4 Bocah Korban Tenggelam Galian C Ilegal Klumpit Dimakamkan Hari Ini, Keluarga Berencana Tuntut Pengelola dan Pemdes

oleh -475 kali dibaca


Kudus, isknews.com – Empat bocah tenggelam di kubangan galian C ilegal di desa Klumpit, Kudus, kamis siang di makamkan. Isak tangis keluarga dan teman sekolah mengiringi keberangkatan jenazah menuju pemakaman, Kamis (23/01/2019).

Sejumlah warga dan teman-teman sekolah korban, saat mengantarkan jenazah Muhammad Faruq Ilham (13) ke pemakaman umum desa Klumpit Gebog Kudus (Foto: YM)

Dari pantauan media ini, pada pukul 10.00 pagi Nampak suasana rumah duka Muhammad Faruq Ilham (13), satu dari empat korban yang tenggelam saat bermain di kubangan air galian C ilegal didesa Klumpit, kecamatan Gebog, Kudus, dipenuhi oleh para pelayat. Isak tangis keluarga dan teman sekolah mengiringi keberangkatan korban menuju tempat pemakaman umum di desa Klumpit.

Sejumlah warga dan teman-teman sekolah korban, saat mengantarkan jenazah Muhammad Faruq Ilham (13) ke pemakaman umum desa Klumpit Gebog Kudus (Foto: YM)


Seperti diketahui Faruq adalah salah satu korban dari empat korban bocah tenggelam, yakni David Raditya, 13 tahun , Muhammad Faruq Ilham, 13 tahun , Muhammad Jihar Gifri, 13 tahun , Habib Roihan, 13 tahun yang menjadi korban tenggelam di sebuah kubangan bekas galian. Ke empatnya saat itu berenang dan terjun ke air kubangan, namun saying sejak itu keempatnya tak lagi muncul ke permukaan.
Sementara dua orang temannya yang belum sempat terjun yaitu Andreas Firman Zaki (13) dan Nurul Alfian (13) selamat dan melaporkan hal tersebut kepada warga. Dari penuturan sejumlah warga yang sempat menolong, diduga para korban terjebak kedalam lumpur tebal yang ada di dasar kubangan sehingga kesulitan untuk berenang mengayuh ke permukaan.
Secara bersamaan keempatnya di makamkan hari ini, menurut keluarga mereka baru pertama kali ini bermain di kawasan galian C dukuh Santren. Pihak keluarga tak menyangka jika kubangan galian C tersebut berbahaya dan merenggut nyawa empat bocah sepermainan.
Sementara itu Almarhum Muhammad Faruq Ilham, dimata teman sekolah, merupakan pribadi yang sopan, mudah bergaul, dan selalu rajin di sekolah.
Elsa Novita (13) teman korban mengatakan, sebelum Faruq meninggal sempat mendapat firasat karena Muhammad Faruq mengatakan akan pergi jauh.
“Faruq anaknya baik, suka menyapa, bisa buat marah juga bisa buat senang tapi dia kemarin bilang mau pergi jauh dan meminta untuk mengahupus nomor HP dari kontak teman-temannya,” kata Elsa saat melayat di rumah duka dukuh Pedhak.
Sementara itu Kartini guru kelas korban tenggelam mengatakan bahwa korban termasuk anak yang rajin.
“Namun hari itu biasalah anak anak, kebetulan saya ngajar, disekolah kaya tidak konsen, sudah bilang sama teman temannya nomernya suruh blokir,” ujar kartini.

Sementara atas kejadian tersebut, pihak keluarga menyayangkan pihak Pemerintah Desa yang terkesan lalai, dan membiarkan adanya galian C baru baru ini yang menimbulkan korban jiwa. Apalagi pihak Pemerintah Desa sebelumnya juga mengikuti acara rapat pembubaran galian C yang digelar di Balai Desa.
Selain terlepas dari pengawasan orang tua, pihak keluarga bakal menuntut keadilan atas peristiwa tewasnya empat bocah di galian C ilegal.
Gunadi (49) paman korban warga RT 02 RW 8 menyatakan akan menempuh jalur hukum dengan menuntut pihak-pihak yang dianggap bertanggungjawab.
“kami akan mencari keadilan, biar tidak ada kejadian terulang,” katanya saat ditemui sejumlah awak media.
Paman korban, menyayangkan pihak pemerintah desa yang dianggapnya lalai. Padahal bulan november tahun lalu sudah ada kesepakatan penutupan galian C ilegal.
“Nyatanya pihak desa abai dengan kesepakatan, dengan membiarkan pengusaha galian meninggalkan pertambangan begitu saja,” terangnya.
Masih menurut gunadi, hingga kini, pihak pengusaha pun belum menemui keluarga. Dari sore hari pascakejadian, hingga setelah jenazah dimakamkan.
Senada dengan gunadi, camat Gebog bambang gunadi menyebut pihak yang paling bertanggungjawab adalah pelaku penambangan, baik pengusaha, pemilik lahan maupun pemilik alat berat.
“harusnya mereka mematuhi kesepakatan yang telah mereka tanda tangani,” kata camat Gebog.
Kami tentu akan meminta pertanggungjawaban dari mereka, biar aparat kepolisian yang nanti memprosesnya, tutupnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :