SMP Pentaskan Teater Diprogram Gerakan Seniman Masuk Sekolah

oleh

PATI, ISKNEWS.COM – SMPN 1 Sukolilo turut serta dalam progam Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang digelar oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Disdikbud Kabupaten Pati.

Dalam pagelaran tersebut, SMP N 1 Sukolilo memilih untuk membawakan pentas teater. Selain memberikan pembelajaran kesenian kepada para siswa, cara itupun dinilai cukup baik untuk menjadi pembelajaran karakter terhadap siswa-siswinya.

Apalagi lakon yang dibawakan cukup menarik. Yakni berjudul Dalang dan Wayang karya Cucu S dan Koko Sondari. Dalam prosesnya naskah itu disutradarai oleh Beni Dewa salah satu pegiat teater di Kabupaten Pati.

Panji Subrata, Pembina teater SMPN 1 Sukolilo mengatakan, naskah itu sendiri menceritakan gonjang ganjing dunia pewayangan teater Essako. Lantaran tak suka diperintah, para wayang berusaha melakukan perlawanan kepada Ki Dalang.

TRENDING :  40 lebih Sekolah di Jateng Ramaikan “SMASA Cup Basketball Competition”

Setelah berhasil memperdaya para penjaga, para wayang akhirnya berhasil menangkap Ki Dalang. Mereka pun bergembira atas keberhasilannya. Mereka senang lantaran telah terbebas dari aturan-aturan Ki Dalang.

“Hanya saja dari situ justru muncul konflik baru. Tanpa Ki Dalang wayang-wayang justru terlibat perselisihan. Tanpa aturan yang jelas, mereka justru rawan saling menyalahkan bahkan membuat hubungan mereka kian runyam,”terang Panji.

Dikatakannya cerita itu memang sengaja dipilah lantaran ada kemiripan kejadian di dunia anak. Seringkali di masa beranjak remaja, anak-anak akan mengalami pergolakan batin yakni akan tertarik untuk mencari “kebebasannya” sendiri.

“Mereka lebih suka jika tidak ada aturan yang mengekang. Anak seringkali menganggap aturan di sekolah atau yang diberikan guru sebagai hal yang merepotkan. Padahal seringkali para siswa belum menyadari jika aturan itu dibuat untuk kebaikan mereka sendiri. Seperti halnya orang tua yang tentu mengarahkan anaknya untuk hal yang baik,”jelasnya.

TRENDING :  Tiga Rumah dikabarkan Hampir Habis Dilalap Sijago Merah

Kemudian, pengalaman lah yang akan membuktikan. Para siswa atau anak biasanya baru akan sadar jika telah menerima dampak jika melanggar aturan tersebut. Dalam lakon ini wayang-wayang akan merasa kehilangan setelah tidak adanya dalang.

Beruntung, sosok dalang atau yang bisa digambarkan sebagai guru atau orang tua akan selalu menyayangi anaknya. Mereka akan tetap memberikan maaf dan tak pernah bosan memberikan arahan agar anaknya mendapat hal yang terbaik.

“Ada banyak pembelajaran moral yang dapat diambil dari naskah itu. Diharapkan para siswa dapat menyadari jika ada aturan, kedisiplinan dan rasa tanggung jawab dalam kehidupan ini. Bahwa aturan diciptakan bukan untuk mempersulit, namun justru membantu agar tidak mudah terjatuh pada sebuah kesalahan,”imbuhnya.

TRENDING :  TPI I Juwana Akan Direvitalisasi

Selain itu dalam pendidikan moral juga terlihat saat proses teater. Dalam belajar berteater para siswa diharuskan berproses secara kolektivitas atau tidak bisa berdiri sendiri. Antar pemain, antar pemain dengan tim music, pemain dengan tim setting harus saling mendukung.

“Oleh karenanya tidak bisa saling mengalahkan karena telah menjadi satu kesatuan. Tanpa kehadiran salah satu unsur dipastikan akan sangat menganggu. Oleh karenanya para siswa yang tergabung didalamnya pun diharapkan bisa berproses dengan keakraban. Karena tanpa rasa saling memiliki maka tidak bisa tercipta pementasan yang harmonis,”ujarnya. (wr/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :