Ansor Gebog Jaring Peran Kiai Muda di Era Disrupsi

oleh -242 Dilihat
Silaturrahim antar Gus dan Kiai Muda se Kacamatan Gebog di Ponpes Yanabiul Qur’an Karangmalang, Gebog, Kudus (Foto: istimewa/Falah)

Kudus,m isknews.com – Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Kecamatan Gebog Kudus, mengadakan forum silaturrahim antar Gus dan Kiai Muda se Kacamatan Gebog bertempat di Ponpes Yanabiul Qur’an Karangmalang. Acara dihadiri oleh Habib Husein Al Jufri, KH. Saadudin Nasih, KH. Khafidzul Umam (Rois Syuriah PCINU Sudan), Jumat (22/07/2022).

Ketua MDS Moh. Anwar Yasfin Menjelaskan harapannya para Gawagis dan Kiai Muda berani menjawab tantangan dan memaksimalkan peluang di era Disrupsi atau era perubahan besar-besaran yang secara fundamental mengubah sejumlah sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru lewat Ansor Gebog.

Senada, ketua GP Ansor Kecamatan Gebog Nailash Shofa menyampaikan bahwa, sebelumnya pihaknya telah melaksanakan kajian tentang Metaverse, untuk menyiapkan kader.

“Termasuk melalui MDS ini, berdakwah Islam ala Ahlissunnah wal Jamaah An Nahdliyyah di semua media terlebih media online, sudah saatnya kita berdakwah lewat media sosial,” kata Shofa.

Khafidzul Umam yang juga Rois Syuriah PCINU Sudan kebetulan sedang pulang kampung di Indonesia dan merupakan Warga Klumpit Kecamatan Gebog Menyampaikan Bahwa . Kiai zaman dulu itu orang yg alim, bijaksana, wira’i dan sifat-sifat baik yg menempel padanya.

“Adapun Kiai sekarang adalah seseorang yg ingin dipanggil kiai,” kata dia.

Ia juga menjelaskan pengalaman mencari ilmu di Sudan, Dengan lantangnnya menyebutkan Berbahagialah kita di Indonesia, ada Nahdlatul Ulama yg mengawal nilai-nilai toleransi dan kebangsaan Jangan terkecoh slogan islami dari kelompok – kelompok tidak jelas.

“Cintai NU lahir dan batin, jangan mau enaknya saja tapi kalau gak enak ditinggalkan,” ujarnya.

Sedangkan KH Sa’aduddin Annasih menjelaskan sebuah kajian ilmu yakni ilmu Akal menurut Ibnu Khaldun, dijelaskan bahwa ada 3 kategori yakni, Akal tamyizi atau pembeda dimana anak kecil belum bisa membedakan antara coklat dan kotoran ayam. Akal tajribi atau empiris, berdasarkan pengalaman, misal naik gunung.

“Ketiga adalah akal nadhori atau teoritis, gunung itu indah, perubahan adalah sunnatullah, Bagaimana agama bisa dikaji tanpa riwayat dan dirayat. Merespon perubahan dengan menggunakan akal dan semua disiplin ilmu. Inna fi aqdamikum amrol ummati, wafi aqdamikum hayatuha,” tuturnya.

Dia berharap semua lini para kader sesuai bidang keahliannya terlebih untuk para gawagis dan kiai muda agar selalu semangat berjihad fi medsos. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.