Teaching Factory, Sinergi SMK dengan Dunia Usaha dan Industri

oleh
Suasana Bimtek teaching factory di SMK RUS (foto: YM)

Kudus, isknews.com – Sebanyak 300 kepala SMK di penjuru Indonesia guna meningkatkan kualitas sekolah berbasis vokasi di Indonesia mengikuti
bimbingan teknis bantuan pengembangan teaching factory di SMK Raden Umar Said Kudus.

Acara yang di gelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI dan Djarum Foundation ini juga memberi kesempatan para peserta Bimtek untuk mengunjungi SMK Raden Umar Said, SMK NU Banat Kudus, dan SMK Wisudha Karya, Kamis (25/04/2019).

Kasubdit Kurikulum Direktorat Pembinaan SMK, Mochamad Widiyanto mengungkapkan bimtek kali ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas sekolah berbasis vokasi yang sangat diperlukan untuk mencetak bibit-bibit unggul di era revolusi industri 4.0.

Mereka juga berkesempatan untuk mengunjungi SMK Raden Umar Said, SMK NU Banat Kudus, dan SMK Wisudha Karya. Kasubdit Kurikulum Direktorat Pembinaan SMK, Mochamad Widiyanto mengungkapkan bimtek kali ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas sekolah berbasis vokasi yang sangat diperlukan untuk mencetak bibit-bibit unggul di era revolusi industri 4.0.

TRENDING :  Kafilah Jawa Tengah Juara Umum, Rembang Sumbang 8 Piala

Dituturkannya, saat ini Kemendikbud ingin memposisikan sekolah kejuruan atau vokasi sebagai garda terdepan dalam menjawab tantangan revolusi industri 4.0. Dimana revolusi ini merupakan suatu tahapan kemajuan dari proses peningkatan efektivitas serta kreatifitas berbasis teknologi informasi.

Terlebih lagi, revolusi industri 4.0 yang terjadi saat ini menuntut para pelaku usaha dan industri untuk mencari tenaga kerja yang berkualitas tinggi dan memiliki kompetisi khusus.

“Sehingga kondisi tersebut membuat proses pembelajaran yang ada di sekolah vokasi perlu diadakannya sebuah penyesuaian,” ujarnya.

Ia mengatakan, untuk menjawab tantangan itu, pihaknya menekankan pentingnya keberadaan teaching factory. Yakni sebuah konsep pembelajaran yang berorientasi pada produksi dan bisnis. Adapun pembelajaran melalui teaching factory ini merupakan sebuah proses penguasaan keahlian atau ketrampilan yang dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar kerja.

TRENDING :  Madrasah Diniyah Dinilai Bisa Dijadikan Filter Kemajuan Teknologi

“Sehingga melalui proses ini sekolah memiliki suatu perencanaan, pelaksanaan, sehingga penilaian yang berkolaborasi dengan dunia usaha dan industri. Yang mana pada akhirnya, menjadi sebuah proses pembelajaran yang dapat melahirkan peserta didik yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri,” paparnya.

Untuk itu, Kemendikbud mengajak 300 kepala SMK dari penjuru Indonesia untuk datang ke SMK Raden Umar Said, SMK Wisuda Karya, dan SMK PGRI 1 Kudus. Yang mana ketiga SMK tersebut sudah menerapkan konsep pembelajaran melalui teaching factory di sekolahnya. Bahkan kurikulum pendidikan di ketiga sekolah itu, juga sudah disesuaikan untuk menjawab kebutuhan dunia usaha dan industri.

“Pembelajaran dari kunjungan ini adalah pentingnya kolaborasi antara SMK dengan pihak lain khususnya industri sehingga menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lainnya  untuk menerapkan hal serupa,” ungkapnya.

TRENDING :  Wisuda Akbid Kudus : Di Tengah Masyarakat Adalah Pembelajaran Yang Sebenarnya

Hal senada, diungkapkan oleh Program Associate Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Galuh Paskamagma. Dia menuturkan bahwa penerapan teaching factory merupakan salah satu jawaban terhadap kesenjangan yang selama ini terjadi. Baik antara proses belajar peserta didik dengan kebutuhan diperlukan dunia usaha dan indsutri.

Ia menambahkan, ada dua manfaat utama yang didapat dari teaching factory ini. Pertama siswa memiliki ketrampilan yang dibutuhkan oleh industri dan berguna untuk memperkaya portofolio siswa.

“Kedua sekolah memiliki pendapatan tambahan untuk membantu biaya operasional sekolah. Pada akhirnya kunci sukses dari teaching factory ini adalah adanya sinergi yang baik antara pihak sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri,” pungkasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :