55 Karhutla Terjadi di Kudus Selama Agustus, 4 Desa Dilanda Kekeringan

oleh -256 Dilihat

KUDUS, ISKNEWS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana paling dominan di Kabupaten Kudus sepanjang Agustus 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mencatat sebanyak 55 kejadian karhutla terjadi dalam sebulan, di tengah kondisi kemarau yang juga mulai memicu kekeringan di sejumlah wilayah.

Berdasarkan rekapitulasi kebencanaan BPBD Kabupaten Kudus periode 1-31 Agustus 2026, secara keseluruhan terdapat 60 kejadian bencana. Rinciannya terdiri dari 55 karhutla, empat kejadian kekeringan dan satu kejadian cuaca ekstrem.

Sebaran karhutla dalam infografis BPBD tercatat di sejumlah kecamatan. Kecamatan Gebog menjadi salah satu wilayah dengan angka tertinggi, yakni 14 titik, disusul Kecamatan Bae 13 titik, Kaliwungu 8 titik, Dawe 7 titik, Jekulo 6 titik, Kota 4 titik, Jati 4 titik dan Mejobo 3 titik.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan tingginya kejadian kebakaran menjadi perhatian pemerintah daerah. Kondisi kemarau membuat seluruh elemen harus meningkatkan kesiapsiagaan, tidak hanya terhadap karhutla, tetapi juga kebakaran di kawasan permukiman serta ancaman kekeringan.

“Selain istisqa adalah persiapan dari semua elemen yang ada di Kabupaten Kudus untuk mengantisipasi kebakaran, baik itu kebakaran hutan, lahan maupun perumahan, termasuk antisipasi terjadi kekeringan, kekurangan air di wilayah-wilayah tertentu,” ujar Sam’ani.

Di tengah ancaman karhutla, dampak kekeringan juga mulai dirasakan masyarakat. Hingga 3 September 2026, tercatat empat desa di tiga kecamatan terdampak kekeringan, yakni Desa Glagahwaru Kecamatan Undaan, Desa Colo Kecamatan Dawe, serta Desa Setrokalangan dan Desa Kedungdowo Kecamatan Kaliwungu.

Data BPBD menunjukkan kekeringan tersebut berdampak terhadap 811 KK atau 2.316 jiwa. Glagahwaru menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbesar, mencapai 606 KK atau 1.695 jiwa.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko, mengatakan pemerintah terus melakukan penanganan dengan mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak.

Sejak 15 Juli hingga 3 September 2026, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai 914.000 liter menggunakan 168 tangki.

Distribusi tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya BPBD, Kodim, Polres, Satpol PP, PDAM, BBWS Pemali Juana, PMI, IBI, IDI, Sukun, Baznas dan Pemuda Pancasila.

“Penanganan kekeringan dilakukan bersama-sama dengan melibatkan berbagai unsur. Dropping air terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak,” ujar Eko.

Sam’ani menegaskan kolaborasi lintas sektor terus diperkuat untuk menghadapi kondisi tersebut.

“Alhamdulillah koordinasi yang sangat baik, kolaborasi yang sangat baik, orkestrasi yang sangat baik antara Pemkab, TNI, Polri, Kemenag, BPD, dan pihak-pihak swasta yang ada di Kabupaten Kudus ini menyatu untuk mendukung kegiatan-kegiatan ini,” pungkasnya. (YM/YM)