Tolak Digusur, Ratusan Tukang Becak Dan Ojek Wisata Masjid Menara dan TBK Kudus Gelar Demo

Tolak Digusur, Ratusan Tukang Becak Dan Ojek Wisata Masjid Menara dan TBK Kudus Gelar Demo

Kudus, isknews.com – Ratusan tukang becak dan pengojek wisata Masjid Menara Kudus dan Terminal Wisata Bakalan Krapyak Kudus, Selasa (06/12), melakukan demo menolak rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus yang akan menggusur mereka dan menggantikan dengan bus wisata. Secara beramai-ramai dengan membawa kendaraannya masing-masing, becak dan sepeda motornya, mereka mendatangi Kantor Pemkab dan DPRD Kudus, berangkat dari Masjid Menara dan Terminal Bakalan Krapyak (TBK)

Sesampai di markas para wakil rakyat itu, para tukang becak dan pengojek yang mengenakan rompi seragam kuning dan hijau, tidak dapat masuk ke halaman gedung DPRD karena pintu gerbang dikunci dari dalam, sehingga hanya bisa berkumpul dan memarkir kendaraannya di luar pintu gerbang. Diantara tukang becak, ada seorang diantaranya yang mengenakan pakaian pocong yang digendong secara beramai-ramai oleh rekan-rekannya. Seorang tukang becak lainnya memasang tulisan di bagian depan becaknya, bunyinya kalau dibaca : “Becak kalau digusur gimana beaya anak sekolah kita?”

TRENDING :  Car Free Night Kudus, Arena Rekeasi Warga, PKL dan kongkow Komunitas Otomotif

Dalam aksi tersebut, tukang becak dan pengojek yang menjadi anggota Federasi Serikat Pekerja Transport Indonesia (FSPTI) Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Kudus, mendapat dukungan penuh dari para petinggi organisasi wakil pekerja itu. Hadir dan ikut berorasi serta menyampaikan aspirasi kepada pimpinan dewan, Ketua PC KSPSI Kabupaten Kudus, Wiyono, Wakil Sekretaris Ahmad Fikri, Ketua FSPTI Daru Handoyo. Sejumlah aktivis dari beberapa LSM di Kudus tampak pula megikuti jalannya demo.

Setelah sekitar 30 menit berlangsung orasi, pimpinan dewan bersedia menerima perwakilan pendemo untuk berdialog. Para pengurus KSPSI, bersama para coordinator paguyuban tukang becak dan pengojek wisata Masjid Menara dan Terminal Bakalan Krapyak, diterima langsung oleh Ketua DPRD Masan, didampinhgi Wakil Ketua Ilwani dan Ketua Komisi B, Mardiyanto.

TRENDING :  "Tarif Parkir Rp. 5.000,- Itu Ilegal dan Liar" Ka Dishubkominfo

Daru Handoyo, di muka pimpinan dewan itu, mengatakan sangat menyesalkan adanya kebijakan Pemkab yang akan menggusur keberadaan becak dan ojek wisata, baik di Masjid Menara dan Terminal Bakalan Krapyak. Pasalnya, kebijakan yang sudah diangggarkan sebesar Rp 3,7 miliar dari APBD Kabupaten Kudus, untuk pengadaan bus wisata pengganti becak dan ojek itu, tidak disosialisasikan lebih dahulu, tahu-tahu diberitakan di berbagai media massa. “Sudah kami tanyakan kepada Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Kudus, jawabannya tidak ada anggaran untuk sosialisasi. Karena tukang becak dan pengojek wisata itu adalah anggota kami, kami wajib melindungi dan memperjuangkan nasib mereka.”

Ketua PC KSPSI, Wijono, menyampaikan dengan tegas kepada pimpinan DPRD, agar kalau membuat kebijakan jangan yang menyengsarakan rakyat. Para tukang becak dan pengojek wisata itu adalah warga Kudus, jadi perbolehkan mereka hidup dan mengais rejeki untuk keluarganya. “Saya percaya kebijakan itu, meskipun sudah disahkan dan ditetapkan anggarannya, masih bisa dipertimbangkan kalau tujuannya untuk kebaikan dan tidak ada yang dirugikan.”

TRENDING :  Dibatalkan Peremajaan Angkudes di Kudus

Ketua DPRD, Masan, mengatakan akan segera menindaklanjuti tuntutan pendemo, pihaknya bersama komisi terkait akan segera memanggil Kepala Dishubkominfo Kabupaten Kudus. Sedangkan mengenai penertiban tukang becak dan ojek wisata, sifatnya adalah penataan. “Jadi becak dan ojek wisata di Masjid Menara maupun Terminal Bakalan Krapyak tetap ada, namun akan ditata agar lebih baik dan lebih tertib.”(DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post