Kudus, isknews.com – Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) terus memperkuat gerakan pengelolaan sampah berkelanjutan di Kabupaten Kudus. Salah satu langkah terbaru yang dilakukan adalah meluncurkan peta digital berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memuat 525 titik penjemputan sampah untuk memudahkan masyarakat menyalurkan sampah, khususnya sampah organik.
Peluncuran inovasi tersebut dilakukan bersamaan dengan puncak kegiatan Lomba Keluarga ASIK (Apik dan Resik) Kabupaten Kudus 2026 yang digagas Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus bersama BLDF. Program ini menjadi bagian dari upaya mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah mulai dari lingkungan keluarga.
Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengatakan bahwa penguatan budaya peduli lingkungan harus dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat, yakni keluarga. Karena itu, berbagai program edukasi dan pendampingan terus dilakukan secara berkelanjutan melalui gerakan Kudus ASIK.
Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut telah berlangsung sejak Desember 2025 melalui sosialisasi kepada 150 kader PKK. Program kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pengelolaan sampah yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader agar mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.
“Kami percaya keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter generasi mendatang. Perubahan perilaku di tingkat keluarga tidak lepas dari peran seorang ibu yang menjadi penggerak utama di rumah. Karena itu kami berupaya menghadirkan program yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan,” ujarnya.
Mutiara mengungkapkan, antusiasme masyarakat terhadap program tersebut cukup tinggi. Tercatat lebih dari 56 konten partisipasi dari berbagai unsur masyarakat, mulai keluarga, RT, RW hingga tingkat kelurahan, turut meramaikan kegiatan Keluarga ASIK.
Selain memberikan apresiasi kepada keluarga yang konsisten menerapkan pengelolaan sampah, BLDF juga memperkenalkan peta digital titik penjemputan sampah yang kini dapat dimanfaatkan masyarakat Kudus. Melalui sistem tersebut, warga dapat lebih mudah mengetahui lokasi pengumpulan sampah yang tersedia di wilayahnya.
Peta digital tersebut didukung oleh 10 armada pengangkut yang setiap hari bertugas menjemput sampah dari berbagai titik. Dalam operasionalnya, satu armada mampu mengangkut sekitar 70 hingga 120 tong sampah per hari dengan jam layanan mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB.
Jangkauan layanan penjemputan sampah mencakup berbagai wilayah di Kabupaten Kudus, termasuk lokasi yang berjarak hingga 27 kilometer dari Pusat Pengelolaan Sampah Organik (PPO) Djarum. Sampah yang terkumpul selanjutnya dibawa ke fasilitas pengolahan untuk diproses lebih lanjut.
Mutiara menjelaskan, kehadiran peta digital tersebut merupakan bentuk komitmen BLDF dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif. Inovasi itu juga diharapkan dapat mendorong masyarakat semakin terbiasa memilah sampah dari sumbernya.
“Melalui peta digital ini masyarakat dapat lebih mudah menemukan titik pengumpulan sampah. Harapannya, kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah dapat semakin tumbuh dan menjadi budaya di masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Sam’ani Intakoris menyampaikan apresiasi atas berbagai program yang dijalankan BLDF dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan di Kabupaten Kudus. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah dan Djarum Foundation telah menghasilkan berbagai langkah konkret yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Menurut Sam’ani, gerakan Keluarga ASIK menjadi contoh bagaimana edukasi lingkungan dapat dilakukan secara kreatif dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Selain meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan sampah, program tersebut juga membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kudus, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat ditangani lebih efektif ketika pemerintah, swasta, dan masyarakat bergerak bersama,” ujarnya.
Senada dengan itu, Plt Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus, Didik Tri Prasetiyo, menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.
Ia menilai pemilahan sampah sejak tingkat rumah tangga merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
“Persoalan sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak. Jika kebiasaan memilah sampah dimulai dari keluarga dan dilakukan secara konsisten, maka dampaknya akan sangat besar bagi kelestarian lingkungan di masa mendatang,” tuturnya.
Sebagai informasi, gerakan Kudus ASIK telah dijalankan BLDF sejak tahun 2022 dengan fokus pada edukasi pengelolaan sampah organik berbasis digital. Program tersebut juga didukung oleh sekitar 370 mitra yang terdiri atas rumah makan, pasar tradisional, hotel, korporasi, masyarakat desa, dan berbagai sektor lainnya.
Melalui kolaborasi tersebut, sedikitnya 50 ton sampah organik berhasil dihimpun setiap hari untuk selanjutnya diolah di fasilitas Pusat Pengelolaan Sampah Organik (PPO) Djarum sebagai bagian dari upaya menciptakan Kabupaten Kudus yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (AS/YM)






