Tukang becak dan tukang ojek sepi penumpang

Tukang becak dan tukang ojek sepi penumpang

©Bulan puasa, aktivitas Terminal Wisata libur total

KUDUS, isknews.com -Di saat pusat-pusat keramaian dan kegiatan ekonomi sedang sibuk dan ramai-ramainya “mremo” di bulan puasa dan bersiap diri menyongsong lebaran, salah satu tempat pusat keramaian di Kabupaten Kudus justru libur total.

Tempat itu adalah Terminal Wisata, yang menjadi areal parker bus-bus wisata, khususnya peziarah Walisongo yang datang ke Kudus.
Pantaun isknews.com , Minggu (21/6), di Terminal Wisata yang teletak di Jalan Raya Kudus-Gebog, masuk wilayah Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu itu, keadaannya sunyi senyap.

Tak satu pun tampak aktvitas penghuninya, yakni pemilik warung makan, kios makanan-minuman ringan dan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangannya.

Suasana seperti itu sudah berlangsung sejak hari pertama bulan puasa, seiring dengan tidak adanya lagi bus-bus wisata yang mengangkut para peziarah Walisongo, yang singgah dan parkir di Teminal Wisata tersebut.

TRENDING :  Terminal Wisata Bakalan Krapyak Kudus Dibanjiri Peziarah Walisongo Capai 100 Bus Lebih Per Hari

Selain warung makan, kios dan PKL, para pekerja profesi lain yang juga mencari nafkah di tempat itu, juga mengalami hal yang sama. Mereka adalah tukang becak, tukang ojek sepeda motor, dan pedagang asongan.
Kondisi seperti itu tentu saja sangat jauh berbeda dengan hari-hari biasanya, yakni di luar bulan puasa.

Boleh dikatakan Terminal Wisata yang lokasinya agak di pinggir Kota Kudus, nyaris tak pernah sepi dari para peziarah, bahkan salama 24 jam para penjual jasa, baik makanan, angkutan dan penginapan, melayani dan mengeruk keuntungan dari para peziarah.

Puluhan bus-bus dari berbagai kota, baik dari Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur maupun Jawa Tengah sendiri, yang mengangkut mereka, hilir mudik keluar masuk areal parkir terminal tersebut.

TRENDING :  Libur panjang Goa Wareh Meningkat Kunjungan wisatanya

Menurut Bu Parti, salah seorang pemilik warung makan, keuntungan yang diperoleh dengan berjualan di lokasi terminal bisa dibilang cukup untuk ukuran kebutuhan sehari-hari.

Pasalnya tidak semua peziarah yang masuk terminal, jajan atau makan di warung-warung yang berderet-deret. Berapa keuntungan yang didapat per hari, dia keberatan berterus terang. “Ya, pokoknya cukuplah, Mas,”’ katanya pemilik warung yang sudah berjualan belum lama sejak Terminal Wisata itu dioperasikan, pada 1989. Hal yang sama juga dituturkan oleh pemilik kios dan PKL.

Menurut mereka sebagian besar peziarah itu banyak yang membawa bekal makanan sendiri darim rumah, sehingga kalau ada yang dibeli kebanyakan adalah minuman.

Namun tidaklah demikian yang dialami oleh penyedia jasa angkutan, yakni tukang becak dan tukang ojek. Dengan tarip sebesar Rp 10.000 untuk sekali jalan, mengangkut peziarah dari Terminal Wisata ke Masjid Menara, seorang tukang becak bisa mendapatkan uang Rp 30-60 per hari.

TRENDING :  Desa Margorejo Dawe Resmi Menjadi Rintisan Deswita Oleh Pemerintah Kabupaten Kudus

Sementara tukang ojek yang sekali jalan mengangkut dua orang peziarah, dengan tarip Rp 8000 sekali jalan, bisa meraup keuntungan rp 20.000-30.000 per hari, bersih sudah dipotong makan dan BBM.

Menurut Mashudi, pegawai Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi (Diskominfo) Kabupaten Kudus, yang hari iru piket di Kantor Dishub di Terminal Wisata, jumlah warung makan di lokasi itu sebanyak 21 petak, kios 20 petak, dan lapak PKL 66 petak, untuk jumlah pedagang asongan sekitar 87 orang.

“Kalau jumlah tukang becak yang beroperasi di terminal ini, sekitar 100 orang lebih, juga jumlah tukang ojek, sekitar 100 orang.”
(Darmanto Nugroho)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post

Comments are closed.