Waspada! Ratusan Ulat Bulu Serang Desa Demaan

oleh
Foto: Dua petugas POPT menunjukkan pergerakan ulat-ulat bulu yang sudah mencapai pinggir tembok di jalan Puger (Kojan), Jumat (13-04-2018). (Istimewa/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Sejak dua pekan terakhir, kehadiran ribuan ekor ulat bulu meresahkan warga di Desa Demaan, Kecamatan/Kabupaten Kudus. Ulat-ulat tersebut merayap digenteng, dinding, lantai hingga ke dalam rumah warga.

Meski ulat bulu itu tidak menimbulkan gatal-gatal di kulit warga, namun kehadiran ribuan ekor ulat bulu itu membuat warga bergidik. Serangan ulat bulu ini disebut yang terparah. Sebab, sebelumnya wilayah ini tidak pernah di kunjungi “tamu tak di undang” sebanyak ini.

Maraknya ulat bulu dikawasn ini kemudian dilaporkan oleh warga, ke Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus. Setelah mendapatkan laporan dari warga bahwa di kawasan Jalan Puger, yakni sebuah di lahan bekas gudang tembakau terdapat banyak ulat bulu. Jumlahnya sudah mencapai ratusan, telah mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.

TRENDING :  Solar Cell Jalan Alternatif Kudus-Pati Banyak Yang Hilang Dicuri

Lalu secara cepat instansi tersebut menugaskan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk memeriksa lokasi dan mendatangi lahan bekas gudang tembakau Sayid Abdul Baagil di Jalan Puger tersebut.

“Ini memang harus segera kita tanggapi dan tindaklanjuti dengan pembasmian pakai insektisida. Sebab, kalau sampai ulat-ulat bulu ini berkembang pesat maka bisa mengganggu kenyaman masyarakat sekitar. Ya, keberadaan ulat bulu ini tidak membahayakan nyawa, tetapi mengganggu kenyamanan dengan membuat gatal kulit dan jijik warga,” ujar Didik Kuswadi sambil menyiapkan tangki untuk diisi insektisida. Jumat (13-04-2018).

Menurut Didik Kuswadi, sumber perkembangan ulat bulu ini berasal dari tanaman liar yang tidak pernah dibersihkan. Sehingga jadi sumber berkembangbiak ulat. Urutannya, kupu-kupu berwarna kuning dan coklat berdatangan seiring pergantian musim hujan ke musim kemarau. Mereka meletakkan telur-telurnya di daun-daun pepohonan. Kemudian menjadi ulat yang makan daun-daun tempatnya menetas.

TRENDING :  Desa Padurenan Gebog Kini Sudah Miliki PjS Kades

Dijelaskannya, ulat-ulat ini menjadi makanan burung ences dan prenjak. Tapi dalam dua tahun terakhir ini keberadaan burung-burung tersebut sepertinya telah menghilang dari area perkotaan. Entah diburu warga untuk dikonsumsi atau dijual untuk dipelihara.

“Karena lingkaran ekosistem alam menghilang satu, maka ulat-ulat itu menjadi berkembang tidak terkendali. Akibatnya terjadi ledakan ulat bulu seperti ini. Ulat-ulat bulu itu menyebar ke tembok-tembok warga karena mencari sumber makanan ketika daun-daun di habitatnya telah habis. Masa perkembangan ulat-ulat adalah waktu mareng (pergantian dari penghujan ke kemarau -red) dan laboh (kemarau ke penghujan -red),” jelasnya.

TRENDING :  Eksekusi Rumah Rozi Dinilai Janggal

Guna menghadapi serangan ulat bulu di jalan Puger Desa Demaan Kecamatan kota itu, Didik Kuswadi menyiapkan 2,5 liter insektisida dari Dinas Pertanian dan Pangan. Kondisi angin yang cukup kencang sedikit menghambat proses penyemprotan oleh petugas. Namun, pembersihan ulat bulu di dalam lahan yang penuh tanaman liar itu telah selesai sebelum adzan dhuhur.

“ Untuk saat ini karena kondisi darurat, kita menggunakan insektisida atau zat kimia. Namun untuk jangka panjang, kita berharap agar masyarakat tidak melakukan perburuan terhadap burung-burung yang bisa menjadi predator alami para ulat bulu. Sebab bagaimanapun akan lebih baik bila pencegahan perkembangan ulat bulu terlaksana secara alami,” pungkasnya. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :