KUDUS, ISKNEWS.COM – Sebanyak 13 murid kelas V dan VI SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus mengikuti program pembelajaran internasional di Singapura dan Malaysia pada 18–22 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi upaya sekolah memperluas wawasan global, meningkatkan kemandirian, serta mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan masa depan.
Program tersebut merupakan bagian dari International Academic Program (IAP), salah satu program unggulan SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus yang dipadukan dengan penguatan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).
Melalui kegiatan ini, para murid tidak hanya mendapatkan pembelajaran di lingkungan sekolah, tetapi juga memperoleh pengalaman secara langsung di luar negeri. Mereka diajak mengenal perkembangan teknologi, memahami budaya masyarakat setempat, serta mempelajari kedisiplinan dan tata tertib di negara lain.
Selama berada di Singapura dan Malaysia, para murid berkesempatan menjalin interaksi dengan pelajar di negara tujuan. Mereka juga mengenal penerapan teknologi modern di lingkungan bandar udara, memahami proses keimigrasian, serta mengamati kebiasaan masyarakat dalam menerapkan kedisiplinan.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkaya pengetahuan murid sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, kemandirian, dan pola pikir komputasional.

Kepala SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus, Jamaluddin Kamal, menjelaskan bahwa program IAP telah dirintis sejak 2017. Pelaksanaannya sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 dan kembali digelar pada 2024.
Menurutnya, program pembelajaran internasional tersebut merupakan upaya sekolah untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas dan bermakna bagi para murid.
Belajar di luar negeri, kata Jamaluddin, tidak sekadar memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengunjungi negara lain. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu membuka cakrawala berpikir, membangun rasa percaya diri, serta mempersiapkan mereka menghadapi berbagai tantangan pada masa mendatang.
“Harapan kami, melalui program ini, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, mandiri, dan berwawasan global. Namun, seluas apa pun wawasan yang mereka miliki, karakter dan nilai-nilai kebaikan harus tetap menjadi landasan dalam kehidupan,” ungkap Jamaluddin.
Ia menambahkan, penguatan wawasan global harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Untuk itu, sekolah terus menanamkan nilai SEHATI, yakni Santun, Humanis, Berprestasi, dan Tetap Membumi, sebagai identitas sekaligus budaya yang diterapkan dalam lingkungan pendidikan.
Program tersebut juga sejalan dengan upaya menyiapkan Generasi Emas 2045 yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kemandirian, serta kepedulian terhadap masyarakat.

Dukungan terhadap program ini turut disampaikan Viena Widayani, orang tua Mohammad Afham Satriyosa yang akrab disapa Kak Io. Ia mengaku senang dan mendukung penuh kegiatan pembelajaran internasional yang diselenggarakan sekolah tersebut.
Menurut Viena, pengalaman belajar di Singapura dan Malaysia memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengenal budaya baru, menambah pengalaman, serta membangun motivasi untuk terus berprestasi.
“Program SD Muhammadiyah Birrul Walidain ini sangat bagus. Saya sangat mendukung dan senang dengan adanya kegiatan ini. Anak saya bisa belajar mengenal budaya Singapura dan Malaysia, mendapatkan pengalaman lebih luas, serta termotivasi untuk terus berprestasi dan menjadi lebih mandiri,” ujarnya.
Viena menuturkan, kegiatan tersebut juga menjadi salah satu langkah awal bagi anaknya untuk mewujudkan impian berkeliling dunia. Ia mengungkapkan, putranya pernah menyampaikan keinginan untuk menjelajahi berbagai negara melalui prestasi yang diraihnya.
“Io pernah bilang, ‘Mah, suatu hari aku akan keliling dunia dengan segala prestasiku.’ Menurut saya, kegiatan ini menjadi langkah pertamanya untuk mewujudkan mimpi tersebut, dimulai dari belajar di sekolah-sekolah di Singapura dan Malaysia,” tuturnya.
Selain mengikuti kegiatan akademik, Mohammad Afham Satriyosa juga membawa semangat untuk memperkenalkan komunitas sepedanya, BWBC atau Birrul Walidain Bicycle Club, kepada teman-temannya di Malaysia.
Bagi Viena, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi anaknya untuk memperluas pergaulan, membangun keberanian, dan mengenalkan kegiatan positif yang diikutinya kepada teman sebaya di negara lain.
Melalui perpaduan pembelajaran teknologi, pengalaman akademik lintas negara, dan pendidikan karakter, SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus berharap dapat membentuk generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari langkah sekolah dalam menyiapkan generasi masa depan yang berpengetahuan luas, mandiri, berprestasi, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat serta bangsa. (AS/YM)








