Tradisi Kupatan yang Tidak Lekang Waktu

by
Tradisi Kupatan yang Tidak Lekang Waktu ISKNEWS.COM
Foto: Ayaman ketupat yang belum dimasak, kupat-kupat ini nantinya akan digunakan dalam tradisi kupatan. (Istimewa/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Bagi sebagian masyarakat pantura, khususnya warga Kudus hari ke delapan bulan syawal diperingati sebagai ‘Bodo Kupat’ atau kupatan. Tradisi yang telah ada dari ratusan tahun yang lalu ini, masih terjaga dan lestari hingga saat ini.

Dalam peringatan Bodo Kupat, masyarakat biasanya membuat ketupat yang disajikan dengan opor ayam dan sambal goreng. Tak hanya kupat, dalam tradisi ini juga disajikan lepet.

Makanan yang terbuat dari beras ketan dan parutan kelapa yang ditanak ini menjadi hidangan khas saat perayaan bodo kupat. Untuk pembuatan ketupat dan lepet ini biasanya dilakukan pada H+6 lebaran dan pada H+7 masyarakat akan menyantap lezatnya ketupat bersama keluarga tercinta.

TRENDING :  Ritual Kirab Pusaka Keramat Desa Mojoagung

Tradisi ini sebenarnya bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat, atas keberhasilan melaksanakan puasa sunnah selama enam hari, dari tanggal 2 – 7 Syawal. Berjalannya waktu, tradisi ini kini dapat dinikmati oleh semua orang. Tidak hanya orang yang berhasil menjalankan puasa sunnah saja.

TRENDING :  Jelang Tradisi Kupatan Membawa Berkah Bagi Pedagang Janur Kuning

Konon tradisi Bodo Kupat ini merupakan warisan budaya dari Sunan Kalijaga. Bagi masyarakat pantura, Bodo Kupat bukan sekedar perayaan saja. Lebih dari itu, Bodo Kupat mengajarkan filosofi hidup yang mendalam.

TRENDING :  Manfaatkan Jalur Lingkar Untuk Antisipasi Macet Saat Dandangan

KOMENTAR SEDULUR ISK :