Kudus, isknews.com – Sekitar 70 persen pengungsi banjir di Kabupaten Kudus mulai kembali ke rumah masing-masing seiring kondisi genangan yang berangsur surut.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris turun langsung mengunjungi Posko Pengungsian NU Muslimat di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, sekaligus mengantar warga yang memilih pulang, Sabtu (25/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Sam’ani menyampaikan bahwa kepulangan pengungsi dilakukan secara bertahap setelah dilakukan pengecekan kondisi lingkungan, baik akses jalan maupun rumah warga terdampak banjir.
“Hari ini kita mengantar saudara-saudara kita yang mengungsi di Loram Kulon, di posko NU Muslimat. Kita bersama Pak Kades, Pak RW, Babinsa, Bhabinkamtibmas, TNI, Polri, Banser, relawan, BPBD, semuanya ikut mengantar para pengungsi untuk kembali ke rumah,” kata Sam’ani.
Ia menjelaskan, hasil pengecekan di lapangan menunjukkan masih terdapat genangan di sejumlah titik, namun ketinggiannya relatif rendah.
“Setelah kita cek, jalan-jalan masih ada beberapa genangan, sebagian rumah juga masih tergenang, tapi di bawah lima sentimeter. Karena warga tetap ingin pulang, kita fasilitasi,” ujarnya.
Sam’ani juga mengapresiasi peran aktif pemerintah desa yang sejak awal terlibat dalam penanganan banjir, mulai dari proses evakuasi hingga pendampingan warga selama berada di pengungsian.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Pak Kades yang telah menjemput, memperhatikan, dan mengantar warganya yang terdampak.
Kurang lebih ada 453 warga yang terdampak di wilayah ini,” jelasnya.
Meski sebagian besar pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing, Pemerintah Kabupaten Kudus tetap mewaspadai potensi banjir susulan dan memastikan koordinasi lintas sektor terus berjalan.
“Kami tetap berkoordinasi. Kalau nanti ada kebutuhan, Pak Kades bisa berkoordinasi dengan BPBD, puskesmas, maupun kecamatan untuk dukungan dan bantuan lanjutan,” tegas Sam’ani.
Ia mengakui, banyak warga memilih pulang karena merasa lebih nyaman berada di rumah sendiri meskipun masih terdapat genangan ringan.
“Kalau terlalu lama di pengungsian, warga juga jenuh. Mereka ingin pulang, ingin lebih nyenyak di rumah sendiri. Tapi tentu kami juga khawatir kalau ada banjir susulan,” ucapnya.
Terkait kondisi cuaca, Sam’ani menyebut intensitas hujan sudah mulai menurun meski masih terjadi hujan di wilayah hulu.
“Cuaca sudah mulai reda. Masih ada hujan, tapi tidak ekstrem. Genangan ini juga dipengaruhi aliran dari Sungai Piji, Logung, Dawe, dan Gayam yang tertahan di tanggul dan kolam retensi,” paparnya.
Secara umum, Sam’ani menyampaikan sekitar 70 persen pengungsi banjir di Kabupaten Kudus telah kembali ke rumah masing-masing.
“Hampir 70 persen pengungsi sudah pulang. Hari ini bertahap, termasuk dari posko NU Muslimat Loram Kulon dan beberapa titik lain seperti Karangrowo.
Masih ada sebagian yang bertahan karena genangan di wilayahnya masih ada,” imbuhnya.
Sementara itu, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kudus Ahmad Munaji menyampaikan bahwa hingga saat ini masih terdapat 15 titik posko pengungsian aktif yang tersebar di sejumlah wilayah terdampak banjir.
Posko-posko tersebut berada di Balai Desa Gulang, Pustu Tanjungkarang, Balai Desa Karangrowo, Gedung Muslimat NU Loram Kulon, Balai Desa Jepang Pakis, Kantor DPD PAN, SD 1 Payaman, Gedung DPC PDIP Kudus, Aula DPRD Kudus, GKMI Tanjungkarang, Balai Desa Tanjungkarang, Balai Desa Jati Wetan, Gedung NU Center Pasuruhan Lor, TK Pertiwi Balai Desa Kesambi, serta Madrasah Hidayatus Syibyan Temulus.
“Total pengungsi yang tercatat saat ini sebanyak 742 jiwa dari 284 kepala keluarga,” terang Ahmad Munaji.
Ia menambahkan, komposisi pengungsi terdiri dari berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga lanjut usia, sehingga penanganan diprioritaskan bagi kelompok rentan.
“Komposisi pengungsi meliputi bayi, balita, anak-anak, dewasa, hingga lansia.
Di sisi lain, Kepala Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Sudirno, menyebutkan jumlah pengungsi yang tercatat dan tersentral di Posko NU Muslimat Loram Kulon mencapai 453 jiwa.
“Yang mengungsi ada 453 jiwa dan tersentral di Gedung Muslimat NU Loram Kulon. Tapi tidak menutup kemungkinan ada warga yang tidak melapor kepada kami,” kata Sudirno.
Ia menjelaskan, sebagian warga memilih mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat di wilayah lain.
“Ada yang di rumah saudara di Loram Wetan, Loram Kulon, ada juga yang ke Jepang Pakis dan Megawon. Informasi yang kami terima, pemerintah desa setempat sudah melapor ke kecamatan, sehingga kebutuhan logistiknya tercukupi,” jelasnya. (YM/YM)







