Usung Keranda Mayat, LSM Dan Warga Demo Bela Mulyadi

oleh
Warga berunjukrasa di Pengadilan Negeri Kudus dengan mengusung keranda sebagai simbol matinya keadilan masyarakat pada kasus Mulyadi terdakwa laka lantas (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Tepat di hari anti korupsi sedunia, di Pengadilan Negeri (PN) Kudus sedang digelar Kasus yang membelenggu Mulyadi terdakwa pada peristiwa kecelakaan lalu lintas yang sudah berakhir damai antara Mulyadi dan korban Sulasih namun tetap di limpahkan ke meja hijau oleh “jajaran” para penegak hukum yang memproses kasusnya.

Kasus yang menjadi sorotan luas publik di Kudus ini karena mengundang keprihatinan sejumlah pihak termasuk Achmad Fikri dan kawan-kawan dari LSM Lembaga Pemerhati Aspirasi Publik (LePAsP) Kudus bersama waraga desa Singocandi tempat tinggal terdakwa.

LSM LePAsP menggelar aksi unjuk rasa (Unras) di halaman gedung PN Kudus tempat berlangsungnya sidang ketiga Mulyadi yang hari itu mengagendakan pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum  yang pada sidang sebelumnya menjerat terdakwa dengan pasal 310 ayat 3 (Primer) dan pasal 310 ayat 2 (Sekunder) yang karena kelalaian terdakwa sehingga menyebabkan orang lain (korban) mengalami luka berat, Senin (10/12/2018).

TRENDING :  Kepala Desa Gribig," Kami merasa dirugikan,Padahal Pelaku Pesta Miras Bukan Warga Kami"

Menurut Fikri pada media ini, kasus yang menimpa warga Desa Singocandi ini sangat mengusik keadilan masyarakat. Kasusnya sendiri tergolong kecelakaan ringan dan korban sudah sembuh sepekan setelah kejadian, sudah memaafkan dan sudah membuat kesepakatan damai antar mereka dengan sebuah surat bermaterai yang ditanda tangani oleh keduanya, bahkan Mulyadi sudah memberikan uang Rp. 1 500.000 kepada korban sebagai pengganti beaya pengobatan.

“Eeh ujug-ujug kasus ini delempar ke kejaksaan, dan oleh kejaksaan Mulyadi harus segera dimasukkan tahanan karena terancam pasal yang memberatkan,” terang Fikri.

Dirinya membandingkan sejumlah kasus kecelakaan lalu lintas yang sudah ada di meja kejaksaan bahkan hingga menimbulkan korban meninggal, namun hingga kini belum di proses. “Apa kabar kecelakaan yang melibatkan mobil honda jazz dan mengakibatkan dua nyawa melayang? Hukum jangan hanya tajam kebawah tapi tumpul keatas,’” katanya.

TRENDING :  Kejaksaan Negeri Kudus Gencar Sosialisasi dan Penyuluhan Hukum

Pada aksi yang diikuti sekitar 50 orang,  para peserta aksi mengusung  replika keranda mayat sebagai simbol matinya asas keadilan bagi masyarakat serta menggelar poster-poster .

Beberapa tulisan di poster adalah  “Matinya hukum karena jaksa dan Hakim yang tidak adil”, “Bersihkan Kejati dari Jaksa dholim”, “Jaksa yang Dholim matinya hukum yang adil”, “Tegakkan hukum Pak Hakim se adil adilnya”, “Tegakkan hukum dari jaksa nakal”, “Kang Mulyadi orang baik bebaskan..!!”, “ Kesombongan Jaksa Matinya Hukum”, “Hukum jangan tajam ke bawah tumpul ke atas” dan “Bebaskan Kang Mulyadi”.

Aksi unjukrasa itu menurut Soleh Syakur ketua RW tempat domisili Mulyadi yang juga ikut menjadi peserta aksi bersama sejumlah warganya menyampaikan, tuntutan utama kami adalah meminta kepada Kejaksaan agar  Mulyadi segera di tangguhkan dari penahanan dan dibebaskan dari jeratan hukum.

TRENDING :  Tabrak Tronton Parkir, Penunggang Honda GL 100 Luka-luka

Sementara Koordinator Lapangan (Korlap) aksi Sholeh Isman,  pada orasinya mengatakan, aksi  ini sebagai bentuk menuntut keadilan sebagai hak atas setiap warga negara.

“Tangguhkan penahanan pak Mul dan bebaskan dari segala tuntutan hukum karena tidak ada upaya melarikan diri dan tidak mungkin yang bersangkutan menghilangkan barang bukti atau mempengaruhi saksi, apalagi korban sudah menerimakan kasus tersebut dan diselesaikan secara damai,” ujarnya.

“Kami ingin supremasi hukum, kami tidak ingin jaksa – jaksa nakal yang menjadikan hukum sebagai alat untuk menyakiti rakyat, kami mohon ada putusan yang yang seadil – adilnya dan meminta agar jaksa punya hati dalam menyelesaikan proses hukum pak Mul,” tuturnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :