Ulama & Santri Gelar Tahlil Umum Peringati Haul Pendiri NU KH. Raden Asnawi Ke – 59

oleh

Kudus, isknews.com – Tokoh pendiri dan penggerak jamiyyah Nahdhotul ulama’ (NU), KH. Raden Asnawi hari ini diperingati Haul yang ke – 59, semenjak wafatnya beliau pada Sabtu Kliwon 25 Jumadal akhiroh 1379H lalu.

Para ulama dan santri dari berbagai penjuru Kudus dan sekitarnya menggelar ziarah dan tahlil umum yang dipimpin oleh kyai kasepuhan menara di makam KH.R Asnawi, yang tempat nya masih dalam satu komplek Makam sunan Kudus, pada Jumu’ah Sore selepas sholat jama’ah Asyar, 25 Jumadal akhiroh 1438H atau bertepatan 24 Maret 2017 Tarih Umum (TU)

Untuk memperingati nya, Selain tahlil umum, juga dilaksanakan pengajian pada malam harinya, yang bertempat di halaman Ponpes Raudhatut Tholibin Bendan Jl. KH.R Asnawi Kudus

Diketahui, Masa Perjuangan KH. R. Asnawi pada tahun 1924 M, beliau ditemui oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah Jombang untuk bermusyawarah untuk membuat benteng pertahanan Aqidah Ahlussunah Wal Jamaah.

TRENDING :  Tiap Hari Kamis Polres Kudus Laksanakan Pembinaan Rohani dan Mental pada Tahanan

Akhirnya beliau menyetujui gagasan KH. A. Wahab Hasbullah dan selanjutnya bersama-sama dengan para Ulama yang hadir di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Pada zaman penjajahan Belanda beliau sering dikenakan hukuman denda karena pidatonya yang mempertahankan kesucian Islam serta menanamkan nasionalisme terhadap umat Islam, baik di Kudus maupun di Jepara.

Dulu, Wafatnya ulama’ besar Kudus ini tidak terduga. Sebab satu minggu sebelum wafatnya KH. R. Asnawi masih bermusyawarah dalam muktamar NU XII di Jakarta. Bersama dengan para Kyai NU se-Indonesia, KH. R. Asnawi masih nampak segar bugar. Dikisahkan oleh KH. Minan Zuhri, selama berlangsungnya muktamar, KH. R. Asnawi menginap di rumah H. Zen Muhammad adik kandung K.H. Mustain di Jalan H. Agus Salim Jakarta. Muktamar yang digelar pada tanggal 12-18 Desember 1959 merupakan muktamar terakhir yang dihadirinya. Mustain yang setia mengantar-jemput KH. R. Asnawi selama berjalannya muktamar dari rumah adiknya sempat tertegun. Karena pada saat menjemput beliau untuk menghadiri pembukaan Muktamar yang dihadiri Bung Karno, Mustain mendengarkan kalimat aneh dari KH. R. Asnawi: “Hai Mustain ! inilah yang merupakan terakhir kehadiranku dalam muktamar NU, mengingat keadaanku dan kekuatan badanku.” Tercenganglah Mustain mendengar perkataan itu. Spontan Mustain menyambung pembicaraan dengan mengatakan; “Kalau Kyai tidak dapat hadir dalam muktamar, maka sangat kami harapkan do’anya.”

TRENDING :  Satu Kloter Jama'ah Haji Blora Begabung Dengan Rembang

Kemungkinan besar KH. R. Asnawi telah mengetahui akan tanda-tanda panggilan Allah untuk memanggil dirinya. Pukul 02.30 WIB Sabtu itu Asnawi bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi yang tidak jauh dari kamarnya untuk mengambil air wudlu. Setelah dari kamar mandi Asnawi dengan didampingi istrinya Hamdanah kembali berbaring di atas tempat tidur. Kondisinya semakin tidak berdaya. Dan kalimat syahadat adalah kalimat terakhir yang mengantarkan arwahnya. Waktu itu juga 26 Desember 1959 M/25 Jumadil Akhir 1379 H sekitar pukul 03.00 fajar, KH. R. Asnawi pulang ke rahmatullah.

TRENDING :  Subuh ini, Pengajian Tafsir Al-Qur'an di Masjid Menara Kudus Dimulai

Setiap yang bernafas akan menghadapi mati, sedangkan umur yang diberikan Allah tidaklah sama yang diharapkan masyarakat. Masyarakat dan umat Islam pada umumnya mengharap agar para Kyai dipanjangkan umurnya dan diberkahi kesehatannya. Tujuannya tiada lain mendampingi dan menata infrastruktur masyarakat dalam memegang subtansi ajaran agama. Namun Allah telah menghendaki terlebih dahulu memanggil KH. R. Asnawi menghadap keharibaannya. (AJ/Foto : Deni)

Dikutip : Berbagai Sumber

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*