Ternyata Ada Pesan Tersirat dari Tradisi Manganan

oleh
ISKNEWS.COM
Foto: Seorang Warga yang tengah melakukan tradisi manganan, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (05-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Di tengah perjalanan isknews.com menyusuri ladang kencur yang ada di Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Tanpa disengaja pandangan isknews.com tertuju pada sebuah aliran air dari salah satu ujung percabangan jalan.

Di ujung aliran air tersebut terlihat sebuah bangunan kecil yang nampak kurang terawat. Pada bangunan tersebut terlihat beberapa sarung yang digantungkan pada seutas tali. Dengan rasa penasaran yang besar, isknews.com memutuskan untuk melihat lebih dekat tempat tersebut.

Rimbunnya pepohonan yang ada di sekitar tempat tersebut menciptakan suasana yang begitu sejuk. Suara gemercik air dari sebuah belik kecil di sebelah barat bangunan, seolah menyambut kedatangan kami.

Sesampainya di depan bangunan kecil tersebut, terlihat sebuah keluarga kecil tengah berdoa dengan begitu khidmat. Di depan mereka terlihat sebuah ingkung (satu ekor ayam utuh yang dimasak opor -red) yang diletakkan dalam sebuah ember kecil.

TRENDING :  Razia Petasan di Kudus Digencarkan

Usai berdoa, mereka kemudian menyantap ingkung bersama-sama. Kehangatan keluarga tergambar jelas di sana. Setelah menyantap ingkung, mereka membersihkan tangan dan wajah mereka dengan air belik tersebut. Lalu berkemas-kemas untuk meninggalkan tempat tersebut.

Saat berpapasan dengan mereka, isknews.com menyempatkan diri untuk menyapa dan mengobrol singkat. Dalam obrolan singkat, kepala keluarga tersebut, Supriyanto (35), mengungkapkan kedatangannya ke tempat tersebut untuk melakukan tradisi manganan. Tradisi tersebut dilakukan sebagai wujud ungkapan rasa syukur, atas nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa pada keluarga kecilnya.

ISKNEWS.COM
Foto: Seorang Warga yang tengah melakukan tradisi manganan, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (05-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

“Dahulu saya pernah bernadzar jika memiliki rezeki yang berlimpah, akan melakukan manganan di Belik Gong. Kebetulan saat saya merantau ke luar Jawa beberapa waktu lalu, saya diberikan kelebihan rezeki. Sehingga kini saya menjalankan nadzar tersebut,” ucap Supriyanto, Kamis (05-04-2018).

Kepada isknews.com, Supriyanto mengungkapkan, jika tradisi semacam ini masih banyak dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah. Tradisi manganan ini biasanya dilakukan di sebuah tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat. Tempat tersebut bisa berupa Masjid, Petilasan, Punden hingga Belik seperti yang dilakukan oleh dirinya.

TRENDING :  Kabag Humas Pamitan Kepada Awak Media

Untuk bekal yang dibawa beragam. Ada yang menggunakan ingkung, ada yang kambing dan ada pula yang sekedarnya. “Kalau masyarakat di daerah tersebut menggunakan ingkung, kita juga harus menggunakan ingkung. Bisa juga disesuaikan dengan nadzar yang dahulu diucapkan,” katanya.

Rangkaian kegiatan manganan diawali dengan pembacaan doa, dilanjutkan dengan penyantapan ingkung oleh orang yang bernadzar atau pelaksana hajat. Setelah itu, biasanya ingkung tersebut dibagikan ke tetangga, sanak keluarga atau orang yang ada di sekitar lokasi manganan.

TRENDING :  Yayat Siap Arsiteki Kembali Persiku

Menurut Supriyanto, tradisi ini sebenarnya mengurai sebuah pesan yang mendalam. Tradisi manganan mengajarkan manusia untuk lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Di sisi lain, manusia yang diberikan kelebihan rezeki, harus mau berbagi kebahagiaan dengan tetangga dan sanak saudaranya.

“Dalam tradisi ini, ingkung diibaratkan sebagai limpahan rezeki dari Tuhan. Dimana rezeki tersebut tidak boleh dinikmati sendirian, namun harus dibagikan kepada tetangga dan sanak keluarga. Tanpa disadari, tradisi ini berguna untuk memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan di masyarakat. Selain itu, tradisi ini mengajarkan manusia untuk lebih bertanggung jawab dalam menjalankan setiap janji atau nadzarnya. (NNC/RM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :