Tuntaskan Masalah Gizi, Puskesmas Ngembal Kulon Sosialisasikan Pos Hanzib

oleh
Kepala Puskesmas Ngembal Kulon, Mustiko Wibowo menjelaskan mengenai konsep Pos Hanzib, Selasa (09-10-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Untuk menuntaskan permasalahan gizi balita di Kabupaten Kudus, Puskesmas Ngembal Kulon mensosialisasikan Pembentukan Pos Pemulihan Gizi Balita (Pos Hanzib), pada Selasa (09-10-2018). Bertempat di Aula Puskesmas Ngembal, memperkenalkan inovasi baru yang digagasnya tersebut, kepada Dinas Kesehatan, Dinas PMD, Camat, Kepala Desa, PKK kabupaten, Ormas Muslimat NU, Ormas PD.Aisyiyah, dan stakeholder terkait.

Kepala Puskesmas Ngembal Kulon, Mustiko Wibowo menjelaskan bahwa Pos Hanzib ini tak ubahnya dengan Posyandu. Hanya saja lingkungnya lebih khusus atau spesifik, yakni balita dengan gizi kurang dan berfokus menangani peningkatan gizi mereka

“Berdasarkan data yang kami himpun, angka gizi kurang pada balita di cakupan wilayah Puskesmas Ngembal Kulon sebanyak tiga persen. Hal ini merupakan sebuah pencapaian yang bagus, mengingat target SPM Kabupaten Kudus yang ditetapkan adalah 15 persen. Akan tetapi kami senantiasa berusaha untuk menuntaskannya,” paparnya.

TRENDING :  Ribuan Miras Dimusnahkan di Kudus. Masyarakat Diminta Ikut Berantas

Dilanjutkannya, angka kejadian gizi kurang pada balita di masyarakat adalah hal yang kadang terjadi. Misalnya, dalam kelompok usia yang sama anak si A memiliki berat badan 9 kilogram, sedangkan anak si B memiliki berat badan 7 kilogram. Perbedaan berat badan ini dapat dikategorikan sebagai gizi kurang, jelasnya.

“Sejak tahun 2016, kami memfokuskan diri menuntaskan masalah gizi di masyarakat. Tujuannya tidak lain adalah untuk melakukan upaya preventif atau pencegahan, agar kondisi tersebut tidak menjurus pada stunting dan gizi buruk,” ujar Tiko, sapaan akrabnya.

Untuk konsep Pos Hanzib, dia menjelaskan, jika nantinya di desa akan dibentuk kader gizi yang bekerjasama dengan PKK dan Puskesmas untuk mengatasi masalah gizi yang ada di masyarakat. Setiap balita yang mengalami masalah gizi, akan ditimbang berat badan dan tinggi badannya.

TRENDING :  DKK Tingkatkan Upaya Kesehatan Masyarakat Melalui Usaha Promotif Preventif

Setelah itu, akan dilakukan pengkajian penyebab permasalahan gizi yang terjadi pada balita tersebut melalui proses kosultasi. Apakah itu dari rendahnya pengetahuan orang tua akan gizi atau penyakit penyerta yang diderita oleh balita.

“Kami akan memantau secara intensif dan berkala perkembangan dari balita tersebut melalui Grup Whatsapp yang kami buat. Dimana setiap harinya, orang tua balita harus melaporkan perkembangan dari anaknya. Grup tersebut sekaligus menjadi wadah untuk konsultasi orang tua terkait perkembangan gizi anaknya hingga permasalahan gizi pada balita dapat dituntaskan,” terangnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kudus, Joko Putranto tengah menandatangi komitmen bersama dukungan stake holder terhadap progam Pos Hanzib, Selasa (09-10-2018). (Nila Niswatul Chusna/ ISKNEWS.COM)

Imbuhnya, “Dalam grup tersebut, tim internal puskesmas setiap harinya juga menyajikan menu makanan bergizi tinggi yang disarankan kepada orang tua balita. Tak hanya itu, dalam kegiatan Pos Hanzib juga akan dilakukan tutorial masak makanan balita yang sehat dan bergizi tinggi. Untuk pelaksanaan Pos Hanzib sendiri, akan dilakukan setiap 2 minggu sekali,”

TRENDING :  Baru 9 Puskesmas di Jepara yang Terakreditasi

Kepala Dinas Kesehatan, Joko Dwi Putranto dan Camat Jati, Andreas Wahyu menyambut baik inovasi yang dilakukan oleh Puskesmas Ngembal Kulon. Dalam sambutannya, Joko Dwi Putranto berharap gagasan ini bisa diterapkan disetiap puskesmas dan desa yang ada di Kudus. “Ini nantinya akan diluncurkan di Desa Megawon. Kedepannya, kami berharap ide kreatif ini dapat diadopsi di berbagai puskesmas dan desa di Kudus,” ujarnya.

“Untuk menciptakan generasi muda yang unggul dan berkualitas salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah gizi. Semoga melalui Pos Hanzib ini, permasalahan gizi yang ada di masyarakat dapat dituntaskan,” pungkas Andreas Wahyu. (NNC/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :