Tingkatkan Produktifitas Petani, Mahasiswa UMK Buatkan Alat Pengepres Tembakau

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM – Mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) yang tergabung dalam program kreativitas mahasiswa (PKM) penerapan teknologi, belum lama ini membuat alat yang bisa meringankan kinerja petani tembakau di Desa Banyu Urip Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang.

Mahasiswa tersebut terdiri dari 1 Tim (3 orang), diantaranya Akhmad Rifqi Hidayat, Adi Kurniawan dan Mochamad Rifa’i Abidin. Semuanya dari jurusan teknik mesin, semester 7 Fakultas Teknik, UMK.

Secara tidak langsung, program PKM ikut memikul tanggung jawab moral untuk mencetak anak bangsa yang kreatif, inovatif, dan aplikatif dalam ilmunya untuk masyarakat. Kreasi dan inovasi diibaratkan sebagai layar yang diperlukan untuk menavigasikan arah kemajuan Indonesia di tengah gelombang globalisasi.

Di sisi lain, mahasiswa merupakan motor pengembangan dalam ilmu pengetahuan, sehingga sudah seyogyanya ilmu yang didapatkan diberikan kembali kepada masyarakat dalam bentuk karya nyata.

TRENDING :  Kampanye "Stop Bullying" Pada Anak, Warnai Peringatan Hari Anak Nasional
Tim program kreatifitas mahasiswa (PKM) saat mengunjungi petani tembakau, Rukani, di Desa Banyu Urip, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang.

Salah satu diantara anggota Tim PKM, Ahmad Rifqi Hidayat, kepada isknews.com mengatakan, Bergeraknya kami bertiga untuk berinovasi berawal dari pemberitaan di media terkait terpuruknya panen petani tembakau di Rembang yang berakibat ditolaknya hasil panen oleh Industri (perusahaan).

Dijelaskannya, Kualitas tembakau memang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor cuaca dan faktor pengolahan pasca panen.

Saat Ia bersama dua temannya melakukan survey dilokasi, dapat diketahui bahwa proses pengebalan tembakau atau press di daerah tersebut masih dilakukan dengan menggunakan cara manual. “Alat yang digunakan pun dari papan kayu dan papan tersebut diinjak diatas tembakau pada posisi tembakau didalam papan kayu yang sudah berbentuk kotak,” terang Rifqi.

TRENDING :  Kepala Sekolah Harus Miliki Strategi Pemberdayaan Tenaga Pendidikan

Menurutnya, Pada pengerjaan manual, proses pengoperasiannya lebih cenderung kurang efektif dan sangat menguras tenaga. Selain itu, juga memakan waktu yang lebih lama sehingga kurang efisien.

“Hal itu meeupakan hasil survei yang kami lakukan di Desa Banyu Urip Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang, kepada salah satu petani tembakau tembakau di daerah Gunem Kabupaten Rembang, Rukani,” kata Rifqi.

Dapat diketahui, kapasitas pengebalan atau pengepresan daun tembakau secara manual/tradisional yaitu sekali proses pengebalan atau pegepresan sebesar 50 kilogram. Pada saat sekali proses pengebalan atau press membutuhkan waktu yang relative lama dan menguras tenaga dan juga waktu.

Rukani, dalam menjalankan pekerjaannya masih menggunakan cara konvensional dalam proses pengebalan tembakau, yakni dengan cara papan diinjak diatas tembakau pada posisi tembakau didalam papan kayu berbentuk kotak.

TRENDING :  Dinilai Langgar Peraturan DPRD Kudus, Agus Wariono Gugat Pimpinan Dewan Ke PTUN

“Ada keluhan yang disampaikan kepada Tim ketika melakukan observasi, diantaranya adalah waktu pengebalan tembakau masih lama dan butuh banyak tenaga untuk melakukan pekerjaan itu,” ujar Rukani.

Berdasarkan permasalahan tersebut, lanjutnya, Tim mempunyai ide untuk membuat sebuah alat pengepres tembakau sebagai solusi untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi dengan Rancang Bangun MESIN PRIMA (Press Sistem Pneumatic) sebagai solusi untuk meningkatkan produktifitas petani tembakau di Kabupaten Rembang.

“Kami berharap, inovasi tersebut mampu mengembangkan kualitas masyarakat, menambah kinerja dan peningkatan produktifitas para petani tembakau, sehingga nantinya bisa mensejahterakan,” pungkasnya. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :