Uniknya, Dialek Bahasa Jawa Khas Kudus

oleh
Bahasa Jawa Khas Kudus
Foto: Penggunaan dialek bahasa Jawa khas Kudus dalam kehidupan sehari-hari, Selasa (22-05-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Meskipun sama-sama menggunakan bahasa Jawa, namun pada kenyataannya setiap kota memiliki dialek bahasa Jawa yang khas dan berbeda. Salah satunya adalah dialek Bahasa Jawa Khas Kudus yang tergolong khas dan begitu unik.

“Mbak, iki duitem tak dokok ngendi?” merupakan penggalan dialek bahasa Jawa sehari-hari orang Kudus. Akhiran -em sebagai kata ganti milik orang kedua, menjadi ciri khas dari dialek orang Kudus.

“Dalam percakapan sehari-hari, jika ada seseorang menggunakan akhiran -em sebagai kata ganti milik orang kedua. Bisa dipastikan kalau dia adalah orang asli Kudus,” ungkap Rani Anggraini, Selasa (22-05-2018).

TRENDING :  Berat Tugas Permadani Kudus Beri Pengajaran Bahasa Jawa Guru SD

Rani, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa setiap daerah atau kota memiliki dialek yang berbeda. Perbedaan dialek tersebut biasanya terletak pada penyebutan kata benda, kata menunjukkan kepemilikan dan kata kerja. Seperti halnya pada kata ganti milik orang kedua. Jika dalam bahasa Jawa menggunakan -mu, hal ini berbeda dengan orang Kudus yang menggunakan -em.

“Dalam bahasa Jawa biasanya menyebut, bukumu, duitmu dan bapakmu. Kalau dialek Kudus menyebutnya dengan bukunem, duitem dan bapakem. Pada kata yang diakhiri huruf vokal dialek Kudus menggunakan akhiran -nem dan huruf konsonan menggunakan -em,” kata Guru Bahasa Jawa tersebut.

TRENDING :  Inilah Titik Lokasi Pelaksanaan Pengamatan Hilal Ramadlan 1436H di Jawa Tengah Dan Yogyakarta

Selain itu, untuk bahasa Jawa yang diakhiri -ih dalam dialek Kudus berubah menjadi -eh. Kepada isknews.com, Rani mencontohkan kata putih yang berubah menjadi puteh, kata ngelih menjadi ngeleh dan kata mulih menjadi muleh, dalam dialek Kudus.

Dalam penekanan kata, orang Kudus sering menggunakan -tah. Hal ini serupa dengan -sih yang digunakan oleh orang Jepara dan -leh yang digunakan oleh masyarakat Pati. “Contohnya ‘piye sih?’ pada dialek orang Kudus akan berubah menjadi ‘piye tah?’. Ataupun ‘lapo leh?’ oleh masyarakat Kudus berubah menjadi ‘lapo tah?’. Unik banget kan?,” terangnya sambil tertawa.

TRENDING :  KPU Kudus Tetapkan Lima Paslon Pilkada Kudus 2018

Penyebutan kata benda dan kata kerja bagi masyarakat Kudus juga berbeda. Rani menjelaskan kata nanggung berubah menjadi nyakang, misalnya dalam kalimat “Duite nyakang, ora cukup kanggo tuku buku loro”. Ada juga kata kebablasan, oleh masyarakat Kudus menyebutnya dengan kelancor. Dan kata sengojo yang berubah menjadi njarag.

“Sebenarnya perbedaan bahasa Jawa dengan dialek khas Kudus masih banyak lagi. Begitulah keunikan bahasa, meskipun berbeda. Namun, tetap komunikatif dan menyatukan masyarakat,” pungkasnya. (NNC/WH).

KOMENTAR SEDULUR ISK :