Aquino : Belajar Dari Kisah Film Ini, Film Religi Inspiratif

oleh -1,113 kali dibaca

12642945_1670886813173146_3354291721568620740_nSurakarta, isknews.com – (28/1) – Nonton bareng Film Ketika Mas Gagah Pergi di Cinema 21, Solo Grand Mall yang dihadiri oleh pemain film ini yaitu Ali Syakieb dan Aquino Umar(Gita) . Kehadiran kedua pemain film tersebut disambut antusias oleh penonton Film Ketika Mas Gagah Pergi. Penonton sekaligus penggemar  dari pemain-pemain Film Ketika Mas Gagah Pegi, mereka langsung menyerbu untuk berfoto bersama. Film tersebut tayang perdana pada 21 Januari 2016 kemarin. Dan Film bergenre religi ini berbeda dengan film religi lainnya. Banyak pesan inspiratif yang disampaikan dalam tayangan film ini.

 

Film tersebut diambil dari cerpen yang terbit pada tahun 1993 dan dibukukan menjadi novel yang diterbitkan pada tahun 2011. Cerita karya Mahasiswa UI ini berhasil membuat banyak orang yang membacanya tertarik dan belajar banyak dari kisah yang disampaikan. Dan akhirnya cerita itu diangkat menjadi sebuah film religius yang nantinya diharapkan bisa mengispiratif banyak orang seperti novel yang sudah diterbitkan, ungkap pemeran Gita dalam film ini saat jumpa pers di Solo Grand Mall, Kamis (28/1).

 

Meskipun film tersebut bergenre religi tetapi cerita dari film ini tidak jauh dari kesan komedian. Film ini mengangkat cerita tentang seorang lelaki yang bernama  Mas Gagah, Mas Gagah adalah seorang mahasiswa Teknik Sipil semester akhir. Pada suatu hari, Mas Gagah harus pergi ke Ternate selama 2 bulan unuk melakuka penelitian skripsi. Setelah Mas Gagah pulang ke Jakarta, Ibu dan adinya yang bernama Gita terkejut oleh perubahan yang dialami oleh Mas Gagah. Mas Gagah berubah menjadi seorang lelaki yang religius dan taat beragama. Dengan adanya perubahan Mas Gagah ini, Gita merasa Mas Gagah berubah dan tidak memperhatikan Gita lagi. Perubahan sikap Mas Gagah membuat Gita merasa tidak nyaman.

 

Salah satu pemain Film Ketika Mas Gagah Pergi, yaitu Ali Syakieb saat diwawancarai isknews.com mengatakan “Pesan yan dapat diambil dari film tersebut adalah Hidayah itu tdak dapat diduga.”  Dan mengatakan bahwa “ film ini beda dengan yang lain karena lebih mudah masuk ke anak muda  karena cara mengemas cerita disesuaikan agar bisa mudah dimengerti semua kalangan” katanya.

 

Sebagian besar keuntungan yang diambil dari hasil karya film tersebut akan disumbangkan ke Palestina dan Ternate. Sebelum film tersebut dirilis, mereka juga sudah menyumbang ke Palestina dalam bentuk Laboraturium Bahasa, dan yang di Ternate, sudah ada sumbangan bangku sekolah di daerah pesisir pantai Ternate. “Ini merupakan bentuk kepedulian kita kepada Negara yang memang benar – benar membutuhkan uluran tangan kita. Bukan hanya menyumbang materi tapi dengan karya kita dapat menunjukkan kepedulian kita terhadap Palestina” tambah .

 

Dipilihnya Ternate karena, daerah yang berad dipinggiran ini belum terlalu diperhatikan, sekolah dan sarana prasarana bisa dibilang tidak layak, padahal semangat anak – anak disana sangat besar, jadi kami memutuskan untuk membantu mereka, dan Palestina adalah Negara yang sangat perlu diperhatikan umat muslim di dunia, karena mereka disana berjuang untuk bertahan hidup, jadi mereka memang membutuhkan baik itu sarana untuk belajar atau bertahan hidup disana, kata Aquino.

 

Para pemain film ini telah melalukan karantina selama 3 bulan untuk meningkatkan kualitas akting  Dan perjalanan akting mereka berjalan selama 1.5 bulan. Aquino Umar(Gita) yang  berperan sebagai cewek tomboy harus mendalami perannya. Jadi selama 3 bulan dikarantina dia harus benar-benar belajar untuk menjadi cewek tomboy.  Aquino Umar(Gita) mengaku “selepas shooting saya menjadi tomboy dan lebih tahu tentang agama islam , dan ternyata islam itu tidak kaku, damai, dan mau merangkul sesama kearah yang lebih baik” katanya.

 

Annisa Salsabela

Editor: Amalia Zulfana

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :