Kudus, isknews.com – Adanya keluhan dari orangtua siswa terkait menu roti pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus untuk meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih selektif dalam bekerja sama dengan UMKM penyedia makanan. Permintaan ini disampaikan setelah muncul dugaan bahwa salah satu roti menu kering MBG tidak layak konsumsi.
Keluhan itu bermula ketika seorang orangtua murid menemukan kondisi roti yang dibawa pulang anaknya tampak tidak normal. Sang anak sebelumnya mengaku roti jatah MBG terasa tidak enak dan mirip makanan basi sehingga tidak dihabiskan. Ketika diperiksa, bagian dalam roti tampak menggelap cenderung hijau seperti berjamur serta mengeluarkan bau tidak sedap.
Orangtua tersebut juga mencicipi sedikit bagian roti dan merasakan rasa pahit yang memperkuat dugaan bahwa roti tersebut tidak layak konsumsi. Ia kemudian meminta penjelasan dari pihak SPPG melalui sekolah, namun jawaban yang diterima belum memberikan kejelasan.
Tidak ingin masalah ini dibiarkan, orangtua itu langsung membawa sisa roti ke Dinas Kesehatan Kudus di hari yang sama. Sampel roti tersebut kemudian diperiksa di laboratorium milik Labkesda untuk memastikan apakah terdapat kandungan bakteri berbahaya.
Ia berharap pemeriksaan laboratorium dapat memberi kepastian roti menu kering MBG terkait supaya ada perbaikan ke depannya.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kudus, Nuryanto, menyampaikan bahwa hasil laboratorium menunjukkan kadar bakteri dalam roti tersebut masih dalam batas aman sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Meski begitu, pihaknya tetap meminta SPPG memperbaiki proses kerja sama dengan UMKM.
“Kami sudah klarifikasi dengan SPPG. Kami mengimbau agar lebih selektif dan menggandeng UMKM yang lebih siap dan aman,” ujarnya.
Koordinator Ketua SPPG se-Kabupaten Kudus, Febria Setyaningrum, menyampaikan bahwa pihaknya langsung berkomunikasi dengan Dinas Kesehatan, SPPG terkait, serta orang tua siswa untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Ia menekankan pentingnya pemilihan bahan baku yang lebih tahan lama serta peningkatan standar operasional dalam proses produksi.
Menurutnya, SPPG selalu terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat. Evaluasi menjadi langkah penting untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga dan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Kami tidak menolak kritik. Justru semua masukan harus diterima untuk perbaikan bersama,” tegas Febria.(AS/YM)






