Sprinkler, Teknologi Tepat Guna yang Murah di Musim Kemarau

oleh
Sprinkler, Teknologi Tepat Guna yang Murah di Musim Kemarau
Foto: Harjono disamping Sprinkler berputar menyiramkan air ke sekelilingnya yang ditanami hortikultura di halaman BPP kecamatan Jekulo. (Istimewa)

Kudus, ISKNEWS.COM – Dengan bahan sederhana, petani zaman now bisa menggunakan sprinkler untuk efiseinsi dan efektifitas irigasi tanaman holtikultura. Tak perlu khawatir, biaya untuk pembuatan sebuah sprinkler sederhana sangatlah murah, bahkan kurang dari dari Rp. 10 ribu.

Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Jekulo, Harjono, mengatakan petani zaman now harus cerdas dalam menggunakan teknologi pertanian. Jangan terpaku pada teknologi berbiaya tinggi, namun cobalah mensiasati dengan teknologi tepat guna dengan bahan baku lokal.

“Cobalah untuk menciptakan dan menggunakan teknologi tepat guna dengan biaya yang murah. Seperti sprinkler sederhana yang digunakan untuk irigasi tanaman holtikultura ini. Teknologi ini terbukti hemat biaya dan hasilnya bagus bagi tanaman sayur dan cabai di halaman BPP Jekulo,” jelasnya.

TRENDING :  UMKM Bisa Terbang Tinggi Jika Tertib Perizinan

Diungkapkannya untuk membuat satu sprinkler biayanya tidak lebih dari harga satu paks rokok atau kurang dari Rp. 10 ribu. Mengingat, pada musim kemarau seperti ini, tanaman rentan mengalami kekeringan. Sehingga petani harus cerdas dalam memanfaatkan teknologi.

Dia mengklaim, penggunaan sprinkler ini dapat membantu petani dalam menghemat tenaga dan penggunaan air. Pasalnya, jarak lotaran air dari lubang pipa sprinkler bisa mencapai radius 2 meter. Sehingga untuk proses irigasi sawah bisa diletakkan beberapa sprinkler dengan jarak 4 meter antar titiknya.

TRENDING :  Alasan Kesehatan, Pertapa di Puncak 29 Muria Dievakuasi Paksa

“Cara pembuatannya sangat mudah dan mennggunakan bahan sederhana. Jika di rumah ada pipa pemasangan kabel malah tidak usah beli. Lalu, kalau mempunyai lem, tinggal butuh ketrampilan menyambung saja,” cetusnya sambil tertawa.

Cara kerjanya juga sederhana. Lanjut Harjono, air dari kran dialirkan melalui selang atau pipa. Lalu naik ke atas atau T berdiri. Setelah itu, air akan menyemprot ke lubang-lubang pipa yang dibuat berlawanan di kanan dan kiri.

TRENDING :  Perang Obor Meriahkan Acara Komunitas VW Jateng - DIY

“Lubang yang tidak sejajar, otomatis menjadi tenaa penggerak pipa bagian atas, sehingga pipa atas akan bergerak sambil menyemprotkan air,” terangnya.

Dengan sprinkler ini, petani tidak perlu berkeliling menyiram tanaman satu persatu. Selain itu, air juga langsung menuju tanaman, tidak melalui selokan atau parit antar tanaman yang mengakibatkan banyak air yang terbuang.

“Dengan alat ini, petani yang memiliki luas tanah satu hektar hanya membutuhkan 10 spinkler dengan biaya tidak lebih dari 100 ribu. Pastinya lebih hemat.” terangnya. (NNC/WH).

KOMENTAR SEDULUR ISK :