Antisipasi Radikalisme, Hartopo : Waspada Tentang Paham yang Ajarkan Kekerasan 

oleh -126 kali dibaca
Dok. Diskominfo Kudus

Kudus, isknews.com – Sosialisasi peran santri dalam antisipasi radikalisme terus digencarkan Pemkab Kudus melalui Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Kali ini, giliran pondok pesantren El-Fath El-Islami, Ngembalrejo Bae Kudus, Kamis (10/3/2022) malam. Acara tersebut dihadiri Bupati Kudus H.M. Hartopo, Kepala Kesbangpol, Kasi Intel Kodim 0722/Kudus, dan para alim ulama. 

Hartopo mengatakan bahwa radikalisme sendiri cenderung mengajarkan tentang hal kekerasan dalam organisasinya untuk suatu capaian tujuan tertentu. 
“Waspada, paham radikalisme identik dengan kekerasan. Di Indonesia sendiri sudah banyak contohnya seperti bom bali, dan bom-bom lainya,” katanya. 

Menurutnya, Radikalisme muncul dan mulai berkembang di eropa abad ke-18. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. 
“Diantara lain karena adanya ketimpangan ekonomi, politik, sosial, lingkungan dan pengaruh lainya yang menyebabkan radikalisme,” terangnya. 

Pihaknya juga menerangkan tentang ciri-ciri perilaku yang harus diwaspadai terkait radikalisme di Indonesia. Pasti selalu bertentangan dengan ideologi pancasila yang menyebabkan terpecah belahnya bangsa dan negara. 
“Santri harus waspada dengan kedok-kedok paham radikalisme yang masih beredar. Apalagi di era digitalisasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Maka dari itu harus waspada dan jangan terlena dengan penggunaan medsos,” ujarnya. 

Pihaknya berharap para santri tidak termakan berita hoax dan dapat menyaring segala informasi yang diterima baik di media sosial maupun pemberitaan lainya. 
“Saya harap para santri bisa selektif dalam menerima informasi atau berita yang beredar. Pastikan kebenaran berita yang diterima. Karena sebuah informasi berita dapat mempengaruhi mindsite seseorang,” pesanya. 

Sementara itu, Kasi intel Kodim 0722/Kudus Adi Agung Prakosa menambahkan, Radikalisme yang berkembang di Indonesia menurut bahasa dari kesatuan TNI memiliki 3 macamnya. 
“Dalam bahasa kami, Radikalisme dikelompokkan menjadi 3. Pertama, Radikal kanan berkaitan dengan keyakinan atau agama, serta ideologi yang menyesatkan. Yang kedua, Radikal kiri yang berkaitan dengan terorisme, biasanya melakukan aksi ekstrim seperti pengeboman. Terakhir, Radikal lainya berkaitan dengan kegiatan organisasi kemasyarakatan yang merugikan,” jelasnya. 

Ditambahkanya, Untuk radikal lainya biasanya menyangkut suatu ormas yang bertindak anarkis terhadap suatu kelompok (ormas) lainya yang berbeda pendapat dengan kelompok tersebut. 
“Biasanya mereka cenderung anarkis terhadap kelompok atau perseorangan yang berbeda pendapat denganya. Merasa dirinya dan kelompoknya yang paling benar dan selalu mengkoreksi hal yang bertentangan dengan kelompoknya,” paparnya. 

Oleh karena itu, Adi Agung berpesan agar para santri dapat berhati-hati dalam ikut sebuah organisasi yang ada di masyarakat. 
“Harus bisa memilah dan memilih terhadap suatu organisasi yang ada di masyarakat, pahami dan selalu waspada,” pungkasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :