Tingkatkan Pemeriksaan Antisipasi Kualitas Hewan Kurban

Tingkatkan Pemeriksaan Antisipasi Kualitas Hewan Kurban

Kudus, isknews.com – Jelang Idul Adha atau musim kurban yang tinggal sebentar lagi, Pemerintah Kabupaten Kabupaten Kudus, sejak awal melakukan monitoring ke sejumlah peternakan dan pasar hewan yang ada di Kabupaten Kudus.

Hari raya Idhul Adha yang jatuh pada tanggal 1 September 2017 mendatang, Dinas Pertanian dan Pangan Kudus melalui Bidang Peternakan meningkatkan pemeriksaan guna mengantisipasi penyakit hewan di wilayahnya. Program ini sebagai pelayanan terhadap masyarakat Kudus untuk mendapatkan daging kurban kualitas terbaik.

Hal itu dilakukan untuk memastikan kualitas hewan yang akan dijual, agar memenuhi syarat kurban serta terhindar dari penyakit berbahaya, selain melakukan pemeriksaan hewan ternak hasil produksi peternak di Kudus, pihaknya juga melakukan pemeriksaan terhadap hewan kurban yang berasal dari luar kota, sebagai antisipasi adanya penyakit dari daerah endemik.

Hal tersebut disampaikan oleh Catur Sulistiyanto Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, melalui drh Sa’diyah, Kepala Bidang Peternakan,

“ Kita antisipasi hewan kurban yang berasal dari wilayah selatan Kudus. Untuk nama kota tidak saya sebutkan tetapi ketika pemeriksaan kita beritahukan ke pedagang yang membawanya. Kota-kota endemik antraks yang berhak merilis dari Pemprov ,” kata Sa’diyah disela-sela pemeriksaan kerbau di Dusun Goleng Desa Pasuruhan Lor Kecamatan Jati, Jumat (18/08/17).

BACA JUGA :  Kampung Konservasi Kelor Blora Curi Perhatian Dunia

“ Pemeriksaan kesehatan hewan ternak di wilayah Kudus memang sudah rutin dilakukan melalui mantri ternak. Namun mendekati perayaan Idul Adha makin kita tingkatkan ,” tukasnya.

Dijelaskan, peningkatan pemantauan kesehatan hewan ternak dimulai sejak bulan Juli 2017, guna mencegah kemungkinan masuknya penyakit berbahaya. Penyakit pada hewan ternak yang patut diwaspadai, salah satunya penyakit antraks. Di beberapa kabupaten, penyakit tersebut pernah ditemukan, sehingga sapi yang berasal dari daerah yang diduga pernah ditemukan penyakit tersebut perlu diwaspadai.

“ Alhamdulilah, kalau di Kudus belum pernah ditemukan kasus penyakit antraks pada hewan ternak ,” tuturnya.

Hewan ternak yang menjadi sasaran pemeriksaan kesehatan, tidak hanya hewan ternak yang dijual di pasar ternak, melainkan sejumlah peternak maupun pedagang hewan ternak yang memiliki kandang di rumah juga menjadi sasaran pemeriksaan.

“ Jika ditemukan hewan ternak yang kurang sehat, selain diperiksa juga akan diberikan vitamin dan obat cacing ,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Kesehatan Hewan Kurban Akan Dipantau

” Bagi masyarakat yang ingin memastikan kesehatan hewan ternak yang akan dijadikan kurban, kita mempersilakan mengajukan permohonan pemeriksaan kesehatan melalui surat ditujukan kepada Dinas Pertanian dan Pangan Kudus. Kantor ada di kompleks perkantoran Mejobo atau depan kantor Samsat ,” imbuh Dwi Listyani.Dwi Listyani, Kasie Usaha Sarana dan Prasana Peternakan, menambahkan bahwa hingga kini proses pemeriksaan terhaap hewan ternak masih tetap berlangsung, terutama di pasar ternak yang biasanya terdapat hewan ternak dari luar daerah.

Ditambahkan, Dinas Pertanian dan Pangan juga melayani pemeriksaan kesehatan hewan ternak setelah disembelih. Karena itu disarankan masyarakat yang hendak membeli hewan ternak untuk jadikan hewan kurban agar jeli dan hati-hati, mengingat hewan kurban yang masuk ke Kudus berasal dari sejumlah daerah.

” Selain itu, ada pula pedagang yang mencari keuntungan dengan memanipulasi tanda-tanda hewan kurban. Misalnya, karena tubuh hewan besar kemudian diakali dengan menanggalkan salah satu giginya. Orang kita istilahnya poel buatan. Salahsatu kelemahan pembeli adalah hanya ingin membeli hewan kurban ukuran besar tanpa tahu usia atau poelnya asli ,” ujarnya.

BACA JUGA :  Cukup, Kebutuhan Hewan Kurban Di Kabupaten Kudus

Diterangkan ibu dua anak itu,  usia minimal hewan ternak yang bisa dijadikan hewan kurban, yakni sudah berusia 1,5 tahun untuk kambing dan kerbau maupun sapi sudah berusia dua tahunan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, belum ditemukan adanya hewan ternak yang terserang penyakit. Namun temuan penyakit pada hewan kurban selama ini, penyakit cacing hati yang bisa diketahui setelah disembelih.

“ Cacing hati ini timbulnya dari perilaku pemberi pakan. Yaitu diberi rumput hasil memotongan pagi. Padahal disitu masih banyak bakteri yang menempel, lalu bakteri cacing ini ikut masuk ke perut bersamaan dengan hewan kurban makan rumput ,” cetusnya.

Berdasarkan catatan Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, jumlah terbanyak hewan yang dijadikan kurban berupa kambing, disusul kerbau, sapi, dan domba. Sedangkan populasi hewan ternak di Kabupaten Kudus, untuk kerbau sebanyak 2.260 ekor, sapi sebanyak 9.900 ekor, kambing sebanyak 39.000 ekor, dan domba sebanyak 11.000 ekor.

“ Jadi sebenarnya untuk kebutuhan kambing dan domba untuk hewan kurban sudah mencukupi di Kudus ,” tupungkasnya. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
/div>

Share This Post