Sistem Close House Jadi Solusi Ternak Ayam Boiler yang Ramah Lingkungan

oleh
ISKNEWS.COM
Foto: Kondisi luar kandang ayam dengan sisten close house di Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jumat (23-03-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Saat melintas di kawssan pengrajin bata di Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Dari hamparan sawah yang membentang luas, terlihat sebuah rumah panggung dari bambu dengan dinding dari terpal berwarna biru tua.

Dengan rasa penasaran, isknews.com mencoba mendekat ke rumah tersebut. Di gerbang masuk, kami disambut oleh pendingin udara besar yang berjajar tiga menghadap ke samping gerbang.

Dari pendingin udara tersebut, tercium aroma khas ayam yang cukup menyengat hidung. Perjalanan kami lanjutkan ke ujung bangunan ini. Dalam perjalanan tersebut, kami tidak menemukan kotoran maupun bulu-bulu ayam yang berserakan seperti kandang ayam pada umumnya. Sehingga bau yang ditimbulkan dari kandang ayam tersebut tidak tertalu menusuk.

Sesampainya di ujung rumah panggung tersebut, kami bertemu seorang anak muda yang tengah menyiapkan pakan unggas atau pur. Bagus Sadewa Ainun Najib namanya. Mahasiswa semester empat Jurusan Tehnik Mesin Universitas Muria Kudus ini, mengaku telah lama membantu orang tuanya mengelola peternakan ayam boiler tersebut.

Najib, sapaan karibnya, mengungkapkan bahwa orang tuanya menggeluti usaha ternak ayam boiler sejak 15 tahun yang lalu. Awal mulanya, orang tuanya bekerja sebagai pedagang di salah satu pasar di Kota Menara ini.

TRENDING :  Bupati Kudus Terpilih Diharap Jadikan PAUD Program Wajib Belajar

Saat itu, orang tuanya membuka usaha ternak ayam boiler sebagai peluang bisnis yang prospektif, akhirnya mereka mencoba banting setir ke usaha ini. “Saat itu modal yang digunakan untuk membeli peralatan dan pembuatan kandang sangatlah besar. Kalau ditotal secara keseluruhan menyentuh angka Rp 200 juta,” kata Najib, Jum’at (23-03-2018).

Awalnya orang tua Najib membuka usaha tersebut secara perseorangan. Karena merasa mengalami sejumlah kendala dari segi pemasaran, operasional dan finansial. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjalankan bisnis tersebut secara mitra.

ISKNEWS.COM
Foto: Kondisi dalam kandang ayam dengan sisten close house di Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jumat (23-03-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Dibawah naungan sebuah perusahaan, Najib menjalankan oprasional peternakan ayam boiler ini. Berbagai kebutuhan usaha tersebut telah disediakan oleh pihak perusahaan. Dari bibit, pakan, vaksin hingga pemasaran, semuanya menjadi kendali perusahaan. Singkat cerita, tugas Najib dan orang tuanya hanya merawat ayam boiler tersebut dari bibit hingga masa panen.

Semenjak mengubah usahanya yang mulanya berbasis perorangan menjadi mitra, Najib mengaku mengalami sejumlah perubahan positif. Jika dahulu kandangnya menggunakan sistem terbuka atau Open House, dimana kotoran dan bulu-bulu ayam dengan mudah jatuh dan mengotori area kandang. Selain itu, bau yang ditimbulkan begitu menusuk hidung dan sanitasi di area kandang nampak begitu buruk.

TRENDING :  Pekan Panutan SPT Tahunan PPH OP, Musthofa Ajak Warga Taat Pajak

Sirkulasi udara yang terlalu bebas, juga dirasa tidak bagus untuk kesehatan ayam boiler. Dengan kondisi kandang yang terbuka, suhu udara menjadi tidak stabil menjadikan ayam boiler mudah terserang berbagai penyakit dan mati.

Peralihan dari sistem Open House menuju Close House tidak dipungkiri pria 22 tahun ini menelan biaya yang tidak tanggung-tanggung. Uang sebesar Rp 300 juta terkucur untuk membeli peralatan pendukung kandang seperti pendingin udara.

Namun hal tersebut sebanding dengan hasil yang didapatnya. Dengan sistem Close House, sanitasi di area kandang lebih bagus, bau menyengat dari kotoran tidak separah dahulu, bulu-bulu dan tinja ayam tidak lagi mengotori dan menggangu pemandangan. Dan yang terpenting, ayam-ayam tersebut lebih sehat karena suhu udara di dalam lebih mudah dikendalikan dan disesuaikan dengan standar yang ada.

“Setelah menggunakan sistem ini, ayam-ayamnya tidak mudah lagi terkena penyakit dan mati. Di sisi lain, dengan adanya sistem ini saya tidak lagi ditegur oleh masyarakat terkait bau dan sanitasi yang dianggap menggangu,” ucap Najib.

Karena menggunakan sistem Close House, kotoran dan bulu ayam tidak menumpuk dan mengotori kandang. Akibatnya kondisi sanitasi di dalam kandang sangat kotor dan dapat mempengaruhi kesehatan ayam.

TRENDING :  Kemas Gema Ramadhan Dalam Bentuk Dialog Kebangsaan

Jika kondisi kandang kotor, makan ayam akan mudah terserang penyakit. Untuk mensiasatinya, Najib menaburkan dan melapisi lanatai kandang dengan sekam. Tujuannya agar kandang senantiasa terlihat bersih, sehingga ayam tidak mudah terjangkit penyakit. Untuk penaburan sekam tersebut dilakukan secara rutin satu hari sekali.

Menurut mahasiswa Jurusan Mesin ini, usaha ternak ayam boiler sampai saat ini masih begitu prospektif. Tingginya permintaan ayam boiler di sejumlah Kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogjakarta dan Surabaya, menjadi sebuah lahan ideal untuk mendulang pundi-pundi rupiah.

“Usaha ini masih begitu prospektif, sehingga jangan takut untuk memulai usaha ini. Dalam menekui usaha ini yang penting adalah kerja keras dan yakin.” tutur Najib.

Ia menyarankan kepada masyarakat yang ingin merintis usaha ini untuk memilih menggunakan sistem Close House yang dirasa lebih effektif dan ramah lingkungan. Meskipun dana untuk membuat kandang seperti itu menelan biaya yang sangat besar. akan tetapi hal tersebut sebanding dengan hasil yang diraih. (NNC/RM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :