Stok Pangan Cukup, Petani Pertanyakan Kebijakan Impor Beras

oleh
Stok Pangan Cukup, Petani Pertanyakan Kebijakan Impor Beras
Foto: Salah seorang petani di Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti Pati sedang memeriksa air di areal persawahannya. (ivan nugraha/ISKNEWS.COM)

Pati, ISKNEWS.COM – Polemik kebijakan pemerintah terkait rencana impor beras, memicu reaksi berbagai pihak, terutama para petani. Mereka secara lantang meneriakkan penolakan terhadap rencana tersebut. Melihat pengalaman yang lalu, harga jual gabah menurun drastic ketika pemerintah melakukan impor beras. Hal inilah yang ditakutkan para petani jika pemerintah terus memaksakan kehendak untuk merealisasikan kebijakan tersebut.

Salah seorang petani Desa Puncel Kecamatan Dukuhseti Pati, Mu’alimin mengaku setiap kali ada kebijakan impor beras, para petani selalu terdampak. Seperti pada impor beras sebelumnya, harga gabah turun hingga Rp 1.000 per kilogram.

TRENDING :  Begini Gembiranya Santoso Yang Malang

“Kalau beras impor sampai masuk, otomatis harga akan jatuh. Siapa lagi yang jadi korban ? Ya petani,” tukasnya.

Dia juga menerangkan, harga gabah Rp 5.200 per kilogram merupakan harga yang wajar. Biasanya petani akan menjual gabah saat kisaran harga gabah lebih tinggi. Pasalnya, petani pun mesti berhitung biaya produksi, mulai harga sewa lahan mempersiapkan benih, pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, perawatan, hingga panen dan pascapanen.

TRENDING :  Kabar Gembira, Biaya Perpanjangan STNK Turun

Hal senada juga diungkapkan petani lain asal Desa Ngagel, Suprihadi. Ia menilai, ketersediaan beras tak hanya bisa diukur dari cadangan beras yang berada di gudang Bulog saja. Sebab, petani di pedesaan pun masih menyimpan gabah dan menunggu saat harga beranjak tinggi.

“Jadi fenomena ini sangat wajar. Seandainya petani masih enggan menjual dan menyimpan gabahnya di lumbung. Pasalnya, begitu panen raya, harga gabah jatuh. Mereka pun menunggu supaya harga gabah dan beras naik. Siapa yang mau jual gabah saat harganya rendah. Kalau sekarang, harga gabah sekitar Rp 5,2 juta per ton,” ujarnya.

TRENDING :  Camat Pucakwangi Ingatkan Kades Segera Ajukan Anggaran DD

Dikatakan, petani akan menjual gabahnya saat sudah memasuki musim tanam. Biasanya pada akhir tahun atau awal tahun. Karenanya, ia mengajak masyarakat tak risau dengan ketersediaan gabah di petani. Ia pun yakin, persediaan gabah di tingkat petani cukup untuk persediaan pangan nasional. (IN/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :