2.270 Pelajar Adu Cepat dan Kuat, MilkLife Athletics Challenge Bidik Lahirkan Atlet Masa Depan Indonesia

oleh -639 Dilihat
Ekspresi kemenangan Adyatama Fawwaz Oktoraza dalam final Lari 400 meter Putra KU 18 MilkLife Athletics Challenge Seri 1 - 2026. Siswa MAN 2 Kudus itu jadi yang tercepat dengan catatan waktu 55,35 detik. (Foto: Istimewa/MLAC)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Sebanyak 2.270 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan di Kudus dan sekitarnya unjuk kemampuan dalam ajang MilkLife Athletics Challenge Seri 1 2026. Lebih dari sekadar perlombaan, kompetisi yang digelar di Supersoccer Arena Kudus pada 15–18 Juli itu menjadi bagian dari upaya membangun regenerasi atlet atletik Indonesia melalui pembinaan sejak usia dini.

Ajang hasil kolaborasi Bakti Olahraga Djarum Foundation dengan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Kudus tersebut diikuti peserta dari 196 Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs), SMP, SMA, MA, hingga SMK. Tahun ini penyelenggara memperluas jangkauan pembinaan dengan menghadirkan lima kelompok usia, mulai KU 8, KU 10, KU 12, KU 15 hingga KU 18 yang berkompetisi di 23 nomor perlombaan atletik.

Deputy Program Manager Bakti Olahraga Djarum Foundation, Welly Arisanto, mengatakan penambahan kategori usia delapan tahun merupakan strategi mempercepat proses pembinaan atlet. Menurutnya, usia dini merupakan periode emas perkembangan kemampuan motorik sehingga menjadi waktu paling tepat mengenalkan dasar-dasar atletik.

“Dengan menghadirkan kelompok usia delapan tahun pada seri pertama tahun ini, kami ingin memotong garis awal pembinaan agar lebih dini lagi. Di usia emas anak-anak, koordinasi motorik mereka berkembang sangat pesat. Lewat MilkLife Athletics Challenge, kami memfasilitasi mereka agar mengenal fondasi atletik melalui cara yang kompetitif namun tetap menyenangkan,” ujarnya, Sabtu (18/7/2026).

Selain memperluas rentang usia peserta, penyelenggara juga melakukan pembaruan nomor perlombaan. Beberapa nomor baru seperti lari 800 meter dan lompat tinggi dimasukkan untuk mengukur potensi dasar atlet, sementara nomor yang dinilai membutuhkan ketahanan fisik ekstrem maupun berisiko tinggi terhadap pertumbuhan anak tidak lagi diperlombakan.

“Kami menyegarkan pilihan nomor perlombaan agar lebih efektif mengukur potensi dasar atlet. Di sisi lain, kami lebih selektif terhadap nomor yang membutuhkan ketahanan fisik ekstrem maupun memiliki risiko cedera sendi tinggi. Harapannya, proses pencarian bakat berlangsung lebih aman dan sesuai tumbuh kembang anak,” lanjut Welly.

Ketua PASI Kabupaten Kudus, Firdaus, menilai kejuaraan yang rutin digelar sejak 2024 tersebut telah memberi dampak besar terhadap perkembangan atletik di Jawa Tengah. Menurutnya, konsep kompetisi yang dipadukan dengan permainan edukatif berhasil menarik minat ribuan pelajar sekaligus mengubah pandangan bahwa atletik merupakan olahraga yang menyenangkan.

“Perkembangan kualitas anak-anak dari seri ke seri sangat luar biasa. Kompetisi reguler seperti ini berhasil mengubah pandangan bahwa atletik itu menakutkan menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan bagi anak sekolah. Kami optimistis Kudus sedang melahirkan generasi atletik baru yang siap bersaing di Porprov hingga Popnas,” katanya.

Firdaus menegaskan, para atlet potensial yang muncul dari kejuaraan tersebut tidak akan berhenti sampai di podium juara. PASI Kudus telah menyiapkan program pembinaan lanjutan secara terstruktur agar mereka memperoleh latihan berkesinambungan sekaligus pengalaman bertanding sebelum tampil di level daerah maupun nasional.

“Tugas kami memastikan bakat-bakat yang terjaring mendapatkan pembinaan lanjutan dan terus memperoleh jam terbang kompetisi agar mental bertanding mereka matang sebelum tampil di kejuaraan resmi,” imbuhnya.

Keberhasilan pembinaan itu mulai terlihat dari prestasi sejumlah sekolah. MTsN 1 Kudus kembali mempertahankan gelar juara umum kategori KU 15 setelah mengoleksi tujuh medali emas, tiga perak, dan dua perunggu.

Guru pendamping MTsN 1 Kudus, Dimas Maulana, menyebut kompetisi tersebut menjadi wadah efektif mengembangkan bakat sekaligus membentuk karakter disiplin dan sportivitas peserta didik.

“MilkLife Athletics Challenge merupakan ajang yang luar biasa. Anak-anak ternyata memiliki potensi besar di cabang atletik. Kami berupaya memberikan fasilitas melalui kegiatan ekstrakurikuler agar prestasi mereka terus berkembang,” ujarnya.

Sementara itu, pada kategori KU 18, atlet MAN 2 Kudus Adyatama Fawwaz Oktoraza menjadi salah satu peserta yang mencuri perhatian. Ia berhasil meraih juara nomor lari 400 meter putra sekaligus membawa timnya menjadi yang terbaik pada nomor estafet 4 x 400 meter mixed.

Bagi Adyatama, kemenangan tersebut bukan sekadar koleksi medali. Ia berharap prestasi di MilkLife Athletics Challenge menjadi pintu menuju jenjang yang lebih tinggi.

“Kejuaraan ini sangat positif karena semakin banyak siswa yang tertarik mengikuti atletik. Saya ingin fokus di nomor 400 meter dan semoga ini menjadi jalan menuju Pelatnas serta bisa menjadi bagian dari tim nasional atletik Indonesia,” ungkapnya.

Melalui pembinaan yang dilakukan secara berjenjang mulai usia delapan tahun hingga tingkat SMA, MilkLife Athletics Challenge tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya generasi baru atlet atletik Indonesia.

Dari lintasan Supersoccer Arena Kudus, harapan untuk melahirkan atlet berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional mulai dibangun sejak langkah pertama para pelajar menginjak garis start. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.