62 Kali Operasi Penindakan, Bea Cukai Kudus Sita 14 Miliar Batang Rokok Ilegal

oleh -238 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Kudus, hingga kemarin sudah berhasil mengamankan barang bukti (BB) rokok ilegal menembus diangka 14,6 juta miliar batang.

Dari angka tersebut pPotensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan mencapai Rp 8,5 miliar dari total nilai barang bukti sebesar Rp 14,5 miliar.

Kepala KPPBC Kudus, Gatot Sugeng Wibowo didampingi Kasi Inteldak, Indra Gunawan, mengemukakan hal tersebut, angka ini kami peroleh dari 62 penindakan.

Selain 14,6 juta batang dalam bentuk sigaret keretek mesin (SKM), pihaknya juga menyita 14.690 batang rokok ilegal dalam bentuk sigaret keretek tangan (SKT).

“Penindakan ini terus kami lakukan dari hulu-hilir dan sebaliknya,” kata dia, Minggu (20/09/2020) siang.

Operasi rokok ilegal ini memberi ruang gerak pelaku resmi untuk berusaha. Daerah yang ditinggalkan pelaku rokok ilegal akan digunakan untuk rokok bercukai.

”Upaya tersebut membantu peningkatan pendapatan cukai ke kas negara,” jelasnya.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Kudus, Gatot Sugeng Wibowo (Foto: YM)

Data yang dihimpun, realisasi penerimaan kas negara dari sektor pabean dan cukai di Bea Cukai Kudus hingga akhir pekan lalu mencapai Rp 17,4 triliun dari target 2020 sebesar Rp 35,9 triliun. Rinciannya target dari pabean Rp 110,3 miliar terealisasi Rp 18,8 miliar.

“Adapun penerimaan cukai dari target 35,8 triliun terealisasi Rp 17,4 triliun,” terangnya.

Kudus menjadi salah satu penopang terbesar dalam penerimaan cukai dari sektor rokok ke kas negara setiap tahunnya. Tahun 2019 target penerimaan cukai hasil tembakau yang ditetapkan pemerintah pada APBN mencapai Rp 150 triliun, sekitar 21 persennya dibebankan KPPBC Kudus.

” Ini meningkat dibanding Tahun 2018, target cukai yang ditetapkan pusat kepada KPPBC Kudus setelah revisi sebesar Rp 31,26 triliun, realisasinya mencapai Rp 31,34 triliun atau 100,27 persen,” tutur Gatot.

Kondisi itu menurutnya, berbalik dengan penerimaan pabean (bea masuk), dari target Rp 180,948 miliar hanya terpenuhi Rp 79,68 miliar atau 44,04 persen.

“Minimnya penerimaan pabean, tertutup oleh realisasi sektor cukai yang melebihi target,” terang dia.

Salah satu upaya untuk merealisasikan target, yaitu dengan mengintensifkan pemberantasan rokok ilegal. Operasi pemberantasan memberikan dampak positif bagi peningkatan produksi rokok legal.

Apabila peredaran rokok ilegal tertekan, kekosongan daerah pemasaran dapat diisi rokok legal sehingga produksinya menjadi terdongkrak.

“Kalau produksi rokok legal naik, maka pembelian cukai akan meningkat,” tandas Gatot. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.