Stop Kebiasaan Kenyang Makan Tetapi Lapar Gizi

oleh
Stop Kebiasaan Kenyang Makan Tetapi Lapar Gizi
Foto: Makananan sehat yang memenuhi aspek kualitas B2SA, Senin (25-06-2018). (Istimewa/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Penyakit maag dan diare maupun sembelit merupakan penyakit yang kerap terjadi di masyarakat. Perlu diketahui, bahwa penyakit ini merupakan salah satu akibat dari pola makan yang tidak sesuai. Bahkan sebuah survey berhasil membuktikan bahwa 90 persen kualitas kesehatan manusia tergantung pada kualitas makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Disampaikan oleh Ari Mulyani, Kasie Konsumsi dan Keanekaragaman Pangan, Bidang Pangan Dispertan Pangan dihadapan ibu kader PKK, untuk meningkatkan konsumsi gizi makanan keluarga pada bintek penyusunan menu keluarga Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA).

“Dari sekarang, mulailah mencintai makanan tradisional yang berkualitas dan berbasis B2SA untuk meningkatkan gizi masyarakat. Pillihlah makanan yang mengandung Karbohidrat, Protein, maupun Vitamin dan Mineral,” paparnya, di aula Dinas Pertanian dan Pangan beberapa waktu yang lalu.

TRENDING :  Sampai Awal Maret 2017, Angka Kematian Ibu di Kudus Capai 7 orang

Makanan yang dikonsumsi tidak hanya beragam, tetapi juga perlu dipastikan tidak mengandung zat ataupun senyawa yang berbahaya. Karena makanan yang baik itu, harus memenuhi syarat Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA).

“Beragam maksudnya tidak terpaku pada satu jenis bahan bahan makanan. Bergizi artinya memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan tubuh. Seimbang yaitu jumlah masing-masing bahan sesuai dengan kebutuhan. Dan aman artinya bebas dari kontaminasi fisik, kimia dan mikro biologis atau tidak mengandung zat yang berbahaya,” jelasnya.

Makanan seperti itu sangat diperlukan tubuh untuk tetap sehat dan produktif. Dan untuk mengukur kualitas hidup dan sumber daya manusia bisa dilakukan dengan pengukuran status gizi. Untuk itu, Ari menyarankan untuk membiasakan mengkonsumsi makanan B2SA dan berkualitas.

TRENDING :  Desa Ngurenrejo Pertama di Kecamatan Wedarijaksa Yang Canangkan Kampung KB

Dalam menyusun menu makanan keluarga juga harus memperhatikan nilai gizi, biaya yang tersedia, mudah diperoleh dan dapat diterima oleh seluruh anggota keluarga. Untuk mensiasati hal tersebut, bisa dilakukan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.

“Karena harganya yang relatif lebih murah, mudah didapat serta kualitasnya yang bagus. Untuk meningkatkan mutu gizi konsumsi pangan keluarga kuncinya adalah mengubah kebiasaan konsumsi pangan masyarakat,” tegasnya.

Dengan penerapan pola makan seperti ini diharapkan tidak ada lagi permasalahan gizi di wilayah Jawa Tengah. Mengingat beberapa tahun belakangan ini permasalahan gizi seperti gizi kurang maupun gizi buruk mulai muncul kembali di Jawa Tengah, terutama pada golongan masyarakat kurang mampu. Umumnya pada anak yang tergolong rawan gizi.

TRENDING :  Penilaian TNI Manunggal KB Kesehatan (TMKK) Di Desa Soneyan.

Ari mengakui salah satu faktor penyebab masalah gizi yang terjadi selama ini adalah terbatasnya pengetahuan dan kesadaran gizi masyarakat. Padahal selama ini pangan sangat beraneka ragam. Hanya saja, masyarakat belum sadar untuk memilih dan mengkonsumsi makanan yang memiliki nilai gizi.

“Makan itu tidak sekedar kenyang namun juga harus terpenuhi kebutuhan gizinya. Jangan sampai kita kenyang tetapi lapar gizi. Lihatlah makanan dari kualitasnya, bukan hanya kuantitasnya saja,” papar Ari.

Selain itu, cara pengolahan bahan makanan juga perlu diperbaiki sehingga kandungan gizi didalam makanan tidak rusak atau hilang setelah diolah. Dengan begitu, manfaat dari makanan yang dikonsumsi tetap terjaga dan bermanfaat bagi tubuh. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :