramaikan tradisi Dandangan itu, tidak ubahnya seperti pasar malam.

Ditinjau dari setting tempat dan waktu, serta sejarahnya yang disampaikan secara lisan dan turun-temurun, tradisi Dandangan sarat dengan nilai-nilai religiusitas. Masyarakat yang berbondong-bondong datang, untuk melihat prosesi upacara atau tradisi menyambut datangnya awal Ramadhan itu, termotivasi oleh suasana religius menyambut bulan suci yang penuh rahmat.

Adalah wajar saja kalau kemudian pada setiap terjadinya keramaian, timbul peluang dan kesempatan bagi masyarakat lain sebagai penjaja makanan untuk pelepas lapar dan haus. Bermula dari itulah, semakin lama, jumlah pedagang semakin lama semakin berkembang dan bertambah banyak.

TRENDING :  Daba Volley Cup 2018 Ajang Jaring Atlet Muda

Pada sisi inilah yang kemudian terjadi pada tradisi Dandangan di waktu-waktu berikutnya, hingga saat ini, telah terjadi pergeseran nilai-nilai, dimana dorongan religius menjadi kian bias dimonopoli oleh kepentingan ekonomi atau bisnis.

Hal ini terjadi karena pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) selaku pengelola langsung, cenderung hanya memikirkan keuntungan ekonomi saja. Esensi religius yang terkandung dalam tradisi Dandangan seolah terabaikan.

Fenomena ini tampak kesibukan aparat pemerintah yang hanya lebih fokus pada penataan kapling- kapling stand untuk para pedagang, sementara acara yang sifatnya mengarah kepada edukasi religius, hanya sekadar untuk visualisasi.

TRENDING :  Yakin Menang Dengan 4 Modal

Pengajuan untuk menyewa kapling stand bagi para pedagang sudah diagendakan sekitar satu bulan sebelumnya. Bahkan besar kemungkinan telah diberlakukan semacam member atau langganan tetap bagi sejumlah pedagang yang setiap tahun berjualan di arena tradisi Dandangan itu.

Hal itu bisa dilihat pada pedagang yang menempati stand tertentu, terdapat kesamaan pada penjualnya, juga jenis dagangannya. Tidak aneh, kalau yang akan dijumpai adalah para pedagang itu justru kebanyakan berasal dari luar daerah, bahkan dari luar provinsi.

Keuntungan dari hasil sewa kapling yang cukup besar untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD) itulah yang kemungkinan bisa jadi membuat pengelola lebih mempriotaskan segi keuntungan ekonomi. Itulah sisi lain yang terjadi pada tradisi Dandangan, antara kepentingan religius dan bisnis. (DM/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :