46 Desa di Kudus Bentuk Satgas Adat Istiadat, Upaya Desa Adaptif Terhadap Budaya

oleh -287 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Sebanyak 46 desa dari 123 desa di Kudus sudah membentuk Satgas Adat Istiadat.

Dibentuknya satgas tersebut sebagai upaya untuk melestarikan, mengembangkan dan memajukan adat istiadat dan nilai sosial budaya yang ada di desa supaya tetap lestari.  

Demikian dikatakan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Kudus, Adi Sadhono melalui Kabid Pemberdayaan Masyarakat Lilik Ngesti Widyasuryani usai menggelar Sosialisasi Budaya Adaptif yang berlangsung di Hotel @Hom Kudus, Rabu (23/11/2022).

“Untuk penguatan budaya desa maka budaya desa harus adaptif. Untuk pelestarian, pengembangan, kemajuan adat istiadat dan nilai sosial budaya di desa harus bergerak dari desa, untuk desa dan oleh desa (Das Des Dus),” sambungnya.

Lilik mengatakan, Ada lima langkah strategis pengembangan Satgas Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya masyarakat Kudus. yakni brand, regulasi, penggalian, pengakuan, serta pelestarian dan pengembangan.

Selain itu, satgas ini juga bertugas untuk memberikan fasilitas kepada desa dalam mengembangkan perekonomian melalui budaya. 

Artinya, mereka bertugas mengakomodir potensi budaya di masing-masing desa dan mengexplore setiap potensi yang ada.

Sedangkan untuk regulasi lanjut dia, ada di Perbub Kudus nomor 43 Tahun 2019, Kemendes PDTT telah merumuskan secara detail 18 SDGs Desa, Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif serta Pemdes dapat mendirikat Satgas Adat sebagaimana kewenangan lokal desa.

Lilik menandaskan, Pembentukan Satgas Adat di desa ini sifatnya tidak ada paksaan. Bila nantinya memang ada yang membentuk maka pihaknya akan menampung dan memberikan regulasinya, strateginya, pengembangannya.

Salah satu desa yang sudah membentuk Satgas Adat adalah Desa Kaliputu Kecamatan Kota yang memiliki tradisi Tebokan.

“Bila desa sudah membentuk Satgas Adat maka akan mudah bagi kami untuk meng koordinasikan lebih lanjut dengan langkah – langkah bagaimana desa itu adaptif terhadap budaya. Dan nilai – nilai luhur budaya itu tidak boleh diganti oleh apapun.” pungkasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :