KUDUS, ISKNEWS.COM – Nilai kemanusiaan mulai ditanamkan SD 2 Adiwarno, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, melalui aksi nyata membantu sesama. Sebanyak 76 siswa sekolah tersebut ikut menggalang donasi untuk masyarakat yang menjadi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dari kegiatan sosial tersebut, terkumpul dana sebesar Rp376.000. Bantuan itu nantinya disalurkan melalui PGRI Kabupaten Kudus untuk kemudian diteruskan kepada masyarakat di wilayah NTT yang terdampak bencana.
Aksi pengumpulan donasi dikoordinasikan oleh Ani Marini, S.Pd., bersama Plt. Kepala SD 2 Adiwarno, Eko Mardiana, S.Pd.SD. Kegiatan tersebut sekaligus dimanfaatkan sekolah sebagai sarana pembelajaran di luar kelas bagi para siswa.
Bagi pihak sekolah, keberhasilan kegiatan tidak diukur dari besarnya uang yang terkumpul. Hal yang lebih penting adalah munculnya kesadaran siswa untuk berbagi dan menunjukkan kepedulian kepada orang lain yang tengah menghadapi kesulitan.
Plt. Kepala SD 2 Adiwarno, Eko Mardiana, mengatakan aksi tersebut menjadi salah satu cara sekolah memperkenalkan nilai kemanusiaan kepada siswa melalui pengalaman secara langsung.
Menurutnya, anak-anak perlu memahami bahwa kepedulian tidak cukup hanya diwujudkan melalui rasa iba. Ketika memiliki kesempatan dan kemampuan, kepedulian tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk bantuan sederhana.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa saat ada saudara yang terkena musibah, kita bisa melakukan sesuatu untuk membantu. Tidak harus dengan jumlah yang besar, tetapi sesuai kemampuan dan dilakukan dengan ikhlas. Dari sini kami menanamkan empati, kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Eko menilai pembentukan karakter siswa akan lebih efektif ketika nilai-nilai tersebut tidak hanya disampaikan melalui pelajaran di ruang kelas. Pengalaman terlibat langsung dalam kegiatan sosial dapat membantu siswa memahami arti berbagi dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyebut nominal donasi yang berhasil dikumpulkan memang tidak besar. Namun, proses ketika siswa menyisihkan sebagian uang yang dimiliki untuk membantu korban bencana memiliki makna tersendiri dalam pendidikan karakter.
“Yang kami lihat bukan besar kecilnya nominal. Ketulusan anak-anak dalam menyisihkan apa yang mereka punya justru menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Kami berharap kebiasaan untuk peduli dan berbagi ini dapat terbawa sampai mereka dewasa,” katanya.
Sementara itu, Koordinator penggalangan donasi, Ani Marini, S.Pd., menjelaskan bahwa keikutsertaan siswa dalam kegiatan tersebut sepenuhnya dilakukan secara sukarela. Setiap anak diberikan kesempatan untuk memberikan bantuan berdasarkan kemampuan masing-masing.
Ani mengatakan pihak sekolah sengaja tidak menetapkan besaran sumbangan. Menurutnya, tujuan utama kegiatan adalah memberikan pemahaman kepada siswa bahwa membantu sesama dapat dimulai dari hal kecil.
“Kami mengajak anak-anak menyisihkan sebagian yang mereka miliki untuk membantu saudara-saudara yang sedang mengalami musibah. Kami tidak melihat nominalnya, tetapi lebih kepada ketulusan dan kepedulian yang mereka tunjukkan,” tuturnya.
Menurut Ani, kegiatan tersebut juga memperlihatkan kepada siswa bahwa kepedulian akan memiliki dampak lebih besar ketika dilakukan secara bersama-sama. Sumbangan yang diberikan secara sederhana oleh banyak orang dapat terkumpul menjadi bantuan yang lebih bermanfaat.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat mengubah cara pandang siswa mengenai kegiatan berbagi. Anak-anak diharapkan memahami bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak berbuat baik kepada orang lain.
“Anak-anak belajar bahwa untuk membantu tidak perlu menunggu mempunyai banyak. Apa yang mereka punya dan sesuai kemampuan masing-masing sudah cukup untuk menunjukkan kepedulian kepada orang lain,” jelasnya.
Donasi tersebut dikumpulkan sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat NTT yang terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Berdasarkan informasi BMKG, gempa berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT, yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
Bencana tersebut menimbulkan dampak besar di sejumlah wilayah Pulau Flores. Hingga 21 Agustus 2026, BNPB mencatat 83 orang meninggal dunia dan 986 orang mengalami luka-luka. Selain itu, lebih dari 110.785 warga terpaksa mengungsi akibat bencana tersebut.
Kerusakan juga terjadi pada puluhan ribu rumah. BNPB mencatat sebanyak 45.006 unit rumah terdampak, sementara sektor pendidikan turut mengalami kerusakan dengan 1.378 sekolah, 177.678 siswa, dan 21.166 guru terdampak.
Sebanyak 5.521 ruang kelas juga dilaporkan mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan bantuan bagi masyarakat dan fasilitas publik di wilayah terdampak masih cukup besar.
Pemerintah bersama berbagai pihak terus melakukan upaya penanganan dan pendistribusian bantuan. BNPB memanfaatkan Labuan Bajo dan Maumere sebagai lokasi distribusi logistik sebelum bantuan dikirimkan ke sejumlah daerah terdampak di Pulau Flores.
Pada 21 Agustus 2026, total 65 ton bantuan dikirim melalui dua titik tersebut. Sebanyak 20 ton bantuan diarahkan menuju Maumere, sedangkan 45 ton lainnya dikirim ke Labuan Bajo.
Bantuan yang dihimpun siswa SD 2 Adiwarno nantinya menjadi bagian dari solidaritas masyarakat untuk membantu warga NTT yang terdampak gempa. Penyaluran melalui PGRI Kabupaten Kudus diharapkan dapat membuat bantuan tersebut sampai kepada pihak yang membutuhkan.
Eko menambahkan, kegiatan sosial seperti ini menjadi bagian dari upaya sekolah membentuk karakter siswa secara utuh. Pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan anak yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.
“Harapan kami anak-anak mendapatkan pengalaman bahwa hidup bersama membutuhkan kepedulian dan kemauan untuk saling membantu. Semoga donasi yang disalurkan melalui PGRI Kabupaten Kudus dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang terdampak gempa di NTT,” pungkas Eko. (AS/YM)






