Tumpang Krasak Dari Kata Temumpang Dan Kemrasak

oleh
ISKNEWS.COM
Foto: Punden atau Makam Mbah Djaja Wirja, di RT 03 RW 02 Dusun Badongan, Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus (Darmanto Nugroho/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Konon Desa Tumpangkrasak sudah ada sejak jaman dulu, semasa para Wali Sango, namun tidak ada bukti tertulis. Berdasarkan cerita dari para sesepuh, ada pendahulu sebagai cikal bakal desa, seseorang yang bernama Mbah Djaja Wirja (Djaya = jaya, menang; dan Wirja = wirya, bahasa Kawi = liat, kuat atau orang yang mempunyai kelebihan), beradu ilmu dengan anaknya Sunan Muria (bisa jadi anak itu muridnya).

Dalam cerita lain, Mbah Djaja Wirja sering diasumsikan dengan Dalang Sopo Nyono. Menurut juru punden atau Makam Mbah Djaja Wirja, Mbah Sutamto (58 tahun), saat dihubungi isknews.com, Rabu (07-03-2018), di mushola depan Makam Mbah Djaja Wirja, di Jalan Raya Kudus – Pati utara jalan, masuk wilayah RT 03 RW 02 Dusun Badongan, Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, ketika itu Mbah Djaja Wirja sedang aso (istirahat) sambil dolanan bothekan (dakonan), ditanyai oleh anaknya Sunan Muria, sampai seperti beradu mulut.

ISKNEWS.COM
Foto: Foto: Sutamto, juru kunci makam Mbah Djaja Wirja, menunjukkan makam tokoh cikal bakal Desa Tumpang Krasak tersebut (Darmanto Nugroho/ISKNEWS.COM)

Hingga terjadilah perkelahian yang dahsyat antara keduanya, mengakibatkan dolanan bothekan tersebut temumpang (asal kata Tumpang) di pohon. Karena kesaktian kedua tokoh tersebut sampai mengakibatkan angin kencang, sehingga dolanan bothekan tersebut jatuh kemrasak (asal kata Krasak) sampai ke wetan kali.

TRENDING :  Anak Didik SMKN 2 Kudus Gelar Pameran Seni Rupa Perdana

Di tempat dolanan bothekan yang jatuh kemrasak (asal kata Krasak itulah,
Didirikan petilasan Punden Mbah Djowiryo Mukso (muksa artinya musnah, hilang). “Demikianlah asal usul Desa Tumpang Krasak, dari kata temumpang (asal kata Tumpang) dan kemrasak (asal kata Krasak),” tutur Mbah Sutamto.

Selain Makam Mbah Djaja Wirja, di Desa Tumpang Krasak, ada beberapa petilasan para pendahulu desa lainnya, seperti makam Mbah Gledheg, di RT 03 RW 04 Dusun Krajan, Mbah Djajengrana (Jayengrono), di Dusun Krajan, sebelah barat Masjid Baitul Muqoddas dan Mbah Surgipati di Makam Desa Dusun Krasak.

TRENDING :  Jangan Berani Buang Sampah di Sungai Ini Jika Tak Ingin Dihakimi Warga

Oleh warga masyarakat, empat pepundhen itu sangat dihormati, sebagai leluhur para pendahulu dan selalu diperingati dengan buka luwur, atau haul setiap tahun pada bulan Suro/Muharram.

Versi lainya tentang asal usul desa Tumpang Krasak, sebelum ada pemerintahan di Desa Tumpangkrasak, mula-mula desa tersebut dipimpin oleh seorang panepuluh (danyang), namanya, Siti Djuwariyah, keturunan orang sabrang yang membuka dusunTumpang, sehingga beranak-pinak, dan kepemimpinannya secara turun-temurun sampai yang terakhir pemimpinnya bernama Siti Kotidjah.

Pada jaman Hindia Belanda, pengaturan dusun Tumpang digabungkan dengan dusun Krasak. Setelah dipecah tiga bagian dusun, satu bagian ikut Desa Dersalam Kecamatan Bae menjadi Dusun Salam Kidul, satu bagian lagi ikut Desa Ngembal Kulon menjadi dusun Krasak juga, dari gabungan dua dusun tersebut, ditambah dusun Badongan, sehingga menjadi Desa Tumpangkrasak yang dipimpin oleh Petinggi (Kepala Desa) bernama R. Karto Widjojo, adik dari Siti Kotidjah.

TRENDING :  Resik Resik Kali Dawe Di Mejobo

Adapun pusat pemerintah desa yang dahulu, biasanya berada di rumah Petinggi (Kepala Desa) dulu adapendhapa/paseban-nya seperti kediaman : R. Karto Widjojo, R. Kasno Widjojo, R. Soedjarwo, dan Karmani Rijanto, kini sudah tidak ada semua.

Sejak tahun 1974 berdirilah kantor Kepala Desa sekaligus Balai Desa di Jalan Desa Tumpangkrasak No. 230, pada kepemimpinan Karmani Rijanto, kemudian direhab total pada masa Kepala Desa Masri Sutrisno, dan pembangunan dilanjutkan oleh Kepala Desa Bambang Gunarjo dan masih terus disempurnakan lagi, sehingga menjadi bangunan bersejarah di Desa Tumpangkrasak. (DM/RM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :