IDI-PMI Kudus Gelar Seminar Nasional, Kupas Peran Plasma Darah dalam Pelayanan Rumah Sakit

oleh -335 Dilihat
IDI dan PMI Cabang Kudus menggelar Seminar Kesehatan Nasional dengan tema “Optimalisasi Pemanfaatan Plasma Darah Dalam Mendukung Pelayanan Klinis di Rumah Sakit”, Sabtu (5/9/2026). (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Peran plasma darah dalam mendukung pelayanan klinis di rumah sakit menjadi fokus pembahasan dalam seminar kesehatan nasional yang digelar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kudus, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi forum untuk meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan mengenai pemanfaatan plasma darah secara optimal bagi kebutuhan pasien.

Seminar yang berlangsung di Hotel @Hom Kudus itu mengangkat tema “Optimalisasi Pemanfaatan Plasma Darah Dalam Mendukung Pelayanan Klinis di Rumah Sakit.” Kegiatan diikuti para direktur rumah sakit dari Kabupaten Kudus, Pati, Demak, dan Jepara, serta dilaksanakan secara luring dan daring melalui Zoom.

Tiga narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut, yakni dr. Robby Nur Aditya, M.Si., Dr. dr. Damai Santoso, Sp.PD-KHOM., serta Dr. Irma Zaimatuddunia, S.PD, M.Sc.

Ketua IDI Kudus dr. Wahyu Wijanarko, Sp.B, M.Si.Med mengatakan, plasma darah memiliki peran penting dalam mendukung pelayanan klinis di rumah sakit. Tingginya kebutuhan plasma di Indonesia juga mendorong perlunya penguatan fasilitas pengolahan dan pemanfaatan plasma.

“Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kebutuhan plasma di Indonesia mencapai sekitar 1 juta liter per tahun. Besarnya kebutuhan tersebut membutuhkan dukungan fasilitas fraksionasi plasma agar plasma darah dapat diolah dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Menurutnya, sebagai salah satu pengguna plasma darah dalam pelayanan kesehatan, IDI Kudus berkomitmen untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kompetensi para anggotanya. Hal tersebut penting agar pemanfaatan plasma dapat dilakukan secara tepat dan mampu mendukung pelayanan pasien secara optimal.

Sementara itu, Ketua PMI Cabang Kudus Revlisianto Subekti mengatakan, PMI selama ini dikenal masyarakat melalui pelayanan darah, donor darah, dan berbagai kegiatan kemanusiaan. Namun, perkembangan tantangan di bidang pelayanan kesehatan membuat PMI perlu terus meningkatkan kapasitas, teknologi, kualitas sumber daya manusia, serta tata kelola pelayanan darah.

Menurutnya, kehadiran alat pengolah plasma darah di Kabupaten Kudus menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai manfaat pelayanan darah.

“Kita tentunya ingin tidak tertinggal dari Semarang, Banyumas maupun Solo yang sudah CPOB. Harapannya di Kudus bisa meng-cover kawasan bagian timur,” katanya.

Revlisianto menegaskan, fasilitas pengolah plasma yang telah diberikan tersebut tidak boleh hanya menjadi aset bernilai tinggi yang kemudian tersimpan tanpa dimanfaatkan secara maksimal. Fasilitas itu harus mampu menjadi bagian dari pelayanan yang produktif, aman, berkualitas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ketua PMI Provinsi Jawa Tengah dr. H. Hartanto menambahkan, saat ini belum seluruh UDD PMI memiliki kemampuan melakukan pengolahan plasma sesuai standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

“Untuk bisa mengolah plasma dengan baik itu memang harus CPOB, Cara Pembuatan Obat yang Baik. Untuk itu memerlukan alat dan proses yang tidak mudah. Sedangkan UDD PMI Provinsi sendiri belum mampu,” ungkapnya.

Selama ini, pembinaan dilakukan bersama UDD PMI yang telah memenuhi standar CPOB, di antaranya UDD PMI Kota Semarang, Kota Surakarta, dan Banyumas.

Dengan adanya fasilitas pengolah plasma di Kudus, pihaknya menyambut baik rencana pengembangan Kudus sebagai salah satu pusat pengolahan plasma yang dapat mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan di wilayah Jawa Tengah bagian timur.

Salah satu narasumber, Dr. dr. Damai Santoso dari RSUP Dr. Kariadi Semarang, menjelaskan plasma memiliki peran penting dalam proses pembekuan darah karena mengandung berbagai faktor pembekuan.

“Plasma itu penting untuk pembekuan darah. Darah itu kan ada bagian padat dan bagian cair. Plasma itu bagian cair yang memiliki faktor-faktor pembekuan,” jelasnya.

Ia mengatakan, plasma dapat diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan pembekuan darah atau kondisi tertentu yang menyebabkan proses pembekuan berlangsung lebih lama. Salah satunya pasien yang mengalami perdarahan dengan gangguan koagulasi.

Selain digunakan secara langsung, plasma juga dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan berbagai faktor pembekuan yang dibutuhkan pasien dengan penyakit tertentu, termasuk hemofilia.

Dengan adanya alat pengolah plasma yang baru, PMI Kudus kini telah dapat membuat Fresh Frozen Plasma (FFP). Sebelumnya, kebutuhan FFP harus didatangkan dari Semarang.

Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian pelayanan darah di Kudus sekaligus mendukung kebutuhan rumah sakit di wilayah sekitarnya.

Seminar nasional ini sekaligus menjadi ruang bertukar pengetahuan bagi tenaga kesehatan mengenai pengolahan, pemanfaatan, dan peran plasma darah dalam pelayanan klinis, sehingga pemanfaatannya dapat semakin optimal dan memberikan manfaat bagi pasien. (AS/YM)