200 Kuota Vaksin di Desa Padurenan Habis dalam 3 Jam

oleh -594 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Vaksinasi menjadi kewajiban bagi mayarakat Indonesia dimasa pandemi seperti saat ini. Karena vaksinasi menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mencegah penyebaran COVID-19.

Bukan itu saja, sertifikat vaksin COVID-19 resmi digunakan sebagai syarat untuk beraktivitas ditempat-tempat umum. Aturan ini tertuang dalam keputusan gubernur (Kepgup) No. 966 Tahun 2021. Aturan ini ditujukan kepada masyarakat yang melakukan aktivitas di sektor-sektor tertentu, masyarakat diharuskan sudah vaksinasi minimal tahap pertama.

Oleh karena itu, pemerintah desa Padurenan kecamatan Gebog Kabupaten Kudus yang bekerja sama dengan puskesmas Gribig mengadakan vaksinasi massal secara gratis dengan kuota 200 orang. Kuota vaksin ini sudah ditentukan dari puskesmas Gribig yang disesuaikan perwilayah.

Untuk di puskesmas Gribig sendiri terdapat 6 desa, diantaranya, Padurenan, Getasrabi, Klumpit, Karangmalang, Besito, dan Gribig. Pelaksanaan vaksninasi dilaksanakan pada hari Sabtu (11/9/2021) pada pukul 08.00 sampai 11.00 WIB.

Menurut Admin Desa, Noor Huda Tamami mengatakan bahwa untuk sosialisasi kegiatan vaksinasi dilaksanakan dengan cara menyebarkan pengumuman melalui WhatApps group per-RW.

“Jadi, untuk sosialisasi masing-masing ketua RW menyampaikan langsung ke warganya melalui pesan WA,” jelasnya.

Kegiatan vaksinasi ini, lanjutnya, dikhususkan untuk masyarakat desa Padurenan saja, dan terlihat masyarakat sangat antusias untuk mengikuti vaksinasi tersebut. Sedangkan untuk syarat vaksinasi tersebut cukup mudah, yakni dengan membawa fotocopy KK dan KTP.

“Teknisnya, Fotocopy KK dan KTP tersebut dibawa masuk menuju ke ruang registrasi untuk mendapatkan nomor antrian dan kartu registrasi. Selanjutnya kartu registrasi tersebut diisi sesuai data diri masing-masing beserta penyakit yang pernah diderita. Setelah mengisi data diri warga menunggu antrian untuk vaksinasi tersebut, ujarnya.

Saat nomor antrian sudah dipanggil, lanjutnya, warga melakukan tahap screening dari dokter, perawat, dan bidan disana. Pada tahap screening ini meliputi: pegecekan suhu dan tekanan darah.

Ia mengimbau kepada warga yang lulus tahap screening maka dapat langsung melakukan vaksinasi, dan bagi mayarakat yang tidak lulus dalam tahap screening maka dianjurkan untuk menunda vaksinasi atau melakukannya di Rumah sakit terdekat.

“Setelah vaksinasi selesai warga disuruh menunggu untuk mendapatkan sertifikat vaksin kurang lebih 15 menit setelah vaksinasi. Vaksin yang digunakan adalah vaksin jenis AstraZeneca dan Sinovac. Sebelumnya, warga juga dianjurkan untuk sarapan terlebih dahulu agar setelah divaksin tidak terjadi nyeri yang berlebih,” tambahnya.

Sementara Bidan Desa, Yayan Suprabawati menjelaskan, batasan usia untuk vaksin jenis Sinovac mulai usia 12 tahun sampai remaja, sedangkan untuk vaksin jenis AstraZeneca mulai usia 18 tahun keatas sampai lansia.

Untuk efek samping setelah vaksin, lanjut Yayan, mengalami seperti nyeri setelah disuntik, dan demam. Sedangkan untuk nafsu makan berlebih, menurutnya itu bukan termasuk efek samping dari vaksin.

“Untuk gejala demam setelah vaksinasi, itu disebabkan karena daya tahan tubuh yang kurang sehingga diharuskan untuk beristirahat. Vaksinasi kedua kemungkinan dilakukan tanggal 11 oktober 2021 di desa Padurenan. Untuk jangka waktu antara vaksin pertama dan kedua pada vaksin jenis Sinovac adalah 1 bulan.  Sedangkan untuk vaksin jenis AstraZeneca adalah 12 minggu atau sekitar 3 bulan,”

Kegiatan vaksinasi tersebut berlangsung secara aman, terkendali, tanpa adanya kerumunan karena dibantu oleh mahasiswa KKN-IK IAIN KUDUS, Bhabinkamtibmas, serta Bhabinsa Desa Padurenan. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :