Undip Bantu Upaya Teknologi Pembibitan Pisang Byar Dawe

oleh
Undip Bantu Upaya Teknologi Pembibitan Pisang Byar Dawe
Foto: Bentuk pisang byar khas Dawe. (ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Pisang Kebyar, Pisang Byar atau Pisang tanduk begitu istimewa, terutama karena bentuk fisik buahnya yang besar dan panjang serta melengkung seperti tanduk, panjang pisang ini bisa menapai 35 cm. Akan tetapi pisang byar berbeda dengan pisang lainnya, produksi buahnya hanya sedikit. Satu pohon pisang tanduk hanya bisa menhgasilkan tiga sisir, dan rata-rata tiap sisirnya terdiri dari 10 buah.

Apabila kita ukur, maka setiap buah berukuran 300 gram. Memiliki kulit yang tebal berwarna kuning sedikit kemerah-merahan dan berbintik coklat. Kemudian daging buag berwarna merah kekuningan.

Selain daripada itu pisang byar ini memiliki aroma yang sangat khas dan kuat namun mempunyai rasa yang manis sedikit asam.
Pisang byar merupakan hasil produksi pertanian khas wilayah Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Namun upaya perbanyakan bibit terkendala tidak bisa dilakukan dengan cepat karena masih menggunakan metode tradisional yaitu tunas.

“Pisang byar ini khas. Bila ditanam ditempat lain rasa dan kualitas buahnya berbeda. Ketika kami tanyakan apakah terkendala terkait pemasaran? Jawabnya tidak. Namun bagaimana cara memproduksi jumlah banyak. Selama ini pengembangannya melalui tradisional yaitu menunggu tunas tumbuh. Sehingga membutuhkan waktu,” ujar Catur Sulistiyanto Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus.

TRENDING :  Soal Regruping SDN 1 Bacin Kudus Wali Murid Sempat Ajukan Keberatan

Bekerjasama dengan Universitas Diponegoro (Undip), Catur berharap para akademisi ini membantu perbanyakan bibit pisang byar secara teknologi.

Hal ini diungkapkan Catur Sulistiyanto S.Sos MM, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus saat menjadi narasumber Focus Group Discussion di aula Kecamatan Dawe, Selasa (17/07/2018).

Acara FGD ini dihadiri oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perhubungan, Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga, Bapelitbang dan dosen pembimbing KKN Undip 2018, Daud Samsu Desa serta Wadir Kemahasiswaan Undip DR Eng Agus Setyawan Msi.

Untuk pemasaran, sambungnya, nanti kami dari Dinas Pertanian dan Pangan akan membawa produk pisang byar Dawe serta hasil olahannya ke pameran Soropadan minggu depan. Sehingga akan semakin dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah dan luar provinsi.

TRENDING :  Kisah Perjuangan 2 Peserta Dari Aceh dan Papua Ikuti Audisi Umum di Kudus

Harapan ini menanggapi dari paparan peserta KKN mahasiswa Undip terkait dengan potensi pisang byar asal kecamatan Dawe. Dijelaskan, potensi pisang byar paling banyak berasal dari Desa Kajar yang mayoritas penduduknya memiliki sawah ditanami pisang byar. Produk hasil pertanian ini semakin menjadi pusat perhatian dengan adanya monumen pisang byar di lokasi wisata Taman Sardi.

Pada setiap perkebunan pisang byar yang dimiliki kelompok tani setiap tahun sebanyak 36 kali panen. Berdasarkan hitungannya, saat ini setiap panen diperoleh hasil 8.800 buah pisang byar per 1000 meter persegi atau 26,4 ton. Sedangkan angka kegagalan 10 persen atau sekira 20 pohon yang gagal produksi. Satu pohon pisang byar dijual oleh petani dengan harga Rp 80 ribu – 100 ribu.

“Nah, sekarang Undip hadir di Kudus dengan program KKN. Kami harap kampus Undip membantu perbanyakan bibit melalui teknologi. Sehingga nanti bisa memproduksi dalam jumlah lebih banyak,” imbuhnya.

Sedangkan terkait dengan pengembangan wisata di desa Margorejo, Catur Sulistiyanto mengungkapkan bahwa pihak Dinas Pertanian dan Pangan Kudus sangat mendukung upaya tersebut dan berjalan seiring dengan programnya.

TRENDING :  Satpol PP Kudus Jaring 38 Pemandu Karaoke Di Kabupaten Kudus

“Tahun 2018 ini kami mengembangkan BBI Margorejo menjadi lokasi showroom produksi ikan hias. Sekarang baru bangunan bagian depan, lainnya sedang dalam proses lelang. Nilai pembangunan sudah dianggarkan Rp 3 miliar. Nantinya para kelompok ikan hias seperti koi, guppy dan lainnya bisa menempati petak-petak gedung shoowroom secara free. Hal ini sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan ikas hias dari luar Kudus. Nantinya, BBI Margorejo selain memproduksi benih ikan sesuai fungsinya juga menjadi lokasi edukasi untuk masyarakat. Karena itu nanti ada musola terapung diatas kolam. Ini sebagai dukungan Pemerintah untuk pengembangan desa Margorejo sebagai desa wisata ,” paparnya.

“Lokasi BBI Margorejo ini berdampingan dengan kolam ikan milik desa Margorejo dan upaya pengembangan wisata yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Undip di gedung sekolah yang tidak terpakai,” tandasnya. (AJ/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :