JPPA Catat 32 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan Terjadi di Kudus Tahun Ini

oleh -1,130 kali dibaca
Ilustrasi kekerasan anak dan perempuan (YM)

Kudus, isknews.com – Meski tak disebutkannya secara detail, Ketua Yayasan Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kabupaten Kudus, Endang Kursistiyani menyebut, setidaknya ada 32 kasus kekerasan pada perempuan dan anak dalam setahunnya.

Menurutnya data detail tersebut tak dirilisnya secara by name by adress mengingat secara regulasi yang ada identitas anak wajib pihaknya  lindungi dari publikasi media.

Sejumlah kasus kekerasan tersebut, kata Endang, merupakan kasus perempuan dan anak yang sudah terlaporkan ke JPPA Kudus. Belum termasuk, kasus-kasus yang masih terpendam dan belum terlaporkan ke pihaknya.

“Karena ada yang malu jadinya tidak berani melapor,” ujar Endang saat di temui di kediamannya, Selasa (10/10/2023).

Menurutnya, kasus kekerasan pada perempuan dan anak masih menjadi PR (pekerjaan rumah) yang harus ditangani oleh semua pihak. Baik itu oleh pihak keluarga, kelembagaan, kedinasan, pemerintah, dan masyarakat.

“Banyak pihak yang harus bertanggung jawab untuk menangani itu. Lingkungan rumah, lingkungan sekolah, pemerintah dan semuanya itu harus terlibat,” katanya.

Ini mengingat bahwa sejumlah kasus kekeran pada perempuan dan anak bahkan terjadi di lingkungan atau tempat yang tidak terduga. Endang mencontohkan, ada kekerasan seksual yang terjadi di tempat kos-kosan.

Dimana, korban adalah seorang anak yang hidup bebas atau terlantar. Korban berkenalan dengan seorang laki-laki yang membawanya ke kos-kosan untuk melakukan persetubuhan hingga korban hamil.

“Korban sampai melahirkan di rumah sakit, dan anaknya lahir dengan kondisi meninggal. Dan perlu diketahui, kos-kosan juga ternyata ditemukan pengaman (untuk bersetubuh) banyak,” tambahnya.

Endang menambahkan, munculnya anak-anak terlantar yang ada di Kudus disebabkan oleh beberapa faktor. Kebanyakan oleh kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu. Lalu, kenyamanan yang tidak didapatkan di rumah.

“Ada yang ibunya meninggal, terus orangtua menikah lagi, dan anak itu dilecehkan oleh ayah tirinya sendiri itu. Dan ada yang tidak berani lapor itu korban, karena mungkin malu atau takut,” tuturnya.

Oleh sebab itu, pihaknya meminta agar semua pihak bisa bersinergi dalam menangani kekerasan pada perempuan dan anak di Kabupaten Kudus. Termasuk, di lingkungan pendidikan dengan penerapan Sekolah Ramah Anak. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.