Transparansi Tumbuhkan Trust dan Partisipasi

Transparansi Tumbuhkan Trust dan Partisipasi

Kudus, isknews.com – Modalnya 3M. Yaitu mendengar, melihat, serta merasakan, bahkan melaksanakan yang menjadi harapan masyarakat. Sehingga tahu betul yang menjadi kebutuhannya. Pemerintah/negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan solusi berbagai persoalan serta harapanya.

Itulah konsep dasar Bupati Kudus H. Musthofa dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat Kudus. Hal ini disampaikannya pada dialog interaktif di acara Komunikada (Komunikasi dengan Kepala Daerah) live RRI Semarang, Jumat (2/9) pagi.

Untuk itu, dirinya bertekad memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat. Bukan hanya pelayanan prima, melainkan pelayanan excellent. Dengan slogan C2M2, cepat, cermat, mudah, dan murah (bahkan gratis) masyarakat terpuaskan dengan kinerjanya melalui semua SKPD yang ada.

”Kami melakukan itu semua dengan penuh ketulusan dan keihlasan untuk masyarakat,” kata Pak Bupati pada acara yang juga di-relay Radio Suara Kudus itu.

Mengenai prestasi akuntabilitas kinerja pemerintahan yang terbaik di Jawa Tengah, Pak Musthofa yang telah delapan tahun memimpin Kudus ini ingin memberikan kemudahan. Yaitu pelayanan disentralkan di desa. Sebagai buktinya adalah pelayanan KTP/KK di balai desa yang telah dilaksanakan sejak 2008 secara gratis!

BACA JUGA :  Menang 3-0, Badak Depak Porget dari Bupati Cup

Pemkab Kudus juga menjalin kerja sama dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN). Terkait dengan berbagai inovasi yang telah dilakukan dan terus dan terus akan dikembangkan bagi pelayanan masyarakat yang semakin baik.

”Selalu saya katakan pada semua SKPD, jangan pernah berhenti untuk berinovasi. Belajarlah mendengar apa yang menjadi harapan masyarakat,” tambahnya.

Apabila selama ini masyarakat yang memberikan laporan pada pemimpinnya, kini berbeda dengan di Kudus. Yaitu Bupati lapor rakyat. Tentunya terkait pelaksanaan semua janji dan programnya yang tertuang dalam visi dengan penjabaran dalam 4 pilar program pro rakyatnya.

Diharapkan, dengan adanya keterbukaan dari kepala daerah, masyarakat juga memberikan partisipasi untuk mengawal dan mengawasi semua programnya. Termasuk pintu rumah dinasnya selalu dibuka untuk masyarakat umum setiap Selasa, yaitu dalam open house.

Layanan dalam bidang kesehatan, pendidikan, bahkan sosial kemasyarakan yang lain selalu ditingkat secara lebih baik. Kini, masyarakat bisa merasakan pendidikan gratis dari SD hingga SMA/SMK negeri dan gratis di puskesmas dan kelas III RSUD dr. Loekmono Hadi.

BACA JUGA :  Ratusan Peserta dari Berbagai Provinsi Ramaikan Panjat Tebing di SMA 1 Kudus

Transparansi yang dibangun membuahkan sebuah kepercayaan (trust) dari masyarakat dan stake holder. Bahkan kini, pihak swasta turut memberikan sumbangsihnya untuk membangun Kudus. Diantaranya yang secara fisik terlihat jelas yaitu gerbang Kudus Kota Kretek dan adanya berbagai taman kota yang dibangun tanpa menggunakan APBD.

”Termasuk dalam bidang pendidikan. Kami telah mengembangkan pendidikan kejuruan dengan keunggulan khusus yang dibiayai dari perusahaan,” imbuhnya.

Pada pengembangan tersebut, ada tiga hal yang menjadi kebutuhan dalam saat ini. Yaitu kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, sarana prasarana yang mendukung, serta adanya tenaga pengajar yang andal. Semua itu tidak mungkin bisa terwujud hanya dengan mengandalkan ABPD.

BACA JUGA :  UMK Sambut bulan Ramadhan dengan pasar murah

Termasuk kredit usaha produktif (KUP) yang telah diikuti dengan munculnya Mitra Jateng25. Menurutnya, kedua kredit tersebut bagus untuk penguatan ekonomi kerakyatan. Karena berupa pinjaman usaha tanpa menggunakan jaminan dengan bunga ringan.

”Sesuai dengan filosofi gusjigang, saya tidak ingin ada masyarakat Kudus yang tidak beraktivitas. Saya juga tidak mau mendengar masyarakat Kudus berkeluh kesah tentang pendidikan, kesehatan, atau dalam berwirausaha,” lanjutnya.

Sejumlah penelepon dan SMS yang masuk pagi itu semuanya memberikan apresiasi atas kinerja Pak Bupati Kudus. Baik dalam bidang pelayanan publik, pengembangan potensi desa, pelatihan keterampilan, maupun persoalan lain diantaranya tentang solusi dalam mengatasi kemiskinan di Kudus.

”Di Kudus ini tidak ada orang miskin. Yang ada hanyalah orang yang malas,” pungkasnya. (rg)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post