KUDUS, ISKNEWS.COM – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pembelajaran sains dan teknologi tidak harus identik dengan laboratorium canggih maupun peralatan berharga mahal. Pesan tersebut disampaikan saat meluncurkan Program STEM (Sains, Teknologi, Enginering, dan Matematika) Nasional di PAUD Terpadu Kalirejo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Kamis (3/9/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, pengenalan STEM dapat dilakukan sejak anak berada di jenjang pendidikan usia dini. Justru melalui pembelajaran sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, anak dapat mulai membangun rasa ingin tahu dan ketertarikan terhadap sains serta teknologi.
Ia mengatakan, STEM dirancang untuk menumbuhkan kecintaan sekaligus kemampuan anak dalam memahami sains dan teknologi sejak tahap awal pendidikan. Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat pelaksanaan kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun.
Abdul Mu’ti mengakui bahwa gagasan mengenalkan sains dan matematika kepada anak usia taman kanak-kanak sempat menuai pertanyaan. Sebagian pihak menilai kedua bidang tersebut terlalu sulit untuk dipelajari anak pada usia dini.
“Ketika saya menyampaikan gagasan itu, ada yang mengkritik saya, bagaimana anak TK bisa belajar sains, bagaimana anak TK bisa belajar matematika?” ujar Abdul Mu’ti.
Namun, menurut dia, pemahaman STEM pada anak tidak harus diberikan dalam bentuk pembelajaran yang rumit. Konsep matematika, misalnya, tidak sebatas kegiatan menghitung angka, sementara sains dapat dikenalkan melalui berbagai peristiwa sederhana yang mereka temui setiap hari.
Abdul Mu’ti juga menyoroti anggapan bahwa penerapan STEM membutuhkan sarana khusus dengan biaya besar. Ia menilai pandangan tersebut perlu diubah agar sekolah tidak merasa terbebani ketika ingin menerapkan pembelajaran berbasis sains dan teknologi.
“Jadi STEM itu tidak harus selalu berada di ruangan laboratorium yang canggih, regane larang, terus suasananya juga dibuat seperti rekayasa begitu. Itu tidak salah, tapi tidak harus begitu STEM itu,” katanya.
Menurutnya, lingkungan sekitar sekolah maupun tempat tinggal anak dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Benda-benda dan berbagai fenomena yang dijumpai dalam keseharian bisa menjadi bahan bagi anak untuk mengamati, bertanya, mencoba, hingga menemukan jawaban.
Karena itu, ia mendorong adanya perubahan pola pikir atau growth mindset dalam pembelajaran sains. Anak perlu diberikan pemahaman sejak dini bahwa sains bukan bidang yang sulit dan bukan pula sesuatu yang hanya dapat dipelajari dengan bantuan peralatan laboratorium.
“Sehingga mindset itu kita ubah dengan sains itu mudah, artinya semua orang bisa menjadi saintis, kemudian sains itu murah, tidak harus membeli peralatan lab yang miliaran. Tetapi bisa dari keseharian di mana anak-anak itu bisa menemukan banyak hal di lingkungan sekitarnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menekankan bahwa pembelajaran STEM di tingkat PAUD harus dikemas dengan cara yang menyenangkan dan memberikan pengalaman bermakna bagi anak. Proses belajar diharapkan tidak berhenti pada pemberian pengetahuan, tetapi juga mendorong anak aktif mengeksplorasi lingkungan.
Anak, lanjutnya, perlu dibiasakan untuk mengamati berbagai hal di sekitarnya, mengajukan pertanyaan, melakukan percobaan sederhana, serta menemukan sesuatu melalui pengalaman mereka sendiri.
“Yang ini belum ketemu bahasa Indonesianya, sehingga saya masih pakai bahasa aslinya mindful dan meaningful,” ujar Abdul Mu’ti.
Melalui peluncuran Program STEM Nasional tersebut, Kemendikdasmen berharap pembelajaran sains, teknologi, enjinering, dan matematika dapat semakin dekat dengan dunia anak. Dengan demikian, STEM tidak dipandang sebagai pembelajaran yang mahal dan rumit, melainkan sebagai proses belajar yang dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar. (AS/YM)






